
"Xylon, aku mau pulang!" pinta Helena.
"Hm? Pulang? oke, aku bilang Om Adelard dulu ya?" ucap Xylon.
"Iya," jawab Helena.
Xylon pun mengambil ponselnya yang ada disaku jasnya lalu menelepon Adelard.
...πππππ...
^^^"Halo Om? katanya Helena mau pulang,^^^
^^^jadi saya izin anter dia ya Om?"^^^
"Iya, Xylon. Makasih banyak ya!"
"Tolong anter dia dengan selamat,
Om sama Tante Laura sebentar lagi
pulang."
^^^"Iya om"^^^
...ππππ...
"Udahkan?" tanya Helena.
"Iya," jawab Xylon.
Kemudian, Helena hendak melangkahkan kakinya. Namun, tangan Xylon menghentikannya, sehingga Helena menatap pria itu penuh tanya.
"Sebentar." ucap Xylon sembari mendekat ke arah telinga gadis itu.
Sementara Helena, ia tidak tahu apa yang akan Xylon lakukan. Jarak diantara keduanya sangat dekat dan Helena bisa merasakan hembusan nafas pria itu di telinganya.
"Mau apa?" tanya Helena.
"Sebentar aja." jawab Xylon dengan tangan yang menyentuh anting gadis itu dan melepasnya.
"Hey! kok dilepas?" ujar Helena sembari menyentuh telinganya dan menatap kesal Xylon.
"Aku bilang sebentar dulu, Sayang. Bentar... aja. Aku gak bakal ngapa-ngapain kok, ya?" ucap Xylon meyakinkan.
Setelah itu, tangan Xylon kembali melepas anting yang ada di telinga lain Helena dengan perlahan.
Kemudian, ia menyuruh gadis itu untuk memegang anting tersebut. Helena yang bingung dan penasaran apa yang akan kekasihnya lakukan pun hanya bisa menuruti ucapan Xylon. Lalu, pria itu mengambil sesuatu di saku celananya dan mengeluarkan kotak bludru kecil berwarna biru dan membukanya. Tampak jelas sepasang anting berlian dengan design yang begitu mewah, elegan dan simpel.
Helena menatap sang kekasih yang juga menatapnya sambil tersenyum begitu manis.
"Anting... ini anting XYlina?" ujarnya tak percaya.
"Iya," sahut Xylon.
"Tapi kok-"
"Kata CEOnya, anting ini mau launching. Jadi, kamu orang pertama yang pakai anting ini." potong Xylon dan menjelaskannya pada Helena.
Perlahan, Xylon memasang anting-anting tersebut pada telinga Helena.
Setelah selesai memasang anting itu pada Helena, Xylon menatap sang kekasih yang begitu cantik memakai anting pemberiannya.
"Kok bisa?" tanya Helena yang penasaran bagaimana bisa CEO brand XYlina memberikan anting yang baru akan launching itu.
"Kamu lupa kalau CEO Xylina itu siapa dan dari keluarga mana?"
Mata Helena membulat saat mendengarnya. Ia melupakan jika Xylina adalah anak sulung keluarga Rodriguez, yang artinya adalah Kakak kandung Xylon.
"Oh iya!!!! sumpah, sumpah, sumpah... parah banget, aku lupa!!!" ucap Helena heboh dan sedikit berteriak.
Xylon hanya tersenyum melihatnya. Kemudian, ia mengeluarkan ponselnya lalu memotret Helena dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya.
Cekrek πΈ
Setelah itu, Xylon menunjukkan hasil potretannya pada sang kekasih yang nampak begitu bahagia saat ini.
"Calon istri aku cantik," puji Xylon.
Helena tersenyum malu dan memalingkan wajahnya karena salah tingkah.
"Malu ya?" goda Xylon yang melihat gadis itu menahan senyumannya dengan pipi yang memerah.
Gadis itu langsung menatap kesal Xylon dan memukuli kekasihnya.
"Kok nyebelin?!" ucapnya dengan nada tinggi dan tangannya yang masih memukul pria itu. Namun, yang dipukul hanya tertawa melihat wajah kesal Helena.
"Oke, oke. Tadi kamu bilang pengen pulang, kan?" ujar Xylon dan hanya disahuti dengan deheman oleh kekasihnya.
