
Besoknya adalah hari di mana Agnez dan juga Rasya telah sah menjadi suami istri. Acara pernikahan mereka diselenggarakan di hotel milik Roy, dan mereka hanya mengundang saudara juga teman terdekat saja. Sebab, memang pernikahan ini dirahasiakan.
Pernikahan mereka memang ada di hotel dan dekorasinya bisa dibilang cukup mewah untuk pernikahan sederhana. Roy sengaja melakukan ini karena ia pikir pernikahan Agnez dan Rasya termasuk mendadak, ia juga yakin sekali jika Agnez memiliki impian untuk acara pernikahannya. Oleh karena itu, Roy memutuskan untuk menyelenggarakan acara pernikahan keponakannya itu di hotel dengan cukup mewah.
Acara ini juga dihadirkan oleh Freddy Rodriguez selaku kepala sekolah dari Rodriguez internasional senior high school.
Helena berjalan ke arah sang Papi lalu bertanya, "Pi, Papi yakin kalau pernikahan ini nggak akan bocor?"
Roy menatap sang putri lalu tersenyum.
"Kayaknya kamu udah lupa, siapa itu Roy Jefferson?" ujarnya.
"Oh iya, aku lupa," sahut Helena.
"Kamu tenang aja, orang suruhan Papi itu banyak dan profesional semua. Jadi, pernikahan ini akan selalu dirahasiakan, sampai Rasya dan Agnez yang umbar sendiri." tutur Roy seraya membelai rambut putrinya.
"Oke." Helena manggut-manggut seraya mengacungkan jempolnya.
Sekitar pukul 1 siang, acara ini telah selesai. Kini, Agnez dan Rasya tengah berhadapan dengan Freddy untuk membahas mengenai kelanjutan sekolah mereka juga untuk kedepannya.
Kali ini, Helena tidak ingin ikut campur lagi. Jadi, biarlah mereka dan keluarga mereka yang membahas mengenai hal itu.
"Kalian nggak mau pulang?" tanya Helena pada kedua temannya yaitu Acha dan juga Yena.
"Kita ikut Lo." jawab Acha yang diangguki oleh Yena.
"Gua mau pulang, kalian mau bareng?" tanya Helena kembali. Sebab, ia juga ingin pulang karena Maminya sudah pulang terlebih dahulu.
"Nggak, supir kita udah nungguin di bawah," jawab Yena.
"Oke kalau gitu, yuk!" Helena pun mengajak kedua temannya itu untuk pergi meninggalkan tempat itu. Yena dan Acha pun menganggukkan kepalanya dan mereka berjalan beriringan.
Tapi sebelum itu, mereka menghampiri Eric yang tengah mengobrol bersama Xylon dan yang lainnya untuk berpamitan pulang.
"Kak!" panggil mereka bertiga pada Eric. Pria itupun menoleh dan bertanya, "Why?"
"Kita pulang ya," ujar Acha mewakili kedua temannya.
"Xylon, aku pulang," ucap Helena pada sang kekasih.
"Oke, ayo!" Xylon pun langsung menggandeng tangan Helena yang membuat kekasihnya itu langsung memelototinya.
"Aku sama supir aja, kamu kan lagi ngobrol sama temen-temen kamu," ucap Helena yang tidak ingin mengganggu obrolan kekasihnya.
"Nggak, aku nyimak doang." jawab Xylon santai dan langsung berjalan sembari menggandeng tangan Helena.
Yena dan Acha saling menatap dan kembali fokus ke arah depan lalu mengikuti pasangan itu untuk pergi meninggalkan hotel.
'Gini nih, tadi ngajak. Sekarang malah duluan sama cowoknya' batin Yena menatap punggung Xylon dan Helena yang berada di hadapannya itu.
'Liat aja kalau gue punya gebetan, gue pamerin melebihi Lo sama Xylon sekarang' Kini, Acha ikut menggerutu di dalam hati.
