Sincerity

Sincerity
Penuh kejutan



"Jelasin itulah yang i love you, miss you!" pinta Helena yang rasa penasarannya sudah sampai ubun-ubun.


"Wait." ucap Greisy yang langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja untuk memberitahu Denzel karena sambungan teleponnya belum terputus sejak tadi.


^^^"Sorry, Denzel. Adik kamu, Helena. Dia ada di sini dan dia kaget sewaktu kamu telepon aku, tolong kamu jelasin, ya?" ucap Greisy pada Denzel di seberang sana.^^^


"......."


^^^"Yes, I will hand my phone to Helena."^^^


Greisy pun menyerahkan ponselnya pada Helena agar Denzel bisa berbicara dengan adiknya yang sudah sangat terkejut ditambah penasaran tentang hubungannya dengan Denzel.


"Thank you." Helena menerima ponsel Greisy lalu menempelkan layar ponsel tersebut ke telinga kanannya.


^^^"Koko!" seru Helena pada Denzel di seberang sana.^^^


"Hele-"


Baru saja Denzel ingin menjelaskan, Helena sudah memarahinya dengan banyak pertanyaan yang menyerangnya.


^^^"Shut up! I'm so angry with you"^^^


"Bukan gitu, Hel. Tapi-"


^^^"Jangan banyak alesan, pokoknya aku sebel sama Koko. Bisa-bisanya jadian nggak ngasih tau"^^^


"Itu soalnya-"


Tidak ada kesempatan untuk Denzel berbicara karena Helena selalu saja memotong ucapannya.


^^^"Kalian udah jadian berapa lama, sih? Terus dari kapan? Kenal di mana? Kenapa nggak pernah ngasih tau? Aku bukan adek Koko lagi, ya? Terus, siapa aja yang udah tau? Temen-temen Koko tau, nggak? Atau aku doang yang baru tau? Koko juga nggak ngasih tau Mami Papi, ya? Soalnya mereka nggak pernah ngasih tau aku. Lagian nih ya, Koko kenapa sih nggak cerita ke aku? Padahal setiap hari kita video call-an, Koko nggak ada nyeritain tentang pacar. Aku aja cerita kalau aku pacaran sama Xylon, curang banget!"^^^


Helena mengoceh mengeluarkan kekesalannya pada Denzel. Namun, ia tidak mendapatkan respon apapun dari Kokonya dan hal itu membuatnya semakin kesal.


^^^"Koko!!!"^^^


"Pffftt!!!" Greisy menahan tawanya melihat raut wajah kesal Helena.


"Huh? Iya? Apa?" akhirnya, Denzel merespon. Namun, bukan ucapan seperti yang Helena inginkan.


^^^"Ih!!!!! Ko Denzel bener-bener!!!!!" Helena kesal bukan main. Rasanya ingin menangis, tapi air matanya tidak keluar. Bagaimana tidak? Ia sudah bicara panjang lebar dan Denzel tidak mendengarkannya.^^^


"Ketiduran, maap. Gara-gara ocehan kamu, bikin ngantuk!" canda Denzel.


^^^"KOKO!!!"^^^


Tawa Denzel pecah, kala mendengar kekesalan sang adik.


"Bercanda! Lagian ngomel-ngomel mulu, hahaha. Nanyanya banyak banget, yang mana dulu nih yang dijawab?" ujarnya.


^^^"Gak tau, terserah!"^^^


Baiklah, Helena sudah mode merajuk. Itu artinya, Denzel tidak bisa bercanda lagi.


"Sorry, hehe. Jadi gini, Koko sama Greisy udah seminggu jadiannya. Kita pertama kali ketemu di pesta perusahaan gitu. Nah, kita masih rahasiain hubungan kita ini dari temen dan keluarga yang di Indo. Kalau temen-temen Koko di New York udah pada tau. Rencananya, Koko mau ngenalin Greisy ke keluarga kita pas Koko udah pulang ke Indo, biar jadi surprise. Eh, ternyata kamu udah tau duluan sebelum Koko pulang," jelas Denzel.