Kemudian, Xylon meraih tangan Helena untuk ia gandeng dan merekapun berjalan menuju parkiran untuk pergi dari hotel tersebut.
Sementara suasana dalam hotel, terlihat Carine yang sedang mencari-cari keberadaan seseorang.
"Duh, Rasya mana sih? katanya mau datang ke sini," gumamnya.
Ya, orang yang sedang ia cari dan tunggu-tunggu adalah Rasya. Saat itu, Carine pernah menyuruh Rasya untuk datang ke acara ini dan sudah merencanakan sesuatu. Namun, sampai saat ini keponakannya itu belum juga datang.
Karena sudah lama menunggu, Carine pun mencoba menelepon Rasya.
...κ§κ§...
Apartemen Rasya
Huekk
Huekk
Huekk
"Woy, Nez! Lo kenapa sih? sakit?" seru Rasya yang bertanya dari luar kamar mandi.
Semenjak pagi, Agnez terus saja muntah-muntah yang membuat Rasya tidak tega meninggalkannya. Oleh sebab itu, ia tidak datang ke acara malam ini karena ia harus menemani temannya itu.
Tak lama kemudian, Agnez keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat.
Rasya pun menghampirinya dan mengusap punggung gadis itu sembari menanyakan kondisinya.
"Are you ok?"
"Ya, don't worry. Kalau Lo mau pergi ke acara itu, pergi aja. Gua gapapa kok!" ucap Agnez meyakinkan.
"Mana bisa gua ninggalin Lo." jawab Rasya sembari menuntun gadis itu ke ranjang.
"Kayaknya Lo harus ke rumah sakit, Nez!" sambungnya yang menyarankan Agnez untuk pergi ke rumah sakit.
"Gak, gue gapapa. Gak usah buang-buang uang Lo demi gue, udah cukup Lo selalu nolongin gua." tolak Agnez.
"Ya udah istirahat!"
Rasya pun membantu Agnez untuk tiduran dan menyelimutinya layaknya sikap seorang suami ketika istrinya sedang sakit.
Drrrttt... drrrttt...
Ponsel Rasya bergetar tanda ada telepon masuk, ia pun merogoh saku celananya dan melihat layar ponsel dan ternyata Carinelah yang meneleponnya. Kemudian, Rasya segera mengangkat teleponnya tersebut.
...ππππ...
"Duh, Rasya! Tante udah nungguin
kamu daritadi, tapi kamunya
gak dateng-dateng. Kamu dimana?"
^^^"Sorry, Tan! Rasya gak kesana,^^^
^^^soalnya Agnez sakit. Gak mungkin^^^
^^^ditinggalin kan?"^^^
"Ngapain ngurus perempuan itu?
emang dia keluarga kamu?"
^^^"Bukan gitu Tante, tapi-"^^^
"Inget ya Rasya! semenjak
orang tua kamu itu meninggal,
Tante dan Kakak kamu yang udah ngurusin kamu. Kenapa giliran dia lagi dipenjara, kamu
malah gak mau bantu dia? kamu harusnya
bales semua perbuatan Helena dan
keluarganya itu!"
^^^"Stop, Tante! aku udah berubah.^^^
^^^sendiri. Dia pantes nerima hukuman^^^
^^^itu. Lagian Tante juga harusnya berubah!"^^^
^^^"Soal Agenez, dia gak tau harus^^^
^^^kemana lagi karena keluarganya^^^
^^^yang udah marah banget^^^
^^^sama dia. Jadi, tolong Tante jangan^^^
^^^ikut campur lagi dan makasih untuk semua^^^
^^^yang udah Tante lakuin buat Rasya."^^^
"Ra-"
...ππππ...
Rasya langsung mematikan teleponnya sepihak, ia kembali menaruh ponselnya di saku celana dan mengalihkan pandangannya pada Agnez yang kini tengah menatapnya.
Rasya mengangkat sebelah alisnya dengan raut wajah seolah-olah bertanya kenapa?
"Gara-gara gua... Lo berantem sama Tante Carine, kan?" ujar Agnez dengan lirih menahan tangis.
