
Di dalam sebuah ruangan, terlihat seorang gadis tengah minum-minum bersama seorang laki-laki dengan keadaan yang berantakan.
"Gua benci Kak Eric! Gua benci Xylon! Gua benci Helena!!!! Gua benci, benci, benci, benci banget sama Helena." kesalnya sembari melempar-lempar barang yang ada di sekitarnya.
Saat ia ingin melempar gelas yang ia gunakan untuk minum itu, laki-laki yang bersamanya pun menahan tangan gadis tersebut agar tidak kelewatan.
"Lepasin, Sya!!!!" bentaknya.
"Lo jangan gila, Nez!" ucap laki-laki tersebut.
Akhirnya, ia pun menurut dan meletakkan kembali gelas tersebut dengan kasar di atas meja.
Flashback on
Agnez bangun sekitar jam 10 pagi lalu turun ke lantai bawah rumahnya dan menemukan Eric serta kedua orangtuanya yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Pagi Ma, Pa," sapanya.
"Hi kak! Kok udah pulang?" tanyanya pada sang kakak.
Kemudian, ia duduk di samping Eric dan memeluknya dari samping. Sementara Eric hanya terdiam, tanpa membalas pelukannya.
"Kak?" panggil Agnez karena Eric yang tak bergeming.
"Agnez!" panggil papanya.
"Ya?" Agnez melepas pelukannya dari Eric dan menoleh ke arah papanya yang tepat duduk di hadapannya itu.
"Apa bener kamu yang udah nge-share rumor atau berita hoax tentang Helena dan Xylon?" tanya Hadley, Papanya.
"Maksud Papa?" tanya Agnez yang berpura-pura tidak mengerti maksud papanya itu.
"Kamu jangan pura-pura gak tau maksud Papa," jawab Hadley yang masih menahan diri agar tidak tertawa emosi.
"Papa gak nyangka kalau putri Papa sendiri bisa ngelakuin hal serendah ini," sambungnya yang sudah merasa geram.
"Apa sih Pa? ada apa?" tanya Agnez kembali yang masih setia untuk berpura-pura tidak tahu apa yang telah terjadi.
"Kamu malu-maluin Papa sama Mama! Kamu bikin berita-berita gak bener tentang Helena dan Xylon Rodriguez itu maksud kamu apa, huh?!" bentak Adaline, sang mama.
Agnez mengerutkan keningnya karena merasa bingung, bagaimana bisa kedua orangtuanya mengetahui hal itu?
"Bo-bohong itu Ma, Mama kenapa nuduh aku sih?" ujar Agnez yang kemudian bangkit dari duduknya.
Hadley, Adaline dan Eric pun juga bangkit dan menatap tajam Agnez.
"Ini kenapa kalian semua pada tatap aku kayak gitu?" tanya Agnez.
"Kamu masih pura-pura gak tau ya, setelah bikin malu keluarga ini?" ujar Hadleh yang sudah semakin marah.
"Nez, kamu gak kasian liat Mama Papa yang bakal dipermalukan karna kamu? kenapa, Agnez? kamu anak baik, kan? kenapa sekarang kamu jadi gini?" cecar Eric.
"Hiks... Agnez, lupain Mama Papa. Pikirin aja masa depan kamu, apa yang bakal terjadi karna sikap kamu ini, sayang," tutur Adaline.
Hadley menghampiri Agnez dan memegang kedua bahu putri itu dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Denger ya Agnez, Papa berharap setelah ini kamu minta maaf sama Helena dan Xylon. Papa yang bakal urusin semua ini, gapapa Papa malu asal kamu mau ubah sikap kamu itu, ngertikan maksud Papa?" jalas Hadley dengan lembut, namun penuh penekanan di setiap katanya.
"Never!" sahut Agnez menghempaskan kedua tangan Papanya begitu saja.
"Agnez! Kakak kecewa sama kamu. Sumpah, Kakak malu banget punya Adek kayak kamu!" geram Eric.
"Kamu gak tau, semalu apa Kakak pas berhadapan sama Xylon? kamu cuma perlu jadi perempuan baik-baik, laki-laki itu akan datang dengan sendirinya, Helena itu orang yang baik dan kamu malah nyebarin berita yang enggak-enggak tentang dia. Kamu udah gila ya?" sambungnya panjang lebar dan penuh amarah.
Agnez terdiam sejenak lalu menundukkan kepalanya dengan air mata yang hampir terjatuh.
"Kamu-"
Belum sempat Eric berbicara kembali, Agnez sudah memotongnya.
"Kakak pikir, Kakak siapa huh? lo ngatur-ngatur gua dan ngejelek-jelekin gua. lo urus aja diri lo sendiri dan intropeksi diri! lo pikir gua seneng punya Kakak kayak Lo? ngaca!!!"
Bukannya mendengarkan Eric, Agnez justru malah memaki kakaknya itu. Ia sudah tidak memikirkan keberadaan orangtuanya saat ini. karena yang ia pikirkan adalah bahwa dirinya itu benar.
"Kurangajar!" seru Hadley.
Plakk
Satu tamparan keras mendarat di pipi Agnez. Gadis itu menatap ke arah sang Papa yang telah menamparnya. Ia menyentuh pipinya dan menatap tajam Papanya yang juga menatap dirinya dengan tatapan penuh amarah.