^^^"Oh."^^^


"Kok Oh doang? Udah Koko jelasin itu, nggak tau terima kasih banget. Koko ngasih tau ini ke kamu doang lho, ya! Jangan kasih tau ke siapa-siapa. Awas!"


^^^"Hm"^^^


"Masih ngambek?" tanya Denzel yang takut jika Helena masih merajuk dan hal itu sulit bagi Denzel untuk membujuk adiknya. Kecuali, Helena sendiri yang mau berhenti marah.


^^^"Aku udah bilang kalau aku sebel sama Koko, kasih tau kek dari awal. Kita unfriend!" jawab Helena masih kesal. Namun, kekesalannya sudah sedikit mereda setelah mendengar penjelasan dari Kokonya.^^^


"Emang kita friend? dari awal juga bukan," ucap Denzel


^^^"Hmmm...."^^^


"Jangan ngambek lagi, ya?"


^^^"...."^^^


"Hel?"


^^^"Iya!!!!" Helena pun menjawabnya dengan nada tinggi dan ketus.^^^


"Eh, kok ngegas?" kata Denzel.


^^^"Udah ah, mau balikin handphonenya ke Greisy, mau ngobrol sama ayangnya, kan Lo?" ujar Helena.^^^


"Hahahaha, nggak. Nanti aja, males. Ntar ada yang nguping," sahut Denzel dengan sedikit menggoda adiknya. Padahal, ia memang akan memutuskan sambungan teleponnya. Sebab, ia ingin melanjutkan pekerjaan dan mempersiapkan kelulusannya.


Tutt...


Karena masih kesal, Helena langsung memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. Kemudian, ia memberikan ponsel itu pada pemiliknya.


Greisy terkekeh melihat Helena yang sepertinya sedang merajuk pada Denzel.


"Is it done? Are you satisfied with Denzel's answer? (Sudah selesai? Apakah kamu puas dengan jawaban Denzel?)" tanya Greisy.


"Nggak, Kokonya nyebelin. Kok bisa sih, kamu mau pacaran sama manusia kayak gitu?"  ujar Helena. Greisy hanya tersenyum menanggapinya. Tanpa ditanya pun, Helena harusnya tahu, jika ia bisa menjalin hubungan dengan Denzel itu karena cinta.


Setelah itu, mereka melanjutkan meminum dan menyantap menu pesanan mereka yang sudah datang sejak tadi.


Selesai itu semua, Helena memutuskan untuk pulang karena ia harus belajar mempersiapkan ujiannya besok. Greisy pun sama, ia kembali ke hotel karena ingin segera beristirahat.


...***...


Malam harinya, Helena mendapat kiriman sebuah paket yang berisi buket bunga, beberapa box yang berisi macaron, minuman Boba, 2 buah kotak cokelat yang masing-masing berisikan cokelat putih dan juga strawberry yang sangat ia sukai, serta berbagai macam dessert box. Kemudian, asisten Helena menaruh semua itu di atas meja makan.


Shelly yang baru saja tiba di ruang makan hendak makan malam pun terkejut. Mulutnya terbuka saat melihat begitu banyak makanan manis di atas meja makan. Ia pun menghampiri Helena dan menanyakan tentang semua ini.


"Kamu beli ini semua? ya ampun ... Eh, ada buket bunganya. Fix sih, dari Xylon, kan ini?"


"Kayaknya sih, aku juga belum buka," jawab Helena. Kemudian, ia pun melihat buket bunga di atas meja makan. Sebenarnya, Helena bukan tipe gadis yang menyukai bunga sebagai hadiah, seperti Maminya. Jadi daripada itu, Helena lebih menyukai makanan jika dibandingkan dengan buket bunga seperti ini. Ia jadi bingung, jika benar Xylon yang mengirim ini semua, seharusnya kekasihnya itu tahu jika ia tidak menyukai bunga. Tapi, kenapa Xylon memberinya buket bunga?