Rasya menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ini udah keputusan gua sendiri, lagian Tante Carine yang gak sadar-sadar. Biarin aja dia mau kayak gimanapun, intinya gua gak mau masuk ke dalam kejahatan lagi."
"Maaf gua selalu ngerepotin lu," ucap Agnez kembali.
Rasya menghela nafasnya dan duduk di pinggir ranjang agar bisa bicara lebih nyaman dengan Agnez lalu menatap dalam manik mata gadis itu.
"Gua maafin Lo asal besok Lo mau gua anter ke rumah sakit, gimana?" ujarnya.
"Hm... oke," sahut Agnez pasrah.
"Thanks, Sya!"
"I will always be with you." Setelah mengatakan itu, Rasya pun berdiri dan hendak keluar dari kamar Agnez. Tetapi suara gadis itu menghentikan langkahnya.
"Rasya!"
Yang dipanggil pun menengok dan bertanya, "Apa lagi?"
"Malam ini gua mau tidur sama Lo, please!" pinta Agnez.
Entah kenapa gadis itu ingin Rasya menemaninya tidur malam ini.
"Lo jangan gila, Agnez! apa Lo mau kejadian waktu itu terulang lagi, huh?" ujar Rasya dengan nada yang sedikit kesal. Pasalnya, mereka pernah melakukan hubungan terlarang saat Rasya sedang mabuk. Bukan hanya saat itu saja, sekitar dua hari yang lalu mereka melakukannya lagi karena Agnez yang mengenakan pakaian sexy dan Rasya yang sebagai pria normal pun tidak dapat menahan hasratnya.
"Ta-tapi gak tau kenapa gua pengen banget tidur bareng Lo malam ini, please Sya!" Agnez terus memohon agar Rasya mau tidur bersamanya malam ini.
"Gak Agnez! gua gak mau nantinya Lo hamil dan gua gak siap buat tanggung jawab. Lo paham, kan?" kata Rasya dengan tegas.
Agnez berpikir sejenak lalu ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap Rasya dengan serius.
"Sya! gua jadi kepikiran sama kondisi gua sekarang," ucapnya.
"Maksud Lo?" tanya Rasya yang tidak mengerti dan akhirnya memutuskan kembali mendekat pada Agnez dan meminta penjelasan pada gadis itu.
"Maksud gua... dari kemarin gua gak enak badan, mual sampai muntah-muntah, sensitif, apalagi sampai hari ini gua masih muntah-muntah. Gua pikir itu gejala kehamilan, ya gak sih?" jelas Agnez lalu meminta pendapat pria itu.
Rasya kembali berpikir dan menatap Agnez tak percaya apa yang telah diucapkan gadis itu.
"Gak mungkin. Lo jangan berpikiran yang enggak-enggak, gua yakin itu cuma sakit biasa dan bakal sembuh kalau berobat!" ujarnya yang merasa yakin jika yang dikatakan Agnez itu tidaklah benar.
"Kenapa kalau gua hamil? apa Lo gak mau tanggung jawab?" tanya Agnez dengan tatapan sendu yang membuat Rasya terdiam.
"Sya?"
"Mending sekarang Lo tidur, fokus sama kesembuhan Lo!" ucap Rasya mengalihkan pembicaraan.
"No, Rasya. Jawab dulu pertanyaan gua!" ujar Agnez yang tidak semudah itu ucapannya dialihkan.
"Agnez, Lo jangan mikirin hal-hal yang gak akan terjadi. Lo gak usah mikir kalau lo itu hamil. Jadi, gua rasa gua gak perlu jawab pertanyaan konyol lu itu!" sahut Rasya yang kemudian berlalu dari kamar Agnez.
Sementara Agnez terpaku, ia menangis karena takut jika dirinya benar-benar hamil. Agnez menangis terisak sembari memeluk kedua lututnya.
"Mama... Papa... maafin Agnez..." ucapnya disela-sela tangisan. Seketika, ia merindukan kedua orangtuanya dan Kakaknya. Ia langsung sadar betapa dirinya begitu bodoh yang tidak mengerti kasih sayang dari keluarganya selama ini.
Walaupun kedua orangtuanya selalu disibukkan dengan pekerjaan, mereka selalu menyempatkan diri untuk melihat perkembangan Agnez dan berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
Kini, Agnez hanya bisa berharap jika apa yang ia pikirkan itu tidak akan terjadi.
