Sincerity

Sincerity
PJ



...✧༝┉┉┉┉┉˚*❋ ❋ ❋*˚┉┉┉┉┉༝✧...


"Iya, cewek gua sakit beneran, kalau Lo gak ikhlas jenguk, mending pergi aja," bukan Helena yang menjawab, melainkan Xylon yang menjawabnya dengan menekankan kata 'cewek gua' agar mereka semua tahu jika dirinya dan Helena sudah resmi berpacaran.


"What???"


"Cewek lu???"


Semua orang yang berada di kamar Helena terkejut mendengarnya.


"Ssssttt!! dari tadi berisik mulu, ini kan lagi di rumah sakit!" ujar Helena mengingatkan.


"Sorry, gua kaget dan gak nyangka aje si Xylon akhirnya punya pacar, sejarah nih Lo cewek pertama yang bisa dapetin Xylon sih Hel," ucap Kenzie pada Helena.


"Lebih tepatnya, pertama dan terakhir!" ujar Xylon penuh penekanan.


"Iya iya, terserah lu. Intinya selamat buat kalian berdua!"


"Thanks," ucap Xylon dan Helena.


"Fix nih kalian jadian? kalau gitu PJnya dong," desak Vio yang meminta pajak jadian pada pasangan baru itu.


"Au nih, pokoknya gue gak mau tau, harus ada PJ!" seru Natasya menimpali ucapan Vio.


"Ogah," tolak Helena.


"Dih, pelit Lo!" cetus Natasya.


"Tasya sama Vio bener, Lo pada kan banyak duit, masa kasih PJ aja gak mampu. gak bangkrut kan?" seru Galang.


"Ck, ya gaklah! Lo sendiri kayak orang kurang mampu maksa minta PJ," ketus Xylon.


"Bukan gak mampu, tapi namanya juga PJ dari temen tuh feel-nya beda," tukas Natasya.


"Hm... tunggu Helena sembuh dulu," Xylon pun akhirnya menyetujui permintaan mereka dengan catatan, harus menunggu Helena sembuh terlebih dahulu.


Semua orang bergembira mendengarnya.


"Pacar perhatian guys!!!" goda Eric pada Xylon yang diakhiri tawanya.


"Iyalah, emang Lo gak ada yang mau," ketus Xylon.


"Lah, nyolot. Tapi gapapa, untung mau dikasih PJ"


"Yaudah Hel, gua Do'a in biar lu cepet sembuh," ucap Galang mendo'akan


"Dih, Do'a in cuma ada maunya doang," cibir Vio.


"Napa sih bocil, komen aja"


Vio mendengus kesal, memang benar ucapan Galang. Jika dibandingkan mereka, umur Vio lah yang paling muda karena ia baru berusia 15 tahun.


Galang tertawa melihat Vio yang tak bisa menjawab apa-apa.


"Ih yang penting pikirannya dewasa dan gak childish," cetus Helena membela sahabatnya itu.


"Aaaaaaa maacih Hel-hel!!!" Vio langsung memeluk Helena dari samping.


"Iya..." jawab Helena sembari tertawa kecil.


Setelah itu, merekapun berbincang-bincang diiringi candaan dan tentu saja Helena merasa terhibur dan sangat bahagia. Ia juga merasa jika dirinya sudah sehat saat ini.


Sementara Xylon, ia hanya mendengarkan candaan mereka. Tidak ada satu tawa pun yang keluar dari mulutnya, Xylon terus saja memasang wajah datarnya itu. Ia masih kesal karena waktu dengan Helenanya terganggu.


10 menit kemudian, pintu kembali terbuka dan menampakkan sosok Adelard.


"Helena, maaf Papi lama," ujar Adelard yang merasa bersalah meninggalkan putrinya 2 jam lebih karena pekerjaannya.


"It's oke Papi, ada temen-temen aku kok jadi aku gak sepi," sahut Helena.


"Tetep aja, oh iya makasih Xylon udah jagain Helena," Adelard berterimakasih pada Xylon karena sudah menemani dan menjaga putrinya.


Xylon pun tersenyum menjawabnya.


"Jadi Xylon udah dari kemarin nemenin Helena, Om?" tanya Galang pada Adelard.


"Iya," jawab Adelard disertai anggukan.


"Wow, mau jadi pacar yang baik dan terpuji, hahahahaha,"


"Maksudnya?" Adelard tidak paham dengan ucapan Galang.


"Mereka jadian, Om," ucap Vio mewakili Galang yang diangguki pria itu.


"Huh? dari kapan?"


Adelard beralih menatap Helena dan Xylon bergantian.


"Hari ini," jawab Xylon.


"Serius?" tanya Adelard memastikan dan Xylon hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Beneran nih?" Adelard terus memastikannya.


"Iya Papiku tersayang, tercinta, tertampan dan termapan. masih gak percaya?" kini, giliran Helena yang menyahut sekaligus mengatakan kalimat kesayangannya ketika sedang membujuk atau meminta sesuatu pada Adelard, dan sekarang ia gunakan agar Adelard memercayainya.


"Oke oke, percaya. Tapi Mami udah tau?" ujar Adelard yang akhirnya percaya.


"Belum, orang baru banget kok jadiannya," sahut Helena.


Adelard manggut-manggut.


"Pokoknya kalau emang kalian beneran pacaran, Papi minta sewajarnya. Papi sih percaya sama kalian, tapi namanya orang tuakan harus nasehatin," tuturnya.


