
Lisa dan Darra sahabatnya menatap gedung sekolah yang menjulang tinggi di hadapan mereka. Banyak murid yang berlalu-lalang di sekitar sekolah dan ada beberapa siswa yang sedang bermain basket di halaman sekolah yang sangat luas itu. Seketika keduanya menjadi gugup, kepercayaan diri mereka hilang hanya karena melihat halaman gedung yang luas itu.
"Lis, gue kok jadi gugup gini ya? Apa kita pulang aja?" Tanya Darra. Matanya tak pernah lepas melihat gedung di depannya.
"Husshh! Lo ngomong apa sih? Kita udah berjuang mati-matian buat masuk ke sekolah ini dan Lo mau kita pulang? Jangan ngada-ngada deh Lo!" Sahut Lisa.
"Udah, sekarang kita masuk. Lo tenang aja, ada gue. Yuk!" Lisa menarik tangan Darra memasuki halaman sekolah yang akan mereka tempati nantinya.
Selama di koridor, banyak pasang mata yang menatap Lisa dan Darra sinis. Padahal jika dilihat dari penampilan keduanya, mereka berpakaian seadanya saja make up yang natural dan tidak di lebih-lebihkan, rambut yang di kuncir kuda, dan seragam yang mereka pakai masih seragam sekolah mereka yang dulu. Mungkin pernyataan yang terakhir penyebab mereka di pandang sinis seperti sekarang.
"Ehh, itu bukannya murid perpindahan pelajar dari SMA kumuh itu ya?"
"Seragamnya enggak banget sih. Nggak ada bagus-bagusnya."
"Mereka dari sekolah SMA khusus buat anak yang ekonominya pas-pasan itu kan? Kok bisa jadi murid perpindahan pelajar disini sih?"
"Jadi santapan bully Areta cs nih kayanya."
"Kok mereka nggak nolak ya jadi murid perpindahan pelajar disini?"
"Udah pasrah banget hidupnya masuk ke kandang macan."
Begitulah bisik-bisik siswa maupun siswi di sepanjang koridor sekolah. Namun baik Lisa maupun Darra tidak menanggapinya dengan berlebihan. Menjadi anak dari keluarga yang ekonominya pas-pasan seperti mereka sudah biasa diperlakukan seperti itu. Bahkan mereka sudah biasa menerima caci-maki secara langsung di sekolahnya yang dulu. Bukan karena takut, hanya saja mereka terlalu sibuk memikirkan masa depan mereka yang lebih penting dari pada mengurus orang-orang yang mencaci maki.
"Kok dari tadi ruang kepala sekolahnya nggak ketemu ya, Dar?" Tanya Lisa mulai frustasi.
"Gimana kalok kita ke lantai dua? Siapa tau ruang kepala sekolahnya ada di sana." Saran Darra.
"Okedeh." Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju lantai dua, berharap agar ruangan yang mereka cari berada di sana.
Sudah sekitar 15 menit lamanya mereka mencari ruang kepala sekolah, tetap saja mereka tidak dapat menemukan ruangan yang mereka cari. Mungkin ini resikonya jika bersekolah di sekolah yang luasnya berhektar-hektar itu.
"Gue nyerah deh Dar, capek gue. Istirahat dulu gimana?" Tanya Lisa.
Darra menggeleng pelan, "no Lisa! Lo sendiri yang nyuruh gue buat nggak ngeluh. Kenapa sekarang malah Lo yang ngeluh sih?"
"Ya abisnya gue capek." Keluh Lisa pelan.
Bukannya menjawab, mata Darra berkeliling melihat sekitarnya. Hingga pada akhirnya gadis itu melihat sekelompok pemuda sedang berbincang-bincang ria. Ia pun menarik tangan Lisa tiba-tiba yang membuat gadis itu harus menyeimbangi dirinya yang sedikit oleng karena tarikan dari sahabatnya itu.
"Permisi kak." Sapa Darra sopan.
"Siapa?" Tanya salah satu cowok dengan tampang dinginnya. Tatapannya sangat tajam hingga membuat Lisa dan Darra bergidik ngeri saat melihatnya.
"Natapnya jangan tajem-tajem gitu dong, Ro! Kasian tu anak orang jadi takut gara-gara Lo tatap begitu." Sindir cowok yang satunya lagi. Yang satu ini masih lumayan.
"Kenapa? Lo berdua murid perpindahan pelajar yang diomongin sama anak-anak ya?" Tanya cowok yang satunya lagi.
Lisa mengangguk sambil menampilkan senyumannya, "iya kak. Kita murid perpindahan pelajar. Kita mau nanya ruang kepala sekolah dimana ya?"
"Lo berdua nggak tau?" Keduanya menggeleng polos.
"Gini deh. Kita kenalan dulu gimana? Kan nggak enak kalok mau nolongin orang tapi nggak tau namanya." Ucap cowok itu sembari menampilkan senyum kotaknya.
