Sincerity

Sincerity
Bertemu Greisy kembali



Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Helena terbangun dari tidurnya yang masih dalam posisi duduk di kursi belajarnya, dengan kepala yang tertidur di atas buku pelajarannya itu.


Helena yang masih setengah sadar pun langsung duduk tegak sembari mengumpulkan nyawanya.


"Aduh, leher gue," gerutu Helena yang merasakan sakit karena tidur dalam posisi kurang nyaman dalam beberapa jam.


Tok tok tok


Suara pintu kembali diketuk, Helena pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamar lalu membukanya.


"Malam, Non. Makan malamnya sudah siap!"


Rupanya, seorang asisten rumah tangga di rumah yang telah mengetuk pintu kamarnya untuk memberi tahu makan malam. Panggil saja Mbak Ratna.


"Ohh ... iya Mbak, maaf. Tadi aku ketiduran." ucap Helena sembari mengusap-usap matanya karena baru bangun tidur.


"Kalau gitu, saya permisi dulu ya, Non?" ujar Mbak Ratna.


"Eh sebentar, aku makan malam di kamar aja deh, Mbak," cegah Helena yang tengah malas untuk ke lantai bawah.


"Oke, nanti Mbak bawain makanannya ke kamar Nona Helena"


"Iya, thank you, Mbak!"


"Nggak masalah, Non!"


Setelah Mbak Ratna pergi ke lantai bawah untuk mengambilkan makan malamnya, Helena kembali masuk ke dalam kamar dan duduk sembari memainkan ponselnya.


Belum sampai 1 menit Helena bermain ponsel, tiba-tiba seseorang kembali mengetuk pintunya.


"Masuk!" seru Helena tanpa menoleh dan tetap fokus pada ponselnya.


Pintu terbuka oleh seorang wanita. Dia adalah Laura.


Laura masuk ke dalam kamar putrinya dan menghampiri Helena yang sedang bersantai-santai.


"Helena!" panggilnya.


Merasa dirinya dipanggil oleh suara yang sudah tak asing lagi, Helena pun menoleh.


"Oh, Mami. Ada apa, Mi?" tanyanya.


"Habis makan malam, Mami sama Papi mau ke New York," jawab Laura sekaligus memberitahu.


"Lho? ke New York? mau ngapain?"


"Perusahaan di sana lagi ada masalah. Terus juga, Kevin tinggal di sana udah lama dan Mami kangen sama dia. Then, Kokomu itu juga sebentar lagi mau wisuda. Jadi, Mami sama Papi mau ke sana sekalian graduation Denzel. Kamu baik-baik ya di rumah sama Cici kamu," tutur Laura menjelaskan.


"Oke, Mi!" Helena manggut-manggut seraya mengacungkan jempolnya.


"Kalau gitu, aku makan di bawah aja deh." sambungnya yang bangkit dari tempat duduk untuk makan malam bersama keluarganya di ruang makan.


Mereka berdua pun keluar dari kamar Helena menuju lantai bawah. Tiba di lantai bawah, Helena langsung mencegah Mbak Ratna yang akan mengantarkan makanannya tadi.


"Nggak usah dianter, Mbak! aku jadinya makan di bawah aja."


"Oh ... Oke deh." Mbak Ratna pun langsung menaruh makanan-makanan tersebut di atas meja makan.


Helena dan Laura langsung duduk bergabung bersama Adelard dan Shelly yang sudah ada di ruang makan.


Setelah itu, mereka pun menyantap makan malam tanpa ada yang berbicara.


"Habis ini, Papi sama Mami mau langsung berangkat ke New York. Kalian berdua baik-baik di rumah, jangan nakal selama Papi sama Mami di sana. Inget, orang-orang Papi selalu ngawasin kalian biar nggak macem-macem dan nggak ada yang macem-macem. Sebentar lagi ujian, Helena jangan banyak keluar dan fokus belajarnya, kalian paham?" tutur Adelard setelah menyelesaikan makan malamnya.


"Iya, Pi!" sahut Helena dan Shelly bersamaan.


Setiap kali Adelard dan Laura pergi ke luar negeri ataupun luar kota, Adelard selalu memberi pesan seperti itu untuk anak-anaknya yang tidak ikut bersamanya.


Memang bosan mendengarnya, tapi Shelly, Helena maupun Denzel dan Kevin, mengerti. Lagipula, mereka juga tahu jika itu semua adalah demi kebaikan mereka dan salah satu bentuk kasih sayang orangtua.


Kemudian, Adelard mengeluarkan 2 buah blackcard untuk kedua putrinya. "Nih, dipake jangan yang buat macem-macem, ya?" ujarnya sembari memberikan kartu hitam tersebut kepada Shelly dan juga Helena.


"Yes, asik!!!" sorak Shelly saat menerima kartu tersebut. Bahkan, Helena sampai mencium blackcard yang diberikan Adelard.


"Thank you, Papi!" ujar keduanya kembali bersamaan. Ya, walaupun mereka sudah memilikinya, tapi siapa yang akan menolak jika diberikan blackcard lagi?


"Ya." sahut Adelard yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua putrinya itu. Sementara Laura hanya bisa terkekeh.


Tak lama, beberapa bodyguard juga asisten Laura dan Adelard datang setelah mengurus persiapan dan menunggu kedua majikan mereka selesai bersiap.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya! sudah waktunya kita berangkat. Jet pribadi sudah siap," ujar salah satunya.


Kemudian, Adelard dan Laura bangkit dari tempat duduk diikuti oleh Helena juga Shelly yang langsung memeluk kedua orang tua mereka.