"Papa gak nyangka, Papa gak nyangka kalau kamu itu Agnez Stewart, anak Papa. Kamu gak mikir apa yang bakal terjadi sama keluarga ini, huh???" hardik Hadley, papanya.
"Terus, apa Papa gak pernah mikir tentang aku? kenapa aku ngelakuin ini semua? apa Papa pernah merhatiin aku, Pa? jawab Pa!" cecar Agnez yang sudah tak dapat menahan air matanya lagi.
"Agnez!" seru Adaline yang menegur putrinya karena sudah keterlaluan itu.
"Apa? Mama juga mau nyalahin aku? silahkan, tapi aku gak pernah nyesel udah ngelakuin ini. Aku puas udah bikin Helena dan Xylon di anggap buruk di mata orang-orang," ucap Agnez.
Adaline yang hendak menampar putrinya itupun langsung ditahan oleh Hadley.
"Gak perlu, sayang. Kamu gak perlu ngotorin tangan kamu buat nampar dia, dia bukan anak kita lagi," ujar Hadley.
"Apa Papa bilang? Aku? aku bukan anak Papa lagi?" tanya Agnez memastikan.
"Iya, apa kurang jelas?" jawab Hadley dan bertanya balik apakah ucapannya kurang jelas.
Agnez tertawa sumbang mendengarnya.
"Jadi, aku gak perlu capek-capek dengerin omongan kalian yang buang-buang waktu itu," kata Agnez yang membuat kedua orangtuanya dan Kakaknya merasa terkejut mendengarnya.
Kemudian, ia segera pergi ke lantai atas menuju kamar.
Tak lama, ia turun dengan menggunakan tas sling bag di pundaknya dan pergi keluar rumah tanpa memedulikan keluarganya.
"Agnez," lirih Adaline yang hendak mengejar putrinya. Namun dengan cepat, Hadley kembali menahannya dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan kamu kejar anak kurangajar itu, apa kamu gak sakit hati sama kelakuannya?" ujar Hadley.
"Iya, tapi-"
"Biarin dia pergi semau dia, sayang. Aku udah pusing sama kelakuannya itu. Lagian kamu tenang aja, bawahan aku selalu ngawasin anak itu," potong Hadley.
Adaline pun mengangguk. Lalu Hadley membawa istrinya ke dalam pelukannya agar lebih tenang.
Eric menatap sendu kedua orangtuanya, ia menghela nafasnya dan menghempaskan dirinya di atas sofa sambil memijat pelipisnya.
Flashback off
"Rasya! apa yang harus gua lakuin?" ujar Agnez menatap Rasya dengan serius.
"Hm, gak ada." sahut Rasya lalu membereskan kekacauan yang sudah Agnez lakukan.
"Maksud Lo? gak ada yang bisa kita lakuin buat bales ini semua?" tanya Agnez memastikan.
"Iyalah! Lo gak liat, kita udah hancur sekarang?" kesal Rasya.
"Tapi... gua gak terima diginiin, Sya... hiks.. hiks..." lirih Agnez yang kini sudah menangis sesenggukan.
Rasya menoleh ke arah gadis itu dan menghela nafasnya. Ia pun menghampiri Agnez dan membawa gadis itu ke dekapannya.
"Kita lakuin ini sama-sama, kita juga yang harus nerima karmanya sama-sama. Gua ada buat Lo, Nez. Jadi Lo jangan ngerasa sendiri, ya?" tuturnya lembut sembari mengelus rambut gadis itu untuk menenangkannya.
Agnez mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Rasya.
"P-promise?" tanyanya penuh harap.
"Ya, i'm promise," jawab Rasya sedikit memberikan senyumannya pada Agnez.
Agnez pun langsung membalas pelukan Rasya lebih erat. Saat ini, hanya Rasya orang yang ada bersamanya dan tak meninggalkannya.
"Gua minta, Lo jangan lakuin hal apapun lagi yang malah bikin keadaan makin parah, oke?" tutur Rasya.
Karena merasa tak mendapatkan respon dari Agnez, Rasya pun melihat wajah gadis itu yang rupanya sudah tertidur, mungkin karena efek minum-minum tadi. Seulas senyuman manis terukir di wajah tampan Rasya. ia mengecup kening Agnez sedikit lama lalu menggendongnya dan merebahkan tubuh gadis itu di atas ranjang agar lebih nyaman tidurnya.
Ia menatap wajah Agnez yang terlihat benar-benar frustasi. Rasya yakin, jika gadis itu memiliki alasan sendiri, kenapa ia melakukan semua ini.
Rasya melihat tangan Agnez yang terdapat beberapa luka karena perbuatan gadis itu sendiri dengan tatapan sedih.
"Gua yakin kalau Lo cewek baik, Nez." ucap Rasya sembari mengelus pipi Agnez.
Entah mengapa Rasya merasa tidak bisa meninggalkan gadis itu, walaupun dirinya kini juga ikut kesusahan akibat perbuatannya sendiri.
Ya, jika kalian bertanya apakah Rasya sudah sadar akan perbuatannya, jawabannya adalah Ya. Oleh karena itu, Rasyapun juga harus bisa membuat Agnez menyadari perbuatannya dan tidak melakukan hal yang merendahkan lagi.
TBC
jangan lupa like!