Helena pun menjadi penasaran. Siapa yang sudah mengiriminya paket sebanyak ini?


"Tuh, ada suratnya." ujar Shelly menunjuk surat pada buket bunga tersebut.


"Oh, iya." Helena pun mengambil surat tersebut lalu membacanya.


...Good night.......


...Ini ada beberapa makanan dan Boba kesukaan kamu buat nemenin kamu belajar. Aku gak bakal nemuin ataupun chat kamu beberapa hari sampai ujian kamu selesai, sesuai janji aku. Then, kamu jangan pikirin apa-apa dulu selain ujian kamu itu. Buket bunganya, kalau nggak suka, buang aja....


...Kamu gak usah chat aku just for say thank you. Karena aku gak akan jawab sama-sama. Melainkan, keep spirit and good luck....


...I hope you get good grades and be in first place. After that, I promise to take you wherever you want. I want to see you as an obedient girl, by obeying your parents' orders to study. You and I will meet soon. I love u my Helena....


^^^- Xylon Rodriguez^^^


^^^Miss u^^^


Helena tersenyum saat membacanya dan membuat Shelly menjadi penasaran dengan isi pesan dari surat tersebut.


Direbutnya kertas itu dari tangan Helena lalu membacanya dengan keras-keras.


"GOOD NIGHT, SAYANG." kalimat pertama yang Shelly bacakan. Helena berusaha mengambil kertas tersebut dari tangan Kakaknya. Namun, ia tak pernah menyangka jika Shelly pandai menghindar.


"Aku tau kamu gak suka yang namanya hadiah buket bunga. Tapi, sekali-kali gapapa kali aku kasih hadiah itu ...."  Shelly masih terus membaca surat itu.


"CICI!!!" Helena masih berusaha mendapatkan suratnya kembali.


"Pengen tau aja rasanya ngasih bunga ke pac-"


Srettt


Saat Shelly ingin kembali melanjutkan ucapannya, Helena berhasil mengambil kembali suratnya itu.


"You should know, this is private!" ujarnya.


Sebenarnya, Helena adalah tipe orang yang lumayan terbuka jika sudah merasa nyaman dengan orang tersebut. Kecuali, mengenai masalah keluarga dan barang-barang privasinya. Ia cenderung tertutup.


Shelly tersadar. Ia sudah bercanda berlebihan dan sekarang, Shelly menjadi merasa bodoh dan bersalah atas sikap ketidak sopannya itu.


"Sorry, Hel. Awalnya, aku bercanda. Maaf, ya?" ujarnya meminta maaf.


"It's okay, no problem. Aku cuma malu kalau suratnya dibaca orang lain," sahut Helena.


"Oh ... Jadi, kamu malu?"


"Iyalah"


"Ya udah makan yuk, ntar bagi ya, dessert boxnya, hehe," pinta Shelly.


"Iya, sip!"  jawab Helena.


Kemudian, beberapa asisten menaruh makanan-makanan dari Xylon ke kulkas. Setelah itu, Helena dan Shelly pun menyantap makan malam mereka.


Tapi sebelum itu, Helena memotret paket yang diberikan oleh Xylon itu lalu mengirimnya pada group chat Asyulo untuk memamerkannya.


Helena terkekeh-kekeh sendiri saat membayangkan reaksi sahabat-sahabatnya itu.


Setelahnya, Helena langsung memulai makan malamnya dengan Shelly. Selesai makan, ia dan Cicinya pun langsung pergi ke kamar mereka masing-masing.


Di kamarnya, Helena berniat ingin belajar. Namun sebelum itu, ia membuka ponselnya itu melihat balasan dari sahabat-sahabatnya di group chat.