"Mami sama Papi berangkat ya, jangan pulang malem-malem kalau main. Inget kata Papi, fokus belajar, kamu harus dapet nilai bagus dan tertinggi, oke?" tutur Laura yang dijawab anggukan oleh Helena. Kemudian, Laura pun mengecup kening kedua putrinya bergantian.


Kemudian, bergantian dengan Adelard yang memeluk kedua putrinya dan mengecup pucuk kepala mereka satu-persatu.


"Oke, Papi sama Mami berangkat!" pamitnya.


"Iya, Love you Papi Mami!" ucap Shelly.


"Love you too," jawab Laura dan Adelard serempak sembari berjalan di ikuti para anak buahnya.


"Bye! take care!" seru Helena.


Setelah kepergian kedua orang tua mereka, Helena dan Shelly pun bergegas pergi ke kamar masing-masing.


Besoknya, sepulang sekolah, Helena tidak pulang terlebih dahulu. Ia justru malah mampir ke Cafe yang sudah lama tidak ia kunjungi.


Cafe itu cukup elite dengan menu cukup mahal-mahal dan hampir setara dengan menu yang ada di restoran Papi Adelard.


Saat ia masuk, matanya menangkap sosok gadis yang ia kenal tengah duduk sendiri sembari menikmati minumannya.


Helena pun tersenyum jahil dan berusaha mendekati gadis tersebut dengan perlahan.


"Boo!" seru Helena sembari menepuk bahu gadis itu agar terkejut.


Gadis itu pun tersentak kaget dan langsung menoleh untuk melihat siapa yang sudah mengejutkannya.


"Helena?" kaget gadis itu saat mengetahui siapa pelakunya.


"Hehe, Hi Greisy! how are you?" ujar Helena.


"I'm good," sahut Greisy.


"How about you?" sambungnya.


"I'm not sure. but i think ... i think i'm good," jawab Helena ambigu.


Greisy mengerutkan keningnya. Kemudian, ia menyuruh Helena untuk duduk.


Setelah Helena duduk, Greisy mulai menanyakan apa yang terjadi pada gadis itu.


"What's wrong with you?"


Bukannya menjawab, Helena malah menanyakan hal lain.


"Kamu ke mana aja? kata Xylon, kamu balik ke Amerika karena Mama kamu sakit?"


"Hm ...." jawab Greisy dengan deheman dan wajahnya sedikit tertunduk seperti tidak ingin Helena melihat kesedihannya.


"What's wrong? Mama kamu udah sembuh, kan?" Helena merasa ada yang Greisy sembunyikan darinya. Ia pun kembali bertanya saat melihat raut wajah sedih Greisy.


Greisy menggelengkan kepalanya dan menatap Helena lalu berkata, "What you heard is true. But, now she has left me. She is gone. (Apa yang kamu dengar itu benar. Tapi, sekarang dia telah meninggalkanku. Dia pergi.)"


Helena mengerti, ia pun menggenggam tangan Greisy berharap bisa memberinya kekuatan.


"I'm sorry to hear that," ucapnya.


"It's okay." sahut Greisy mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oh ya, Greisy. Kamu lagi ada kerjaan ya, di Indonesia?" tanya Helena mengalihkan topik pembicaraan.


Greisy mengangguk lalu menjawab, "Aku mau meneruskan kerja sama dengan XRueZ Group yang sempat tertunda karena aku yang harus ke Amerika waktu itu."


Helena manggut-manggut mendengarnya. Kemudian, ponsel Greisy berdering di atas meja yang memperlihatkan seseorang menelepon gadis itu.


Greisy pun mengangkat ponsel tersebut dan tak sengaja Helena melihat nama kontak yang menelepon Greisy di layar ponsel gadis itu.


"Nama yang telepon, mirip sama namanya Koko aku," ucapnya.


"Memang ini Koko kamu." jawab Greisy sembari menggeser ikon panggilan untuk mengangkat teleponnya.


"Hilih, bohong." Helena yang tidak percaya pun tidak terlalu memedulikan ucapan Greisy.


"Hi, Denzel," sapa Greisy pada orang di seberang sana dan hal itu membuat Helena terkejut.


'Eh? jadi Greisy beneran kenal sama Koko?' batin Helena.


"Good, how about you?"


"Ahahaha, no!!"


"Okay"


"Miss you"


"Hm ...."


Ntah pembicaraan apa yang Greisy dan orang tersebut bicarakan, Helena hanya menyimak kata-kata Greisy pada penelepon tersebut sembari menikmati minumannya.


"Thanks"


"I love you too"


Seketika, Helena langsung membulatkan matanya karena terkejut dengan apa yang Greisy katakan pada si penelepon yang katanya adalah Denzel, Kakak tirinya.


"Uhuk uhuk uhuk"


Bahkan, saking terkejutnya, Helena sampai tersedak dengan minumannya.


Greisy yang melihat Helena terbatuk-batuk pun langsung menaruh ponselnya di atas meja dan menghampiri Helena untuk membantu gadis itu. Namun, yang ingin dibantu malah menahan Greisy dengan tangannya agar tidak mendekati ataupun menyentuhnya.


Greisy mengerutkan keningnya. Padahal, ia hanya ingin menepuk-nepuk punggung Helena saja.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk"


"UHUK!"


Setelah dirasa batuknya sudah menghilang, Helena menatap Greisy penuh intimidasi.


"Pokoknya jelasin!" perintahnya dengan paksa.


"Jelasin apa?" tanya Greisy yang seolah-olah tidak paham maksud ucapan Helena.