"Dasar modus Lo, onta!"
"Diem Lo bawang Bombay! Lo sebenarnya mau kenalan juga kan sama mereka? Nggak usah sok jual mahal Lo. Tampang pas-pasan juga." Ucap Aksa tak mau kalah.
"Ehh, iya. Kenalin kak aku Darra, di sebelah aku ini namanya Lisa. Salam kenal."
"Hai Lisa, Darra! Nama gue Aksa, terus yang pendek itu namanya Delvin, yang kulitnya kayak salju itu namanya Alvaro. Nah kalok yang dari tadi main hp itu namanya Julian, buat cowok yang itu jangan dideketin." Saran Aksa.
"Kenapa kak?"
"Dia itu penyuka sesama jenis. Alias homo." Ucap Aksa berbisik dihadapan Darra dan Lisa. Namun masih saja bisa di dengar oleh ketiga sahabatnya, terutama Julian yang memandangnya tajam.
Bukannya takut Aksa malah tertawa cengengesan. Tatapan Julian tak sengaja bertemu dengan tatapan Lisa yang juga menatapnya dengan ekspresi yang lucu, membuat Julian ingin tersenyum saat itu juga. Namun ia segera memutuskan kontak matanya dan beralih pada ponsel yang ia genggam.
"Oh iya, jadi mau gue anter atau gue kasih tau aja letaknya dimana?"
"Kasih tau aja letaknya dimana kak. Kita bisa nyari sendiri kok." Sahut Lisa sopan.
Aksa mengangguk, "kalian dari sini lurus aja, sampe ketemu pertigaan lorong, belok kiri terus lurus sampe ketemu ruang OSIS. Nah dari ruang OSIS kalian jalan lurus lagi sedikit. Nanti ada ruangan yang diapit ruang guru sama ruang Wakasek. Nah itu ruang kepala sekolahnya." Jelas Aksa.
"Oke kak Aksa. Makasih ya, kita pergi dulu." Pamit Darra yang di balas anggukan oleh Aksa. Keduanya pun berjalan menjauhi keempatnya mencari ruang kepala sekolah sesuai informasi yang sudah diberikan Aksa tadi.
"Ada untungnya juga gue nongkrong di sini." Ucap Aksa senang.
"Gue kira kabar ada murid perpindahan pelajar di sini cuma hoax, ternyata beneran."
"Boleh aja, asalkan yang rambutnya panjang jangan digebet. Dia jadi sasaran gue itu!" Ucap Delvin.
"Tadi aja jual mahal Lo kayak cabe-cabean haus belaian." Sindir Aksa.
"Lo nya aja yang nggak ngasih gue kesempatan ngomong sama mereka. Ada cewek cantik dikit Lo embat juga. Dasar Playboy cap kakak!"
"Apa Lo kutil anoa! Terserah gue lah, punya muka ganteng tuh di manfaatin bukan dipamerin doang sana-sini."
"Heh Dugong asal Lo tau yaa—" pertengkaran mereka berlanjut hingga waktu yang tak bisa di tentukan.
Alvaro memilih menyumpal kedua telinganya menggunakan earphone yang ia bawa kemana-mana. Sedangkan Julian lebih memilih menulikan pendengarannya dari dua makhluk luar angkasa yang menjelma menjadi manusia itu, dan sialnya lagi keduanya adalah sahabat Julian. Jika kalian ingin mengenal ketiga sahabat dari cowok tampan itu, maka mari berkenalan dengan mereka.
Aksa Tristan Ardhani, cowok dengan tinggi badan yang menjualang tinggi, mata yang sempurna, wajah bak anime, dan senyum kotak adalah ciri khas dalam dirinya. Cowok satu ini tak kalah tampan dari sahabat-sahabatnya. Tapi jika masalah sikap jangan tanya, diantara ketiga sahabatnya Aksa lah yang paling hiperatif dan jahil. Tak jarang Delvin yang menjadi korban keisengannya dan berujung pada aksi saling membalas. Aksa juga terkenal sangat suka memacari para gadis di sekolahnya, hampir semua siswi di sekolah adalah korban rayuan palsu sang most wanted itu.
Delvin Danial Gistiadi, cowok yang satu ini punya tinggi badan yang paling pendek diantara ketiga sahabatnya, padahal jika di sandingkan dengan beberapa siswi di sekolah dirinya lebih tinggi dibandingkan mereka semua. Ia juga mempunyai pipi yang lumayan tembam untuk dijadikan mainan. Selain itu, Delvin memiliki pesonanya sendiri. Tak sedikit para gadis akan berteriak histeris hanya karena Delvin mengibaskan rambutnya kebelakang.