...****************...
di perjalanan, Helena tampak diam sembari menatap ke arah luar jendela, sesekali ia menghela nafasnya seperti sedang banyak pikiran.
"Kamu jangan pikirin tentang masalah orang lain terus, pikirin tuh diri kamu. Kamu jangan terlalu stress karena cari solusi buat masalah orang lain, mereka juga punya otak. Jadi, mereka bisa mikirin solusi buat masalah mereka sendiri, ya?" tutur Xylon yang sebenarnya ia tidak suka jika Helena menyusahkan dirinya sendiri hanya untuk orang lain. Meskipun ia bangga dengan sikap baik hati Helena. Namun, ia tidak suka jika Helena berlebihan dan membuat gadis itu sendiri menjadi stres hanya untuk membantu memecahkan solusi masalah orang lain.
"Bukan masalah Agnez, aku seneng dia sama Rasya udah bersatu. Walaupun, sebenernya aku masih khawatir sih sama mereka. But, i believe kalau mereka bisa nanganin masalahnya. Tapi, yang lagi aku pikirin sekarang itu tentang Papi, Ci Shelly, dan aku yang sebentar lagi mau ujian, aku takut," jelas Helena dengan raut wajah yang terlihat lesu.
"Gini lho, Hel. Masalah Papi kamu, itu biar jadi urusan beliau sama istrinya, kamu jangan malu. Lagian, keluarga aku juga nggak benci kamu. Dan sebelum kamu bahas tentang orang lain, orang lain juga akan bungkam, karena apa? mereka nggak akan berani ngejelek-jelekin seorang Helena Jefferson yang notabenenya anak sulung pengusaha ternama, Roy Jefferson. Ayah sambung kamu juga seorang Adelard Williams, dan pacar kamu itu Xylon Rodriguez. So, please don't worry dan jangan overthinking. Then, untuk masalah Shelly, Tuhan pasti udah mengatur segala yang terbaik buat Shelly, kamu berdo'a aja supaya dia dapet suami yang nerima dia apa adanya. Untuk ujian, kamu pasti bisa. Kamu itu cewek pinter, you can do it. Trust me, kamu yang rajin belajarnya dan aku janji nggak akan ajak ketemuan sebelum kamu selesain ujian kamu itu," tutur Xylon yang selalu saja membuat Helena merasa sedikit lega setelah mendengarnya.
"Iya, kamu bener. Thanks for everything," ucap Helena sembari tersenyum tulus pada Xylon.
"Nggak masalah, anything for you," jawab Xylon yang tersenyum balik pada sang kekasih.
Setelah itu, tak ada topik lagi yang mereka bicarakan, hingga akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Williams. Kemudian, Helena turun dari mobil Xylon setelah mengucapkan sampai jumpa dan terima kasih pada kekasihnya. Mobil Xylon pun masuk ke dalam rumahnya.
Saat Helena berada dalam kamar, ia pun langsung mengeluarkan bukunya untuk belajar, karena sebentar lagi akan diadakan ujian kenaikan kelas. Meskipun beberapa hari ini ia benar-benar sangat lelah. Lelah fisik dan juga pikiran. Namun, Helena terus berusaha untuk fokus dalam belajarnya. Sebab, jika ia tidak mendapatkan peringkat pertama saat ujian, Maminya tidak akan terima dan memarahinya. Nemun, Helena sudah terbiasa dengan hal itu semua. Ia juga percaya jika apa yang dilakukan sang Mami itu adalah demi masa depannya.
"Huh, kok nggak enak hati sih gue? ada apa, ya?" gumam Helena sembari menyentuh dadanya karena jantungnya yang terus berdegup kencang mengkhawatirkan sesuatu yang Helena sendiri tidak tahu apa yang dia khawatirkan. Yang pasti, ia sudah tidak mood belajar, Helena pun merebahkan dirinya dan memejamkan matanya karena kantuk yang sudah tak tertahankan.
TBC