...κ§κ§...
Jeffer Hotel
Carine merasa sangat kesal ketika Rasya mengatakan hal itu padanya dan memutuskan sambungan telepon begitu saja saat ia masih ingin bicara.
"Ck, dasar keponakan gak tau terima kasih!" gerutu Carine.
Kemudian, ia mencari-cari keberadaan suaminya yang tak terlihat di sekitar ruangan itu.
"Roy kemana sih?" ucapnya pada diri sendiri.
Tak lama, ia melihat Roy yang datang entah darimana bersama Laura dan Adelard. Kemudian, Carine pun menghampiri sang suami dengan wajah yang terlihat kesal.
"Mas!" panggilnya pada Roy.
"Carine? ada apa?" tanya Roy.
"Habis darimana sih? kok aku ditinggal?"
"Maaf, aku habis bicara soal masalah pribadi sama tuan Adelard dan Nyonya Laura"
Carine menatap sinis Laura dan langsung menarik Roy untuk pergi dari sana.
"Gak jelas." gumam Laura saat melihat sikap Carine yang seperti ketakutan jika Roy akan kembali bersamanya. Padahal itu tidak akan pernah terjadi. Apalagi sekarang ia sudah menikah dengan Adelard bertahun-tahun dan sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Roy.
"Hahahaha, udahlah Sayang. Mending sekarang kita pulang dan bicara sama Helena," ucap Adelard.
"Iya, Papi bener. Ya udah, yuk." sahut Laura yang langsung merangkul mesra suaminya.
di sisi lain, Xylon dan Helena baru saja sampai di halaman rumah keluarga Williams.
"Hel..." panggilnya dengan sangat lembut.
Namun, Helena tidak menyahut. Rupanya gadis itu tengah menatap kosong ke arah luar jendela.
"Helena." Xylon menyentuh bahu Helena yang membuat gadis itu langsung tersadar dari lamunannya.
"Eh? Ya? Kenapa?" tanya Helena.
"Udah sampai," jawab Xylon.
"Oh iya, thanks!"
Helena langsung melepas seatbeltnya dan hendak membuka pintu mobil.
"Hel!" panggilΒ Xylon lagi sebelum Helena turun dari mobilnya.
"Hm?" Helena pun menoleh ke arah Xylon.
"Jangan sedih terus. Aku tau kalau kamu terpukul banget. Tapi kamu harus bisa membuka lembaran baru dan liat ke masa depan," tutur Xylon.
Helena nampak menghela nafas lalu menjawab, "Aku udah lupain masa lalu aku dan membuka lembaran baru, tapi semenjak pria itu datang lagi ke kehidupan aku, masa lalu itu terus ngeganggu pikiran aku."
Xylon tersenyum lalu membelai rambut kekasihnya dan berkata, "Aku gak minta kamu untuk lupain masa lalu kamu itu. Karena masa lalu itu akan terus ngikutin kita kemanapun kita pergi dan gak bisa dilupain gitu aja. Aku cuma minta sama kamu untuk selesain masalah ini dengan kepala dingin, oke?
"Aku usahain," sahut Helena.
"Harus!"
"Iyaa, sekarang boleh aku turun?" tanya Helena.
"Belum boleh," jawab Xylon.
Helena mengerutkan keningnya dan menatap kekasihnya dengan wajah bingung.
Kemudian, Xylon mendekatkan wajahnya pada telinga Helena. "Xylon Rodriguez always be with you," bisiknya.
Cup
Xylon mengecup pipi Helena begitu saja dan tersenyum menatap sang kekasih. Helena yang sedikit terkejut dengan aksi Xylon barusan langsung menyentuh pipinya yang terkena kecupan mesra dari pria itu.
"Yaudah sana masuk, terus istirahat!" ujar Xylon yang kemudian mengingatkan Helena untuk segera beristirahat.
"I-i-iya." jawab gadis itu gugup.
Helena pun turun dari mobil lalu melambaikan tangannya pada Xylon.
Setelah mobil kekasihnya pergi, Helena langsunh masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang tidak terlihat baik-baik saja.
TO BE CONTINUED