Adrian Alvaro Aidan, cowok yang satu ini punya sikap yang nggak jauh dari Julian. Yang membedakan adalah, jika Julian sedikit kasar dan keras kepala, maka Alvaro lebih memilih untuk diam dan menyelesaikan semua masalah dengan cara yang lebih santai. Alvaro sendiri memiliki warna kulit yang lebih putih dibandingkan ketiga sahabatnya yang lain. Satu sifat yang mendarah daging pada dirinya adalah, Alvaro orang yang sangat malas. Jika ditanya lebih memilih untuk diam di kelas tetapi bisa tidur dengan tenang atau pergi ke rooftop sekolah namun harus mendengar keributan antara Aksa dan Delvin, maka dengan senang hati Alvaro akan memilih opsi yang pertama. Jangan tanya bagaimana tingkat ketampanan cowok yang satu itu. Hanya dengan sekali senyuman saja, semua gadis yang melihatnya akan meleleh seketika.
"Terserah Lo. Gue nggak peduli! Ambil sono cewek yang mau Lo gebet! Gue bisa dapetin yang lebih cantik plus kaya dibandingkan Lo!" Ucap Delvin kesal.
"Bodo amat. Gue nggak denger, mau Lo nyari yang kaya kek, yang udah ditidurin sama om-om. Gue nggak peduli!" Ucap Aksa penuh penekanan di akhir kalimatnya.
"Udah selesai adu bacotnya?" Tanya Alvaro yang membuat Aksa dan Delvin terdiam seketika.
"Bagus. Gue ke kelas, terserah Lo bertiga mau stay disini atau ikut ke kelas juga." Alvaro berjalan menjauhi ketiganya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
Tak lama kemudian Julian juga bangkit dari duduknya dan meninggalkan Aksa dan Delvin tanpa sepatah kata apapun.
"Woy Julian, Lo mau kemana?" Teriak Delvin namun dihiraukan oleh Julian.
"Bacot Lo! Udah ikutin aja! Bentar lagi bel masuk bunyi. Mana pelajaran Pak Dodot lagi."
"Anjng! Gue lupa sat!"
🍁🍁🍁
Ruang kelas X IPA 1 kini kehadiran Murid perpindahan pelajar yang akan menjadi teman satu kelas mereka selama 1 semester kedepan. Bukannya senang, mereka malah menatap sinis kedua gadis yang kini berdiri di depan kelas dengan menampilkan senyum manisnya.
"Baik anak-anak. Pagi ini kalian kedatangan teman baru. Buat kalian berdua, silahkan perkenalkan nama kalian di depan teman-teman yang lain." Ucap Bu Sinta selaku wali kelas disana.
"Hai semua. Nama aku Lalisa Aina pratama. Kalian bisa panggil aku Lisa. Salam kenal."
"Hai aku Darra Anindya Roselani. Kalian bisa panggil aku Darra, salam kenal."
"Baik, ada yang mau bertanya sesuatu sama temen baru kalian?"
Salah satu cowok dengan rambut acak-acakan dan dua kancing baju paling atas terbuka mengangkat tangannya keatas.
"Iya Dong-wook?"
"Kalok dipanggil dekil boleh nggak buk?"
Sontak pertanyaan itu membuat semua anak yang berada di dalam kelas itu tertawa. Lisa dan Darra yang mendengar itu hanya bisa menahan kekesalan mereka dalam hati dan menampilkan senyum secara terpaksa.
"Sudah-sudah cukup! Ibu nggak pernah ngajarin kalian buat ngehina temen sekelas kalian sendiri bukan? Lain kali ibu dengar kalian ngehina atau ngejek teman sekelas kalian, ibu akan kasih hukuman siapapun itu. Dan kamu Dong-wook, kancing baju kamu! Ini sekolah, bukan pasar. Jangan kaya preman!" Semua murid yang berada di kelas hanya bisa terdiam. Tidak ada yang berani menyahut ucapan sang wali kelas.
"Buat Lisa, kamu duduk di sebelah Sofia. Dan Darra, kamu duduk di sebelah Jennie. Sofia Jennie angkat tangan kalian!" Sontak gadis yang di panggil namanya mengangkat tangannya ke atas.
Melihat itu, Lisa dan Darra berjalan menuju bangku masing-masing setelah mengucapkan terima kasih.
"Hai aku Lisa." Sapa Lisa pada teman sebangkunya. Walaupun ia sedikit ragu dengan teman sebangkunya itu. Siapa tau ia sama seperti murid lainnya, menghina dan mencaci maki dirinya. Namun, setelah mendengar sahutan dari gadis itu, Lisa bisa merasa sedikit lega.
"Hai gue Sofia. Salam kenal, gue harap kita bisa jadi temen baik."
"Kamu nggak mau jauh-jauh dari aku? Ma-maksud aku—"
Ucapan Lisa langsung dipotong oleh Sofia. "Ngejauhin kamu karena kamu miskin? Ya enggak lah. Aku nggak kaya mereka. Dan soal panggilan. Gimana kalok kita manggilnya pake lo-gue? Biar cepet akrab aja."
"Boleh."
🍁🍁🍁