Sincerity

Sincerity
Keberangkatan Shelly ke New York



Setelah mendengar penuturan dari Greisy, emosi Helena sedikit mereda. Ia pun langsung pergi meninggalkan restoran itu dengan perasaan yang masih sedih, kesal, khawatir, malu dan kecewanya.


Greisy yang sudah tak ada urusan lagi di sana pun langsung menyusul Helena untuk pergi meninggalkan restoran tersebut.


Di dalam mobilnya, Helena menyetir sembari menangis meratapi semua kejadian hari ini. Namun, seketika Helena mengingat sesuatu. Ia pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan mencoba mengirim pesan pada Denzel lewat akun media sosial Kokonya. Karena, nomornya sudah diblokir oleh Denzel yang menyebabkan ia tak dapat menghubungi pria itu sama sekali.


...Dnzll.williams_...


^^^| Ko^^^


^^^| Ko^^^


^^^| Aku tau kalau no aku^^^


^^^Yang di aplikasi chat, diblok sama Koko^^^


^^^| Aku juga tau apa yang^^^


^^^Terjadi sama Mami Papi^^^


^^^| Buka blokirnya!^^^


^^^| Koko gak usah khawatir^^^


^^^| I'm promise, aku bakal ke New York^^^


^^^Setelah selesain ujian.^^^


^^^| Koko stay healthy^^^


^^^| i miss u ^^^


Setelahnya, Helena menghela nafas untuk menetralkan emosinya. Ia berusaha menenangkan dirinya. Setelah dirasa sudah cukup tenang, Helena melihat ke arah luar jendela dan terlihat, ada danau di pinggir jalan itu. Ia pun langsung teringat dengan Xylon yang pernah mengajaknya ke sana saat Helena tengah merasa kesal dan sedih, sehabis bertemu dengan Carine waktu itu.


Helena keluar dari mobilnya menuju danau tersebut dan berdiri di jembatannya untuk menenangkan diri. Namun tak lama, Greisy menghentikan mobilnya tepat saat melihat Helena yang sedang berada di sana. Perasaan Greisy menjadi lega. Rupanya, gadis itu sudah bisa mengontrol emosinya itu. Ia pun turun dari mobil lalu menghampiri Helena.


"Kamu udah relax?" tanya Greisy sembari menyentuh bahu kiri Helena.


Helena menoleh dan langsung memeluk Greisy seraya meminta maaf.


"Maaf, maaf udah bikin kamu khawatir. Maaf udah ngerepotin kamu, udah bikin kamu khawatir. I'm really sorry," ucapnya dengan lirih.


Greisy membalas pelukan Helena.


"Anyone can do or say anything when he's panicking. You're great, you can control your emotions. (Siapa pun dapat melakukan atau mengatakan apa pun ketika dia panik. Kamu hebat, kamu bisa mengendalikan emosimu.)" ucap Greisy sembari mengelus-elus punggung Helena untuk menenangkannya.


Kemudian setelah beberapa saat mereka saling berpelukan, Helena melapasnya. Ia sudah merasa lebih baik saat ini.


"Aku sempat marah-marah sama Papi aku tadi, apa aku salah kayak gitu?" tanya Helena yang meminta pendapat pada Greisy.


"I think ... kalian berdua salah. You shouldn't be angry in public, dan Papi kamu juga salah karena ... I'm sorry but, he is dating a woman other than his wife," jawab Greisy.


"Itu yang aku pikirin, gimana Carine sekarang? Apa dia udah tau? Aku takut, aku takut Papi nggak berubah dan aku juga takut kalau akan dapat suami kayak Papi, aku nggak mau, Greisy!"


Helena kembali menghadap Greisy dengan air mata yang kembali mengalir.


"Aku ... Aku malu!" sambungnya dengan lirih dan pandangan matanya ke bawah.


Greisy manggut-manggut lalu berkata, "Nggak semua pria seperti itu, bukan? Keep calm, everything will be okay." sembari menepuk-nepuk bahu Helena untuk menguatkan gadis itu.


...***...


Helena sampai di rumahnya dan langsung mendudukkan diri di sofa ruang tamu.


Sesekali ia menghela nafasnya, ia merasa kepalanya ini sedikit berdenyut karena pusing.