Helena tersenyum geli membaca isi pesan dari gengnya, Asyulo. Tapi daripada itu, ia lebih terkejut saat Natasya mengirim foto bersama Kenzie dengan caption 'Sorry, gue juga udah punya😏🙏'


Seketika, Helena membulatkan matanya dan langsung saja ia mengomentari pesan dari sahabatnya itu.


...Asyulo...


Viorenza


| Anjay🔥


| PJ nya jangan lupa Tante


Arabella


| Napa pada pamer ayang si?


Alya


| Kaget pas buka grup


Arabella


| Me too @Alya


^^^Helena^^^


^^^| Kapan jadiannya anjir?^^^


Alya


| Kutunggu PJ mu @Natasya


Natasya


| 🤣🤣🤣


^^^Helena^^^


^^^| Malah tawa^^^


^^^| Gece, ceritain!!!!^^^


Natasya


| Ga ah


Viorenza


| Oke


| ANPREN kita!


Natasya


| Dih?


| Haha🤣🤣


^^^Helena^^^


^^^| Ceritain, Sya!!^^^


Natasya


| Ya gitu dah


Alya


| Gajelas


Viorenza


| Prik


^^^Helena^^^


^^^| Eh, gua juga ada cerita^^^


Natasya


| Apaan tuch?


Alya


| ?


Viorenza


| ???


Arabella


| apa?


^^^Helena^^^


^^^| Kalo si Natasya cerita^^^


^^^| Baru gue juga cerita^^^


Viorenza


| jir


Natasya


| Lah?


Arabella


| Mending gak usah bilang


| Daripada bikin penasaran


^^^Helena^^^


^^^| Sengaja dong^^^


Alya


| Pada prik Lo pada


| Mending gue belajar


Natasya


| Gue juga


^^^Helena^^^


^^^| Lo utang cerita sama PJ! @natasya^^^


Viorenza


| Nahhhh


Natasya


| Gamau


^^^Helena^^^


^^^| Lo gabakal bisa nolak^^^


^^^Kalo kita meet nanti😼 @natasya^^^


Natasya


| Bodo


...Alya mengeluarkan Natasya...


Arabella


| Weh? dikick?


Alya


| Biarin, haha


Viorenza


| 🤣🤣🤣


^^^Helena^^^


^^^| Heh, ntar ngamok orangnya!^^^


...Alya menambahkan Natasya...


Natasya


| Anjir


| Kwnsiehdue


| Kesel gue


| Apa-apaan sih main kick aja?!


Alya


| Kepencet


^^^Helena^^^


^^^| *Drink^^^


Natasya


| 😑😑😑


^^^Helena^^^


^^^| Belajar Sono^^^


^^^| Lo kan mau kelulusan^^^


Natasya


| Ok


| Bye


Setelah Helena mengobrol di grup chat, barulah ia membuka bukunya untuk belajar. Meskipun Helena masih penasaran dengan cerita dari Natasya yang bisa berpacaran dengan Kenzie.


'Dih, Ko Kenzie kok nggak ngasih tau, sih? udah dibantuin juga,' gerutu Helena dalam hati.


"Ah, bodoh ah. Yang penting sekarang, Ko Kenzie nggak nerror gua lagi, terus gue udah bebas, yahahahaha," gumam Helena sembari tertawa pelan.


Namun tiba-tiba, Helena merindukan kedua orangtuanya yang tengah berada di luar negeri itu. Ia pun mencoba menghubungi telepon Maminya untuk menanyakan kabar mereka. Namun sesaat, Helena langsung teringat dengan perbedaan jam mereka, antara New York dan Jakarta. Ia pun mengurungkan niat yang tadinya ingin menelepon kedua orangtuanya itu.


Setelahnya, ia menaruh ponsel miliknya di atas nakas samping tempat tidur lalu ia duduk di kursi meja belajarnya dan mulai belajar untuk mempersiapkan ujiannya besok.


TBC


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Baru up lg, sedih deh.. kuota authornya nyebelin.