"Iya Pi..." sahut Helena.


"Om gak minta PJ?" ujar Kenzie.


"Pajak jadian Pi," kata Helena memberitahu.


"Oh... Enggak, lagian buat apaan"


"Tau nih mereka, maksa minta PJ"


"Yaudah Papi ke kamar Shelly ya? inget, jangan berisik! ini di rumah sakit," ujar Adelard yang pamit ke kamar Shelly karena tidak ingin menganggu obrolan Helena dan teman-temannya.


"Siap Om!" sahut mereka serempak.


Setelah Adelard pergi, Helena dan yang lainnya pun melanjutkan obrolan receh mereka.


di sisi lain


Seorang pria yang berada di dalam sebuah ruangan tengah menghancurkan setiap barang yang berada di dekatnya.


"Kurangajar"


"ANJ*NG"


"B*NGS*T"


Pria itu terus-menerus mengucapkan kata-kata kasar setiap ia menghancurkan barang-barang tersebut.


"Stop Rasya!!!" seru seorang wanita bernama Carine.


Rasya yang mendengar itu langsung menghampiri Carine dan mencengkeram lengan Carine kuat.


"Tante tau sendirikan keadaan Alden? kita ini lagi diawasin sama orang-orangnya Xylon!!!" bentak Rasya.


"Awh... Lepas!" pekik Carine kesakitan dan langsung menghempaskan tangan Rasya.


"Kurangajar ya kamu sama Tante?" ujarnya.


Rasya membuang wajahnya kesal.


"Kamu tenang dulu Rasya, Tante punya rencana!"


"Rencana apa? semua rencana kita gak akan berhasil!" ucap Rasya.


"Ya makanya kamu dengerin dulu," sentak Carine.


"Hm," Rasya hanya berdehem menjawabnya.


"Minggu depan ada pesta untuk para pengusaha ternama dan mas Roy diundang, nanti Tante bakal ajak kamu ke sana dan pastinya Helena dan Xylon juga ada disana, jadi kamu..."


Carine mulai menjelaskan tentang rencananya pada Rasya. Pria itupun mendengarkan rencana sang Tante dengan baik dan ia pun menyetujuinya.


...****************...


dua hari kemudian, Helena sudah di perbolehkan pulang. Sementara Shelly sudah pulang terlebih dahulu sehari sebelum Helena pulang.


"Ih kayak habis lahiran aja, di rumah sakit lama banget," gerutu Helena yang sedang dalam perjalanan di mobil Xylon.


Xylon tertawa mendengarnya.


Semenjak menjadi kekasih Helena, Xylon terus menemani Helena dan pergi ke kantor hanya 5 jam, itupun hanya sehari saat pekerjaannya benar-benar sedang mendesak.


Sebenarnya sebelum berpacaran dengan Helena pun, Xylon selalu peduli dan menyayangi gadis itu.


"Kok ketawa sih? ini gara-gara kamu lho ya aku disuruh lama di sana," ucap Helena yang merasa kesal.


"Itu gak lama sayang, lagian kamu pengen cepet sembuh kan?"  ujar Xylon.


"Hm... iya"


Tak lama mereka pun sampai dan Helena merasa aneh karena Xylon malah membawanya ke tempat yang terdapat sebuah pesawat disana.


"Kok kita ke sini? terus ini pesawat siapa?" tanya Helena.


"Akulah," jawab Xylon dengan senyuman.


"Ayo," sambungnya yang mengajak Helena turun dari mobil.


Seorang bodyguard membukakan pintu mobil Xylon dari luar dan Xylon pun turun dari mobilnya dengan menggandeng Helena.


Terlihat beberapa bodyguard berbaris menyambut kedatangan mereka. Xylon dan Helena pun berjalan di tengah-tengah mereka menuju pesawat pribadi milik Xylon diikuti beberapa bodyguard.


Helena merasa sedikit gugup dan malu, meskipun ia sudah terbiasa dengan semua ini, Tapi kali ini rasanya berbeda. Karena sekarang ia berjalan bersama kekasihnya yang membuat suasana menjadi berbeda.


'Baru jadi pacar Xylon Rodriguez aja udah diginiin, apalagi jadi istrinya' ucap Helena dalam hati.


Saat memasuki pesawat pribadi Xylon, Helena dikejutkan dengan keberadaan teman-temannya disana.


"Surprise!!!!" seru Asyulo alias gengnya Helena.


"Heh, Lo pada disini? ya ampun..."


Helena menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena merasa sangat senang. Kemudian, ia melirik Xylon yang berada di sampingnya itu dengan raut wajah penuh pertanyaan.


"Kamu lupa kalau kita bakal ngerayain jadian kita dan bayar PJ ke mereka?" ucap Xylon.


"Oh iya," Helena langsung teringat dengan pajak jadian yang diminta teman-temannya itu.


Bukan hanya geng mereka saja yang ikut, tetapi keluarga Xylon dan keluarga Helena juga ikut pergi.


"Mami Papi juga ikut?" ujar Helena yang melihat orangtuanya duduk dengan tenang di kursi pesawat.


"Ikutlah, Tante sama Om juga ikut," sahut Fiona yang mewakili Laura dan Adelard.


"Ihhhh semuanya ikut, Oh my Gosh!!!" heboh Helena yang merasa senang.


Xylon semakin mengeratkan rangkulannya pada Helena dan mengajak kekasihnya itu duduk.


Setelah semuanya sudah bersiap, merekapun berangkat menuju Bali.