"Nona, minum dulu." ujar seorang asisten rumah tangga yang menyodorkan minuman kepada Helena saat melihat Nonanya yang tampak sangat lelah itu.


"Makasih." sahut Helena lalu menerima gelasnya. Kemudian, Helena meneguk minumannya hingga tandas dan mengembalikan gelas tersebut pada asistennya.


"Saya permisi, Nona," pamit Asisten tersebut yang dijawab anggukan oleh Helena.


"Hel, kalau mau tidur, pindah ke kamar!" ujarnya sembari menyentuh bahu adiknya.


Helena membuka matanya, ia menatap Shelly dan langsung memeluk sang Kakak.


"Eh, why?" tanya Shelly yang bingung dengan sikap adiknya.


"Mami Papi ... Hiks, hiks ... Mami sama Papi kecelakaan, sekarang mereka koma!" isak Helena yang menceritakan secara singkat tentang apa yang terjadi pada kedua orangtuanya.


"Apa?" Shelly yang terkejut pun langsung melepas pelukan Helena dan menatap wajah adiknya dengan serius.


Helena menunduk, tak berani menatap balik Cicinya yang sangat shock saat ini.


"Hel!" seru Shelly karena tak mendapat respon dari sang adik. Ia menggoyangkan tubuh Helena supaya gadis itu tidak diam saja.


"Sumpah, nggak usah ngeprank gini ah, nggak lucu! Mami Papi baik-baik aja, mereka nggak kenapa-napa, mereka sehat, mereka lagi sibuk kerja!" sambung Shelly. Walaupun hatinya menolak akan hal itu dan memilih memercayai perkataan Helena, ia tetap berusaha berpikir positif.


Kemudian, Helena menceritakan semua yang ia ketahui tadi saat di restoran.


Shelly mendengar hal itu tak percaya. Pantas saja, kedua orangtuanya itu tidak bisa dihubungi sejak beberapa hari terakhir.


Seketika, Shelly langsung menangis tertunduk. Ia berusaha menguatkan dirinya.


Cukup lama mereka berdua menangis, hingga Shelly yang tiba-tiba menyalakan ponselnya lalu menghubungi seseorang.


...📞📞📞...


^^^"Halo"^^^


^^^"Siapin pemberangkatan saya ke New York^^^


^^^Malam ini juga!" perintah Shelly pada orang di seberang sana yang merupakan orang kepercayaannya.^^^


"Baik, Nona!"


...📞📞📞...


"Cici mau ke New York malam ini juga?" tanya Helena memastikan setelah Shelly selesai menelepon.


"Iya, aku khawatir. Walaupun di sana ada Denzel dan orang-orangnya Papi, Cici harus tetep ke sana dan Denzel juga harus fokus sama kelulusannya sebantar lagi. Nggak mungkinkan, kita biarin dia kecapean?" jelas Shelly.


"Ya, Cici bener. Aku juga bakal nyusul setelah ujian," sahut Helena.


Shelly menganggukkan kepala. Kemudian, mereka saling berpelukan.


"Aku siap-siap dulu." ucap Shelly melepas pelukan mereka lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Iya." jawab Helena sembari mengangguk.


Kemudian, Shelly pergi ke lantai atas menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke New York malam itu juga.


****


"Hati-hati, Ci ...." lirih Helena dalam pelukan sang kakak.


"Iya, kamu baik-baik di rumah, ya?" ucap Shelly sembari membelai rambut sang adik.


"Iya," jawab Helena.


"Pokoknya, kamu harus fokus sama ujian kamu. Do'a-in buat kesembuhan Mami Papi, kamu harus bisa peringkat kesatu, jangan kecewain Mami. Biar Mami sama Papi pas udah siuman, mereka seneng dan bangga sama kamu, Cici tau kamu bakal terus kepikiran sama orang tua kita dan bakal susah fokus belajar. But, i believe you can do it!" tutur Shelly setelah melepas pelukan mereka.


Helena hanya menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir.


"Udah, jangan nangis lagi." ucap Shelly sembari mengusap air mata yang ada di pipi adiknya.


"Iya, bye!" sahut Helena yang berusah untuk tersenyum.


"Bye!" Shelly tersenyum balik pada sang adik. Kemudian, ia masuk ke dalam mobilnya bersama manajer dan asisten Shelly dan pergi meninggalkan kediaman mewahnya menuju bandara.