Sincerity

Sincerity
cowok brengsek



Helena sampai di depan rumahnya dengan diantarkan oleh Rasya.


"Thankyou ya Sya," ucap Helena


"Sama-sama, besok gua jemput lagi boleh?" ujar Rasya


"Boleh kok, jangan sampai telat ya," sahut Helena mengedipkan sebelah matanya.


Rasya terkekeh lalu ia segera pamit untuk pergi dari sana. Setelah motor Rasya sudah tak nampak, Helena menunjukkan smirknya. Sebenarnya, akhir-akhir ini ia sudah lebih dekat dengan laki-laki itu dan bahkan sering bercanda bareng, jadi bisa dipastikan tidak mudah untuk Rasya mencurigai sikap Helena, apalagi gadis itu sangat pandai berbohong dan berakting.


Setelah itu, Helena masuk ke dalam rumahnya dan seperti biasa Alden datang kerumahnya dengan alasan menjemput Shelly untuk berkencan.


Helena masuk dan terus berjalan ke arah lift dengan wajah yang datar dan dinginnya itu seolah tidak ada orang di ruang tamu.


Namun, sebelum ke lantai atas, Helena pergi ke dapur untuk minum air dan mengambil beberapa cemilan untuk dibawa ke kamarnya karena stok makanan dan minuman di kulkas yang berada di kamar Helena sudah habis.


Melihat hal itu, Alden izin ke toilet pada Laura dan tentu saja Laura mengizinkannya.


Saat tiba di dapur, Alden melihat Helena yang baru saja selesai minum air dan ia pun menghampiri Helena perlahan lalu memeluk gadis itu dari belakang.


Sontak saja Helena terkejut dan langsung memutar tubuhnya dan..


Plakk


Sebuah tamparan ia berikan pada pria kurangajar tersebut.


Setelah itu, Helena dengan cepat mengambil pisau yang berada di dekatnya lalu mendorong tubuh Alden hingga membentur kulkas lalu menyodorkan pisau tersebut ke arahnya.


"Inget ya! ini peringatan terakhir dari gua, kalau Lo gak secepatnya putusin Shelly dan pergi dari kehidupan dia, gua bakal bikin hidup Lo hancur!!" tegas Helena


"Oh ya, orang kayak Lo udah dibialngin berapa kali pun gak akan mempan. Jadi Lo tenang aja, karena gua sendiri yang bakal misahin kalian dan buktiin ke Shelly dan Mami kalau Lo itu cowok brengsek!" lanjutnya.


Terlihat, ada dua orang ART yang kebetulan menonton kejadian tersebut, mereka juga sudah geram dengan sikap Alden yang kurangajar. Namun, sebagai ART, mereka tidak berani mengatakannya pada Shelly maupun Laura atau Adelard.


Melihat Helena yang sudah kesal itu, Alden menunjukkan smirknya lalu tangannya bergerak mengusap pipi Helena dan menyelipkan rambut ke belakang telinga gadis itu.


Helena semakin kesal lalu menepis tangan kotor pria itu dan memberikan tatapan membunuh padanya.


"Helena... Helena... berapa kali sih kamu ngomong gitu hm? gak capek? mending kamu terima aja jadi partner aku," ucap Alden


Saat Helena hendak menusuk wajah pria itu, tiba-tiba salah satu ART datang dan memberi tahu Helena.


"Nona Helena! tuan kecil mau kesini," ujar salah satu ART yang baru saja mengecek luar dapur dan melihat Kevin hendak masuk ke dapur.


Helena hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Kemudian, Helena meletakkan kembali pisau yang ia pegang ke tempatnya semula dan bergegas pergi menuju lantai atas dengan dibantu bawakan cemilan dan minuman oleh pelayan rumahnya.


'Ck ck ck, Udah berapa kali dia sok jago begitu tapi pada akhirnya dia gak bisa ngapa-ngapain Haha, kasar tapi untung body dan mukanya cantik' batin Alden sembari tersenyum membayangkan tubuh indah gadis itu.


"Kak Alden," panggil Kevin yang baru saja tiba di dapur.


"Eh, Hi Vin! Kakak ke depan dulu ya, Shelly udah selesai kan?" ujar Alden


"Iya tuh, lagi sama Mami," sahut Kevin


Alden pun segera keluar dari dapur dan berjalan menuju ruang tamu lalu pergi berkencan dengan Shelly.


...----------------...


Saat berada di kamar, Helena menjadi frustasi sendiri karena memikirkan cara agar Shelly mengerti jika Alden bukanlah pria baik-baik. Padahal sudah berulang kali Helena memperingati Cicinya itu dan menyuruhnya untuk segera putus.


Helena juga sudah memberi beberapa bukti, tapi tetap saja Shelly tidak mempercayainya karena Shelly tetaplah Shelly. Gadis keras kepala itu tidak mau mendengarkan Helena. Ia hanya berpikir jika Helena hanya khawatir berlebihan. Ia sangat mencintai Alden dan lebih memercayai pria itu daripada adiknya.


"Huh, gimana lagi coba gua ngomongnya sama Cici? bandel banget kalau dikasih tau," gumam Helena yang sedang merasa kesal saat ini.


"Dikasih bukti juga bilangnya editan mulu, ck"


"Yaudahlah, awas aja kalau kenapa-kenapa, Ntar gua bilang aja settingan biar tau rasa gak di percayain tuh gimana"


Helena terus menggerutu di dalam kamarnya.


Tiba-tiba terdengar suara dering dari ponsel Helena. Ia pun mengangkat teleponnya.


...📞📞📞📞...


"Halo"


"............." 📞


"......." 📞


"Really? aih... kok dia gitu sih, kirain kawan. Ternyata lawan"


".........." 📞


"Ya aku gak mau suruh orang buat beresin ini karena mereka itu gampang di begoin, jadi gak pake kekerasan juga bisa langsung kita beresin"


"Terus juga, aku kurang puas kalau bukan aku sendiri yang berusaha. lagian seru tau mainan mereka berdua, Hahahaha"


"......." 📞


"Ih baik amat sih Lo, maacih hihi"


"................." 📞


"Hm... yang pasti pura-pura percaya aja dulu sama mereka dan habis itu kita kasih pelajaran yang bener-bener bakal mereka inget sampe tujuh turunan"


".........." 📞


"Seru soalnya"


".........." 📞


"Iya, eh jangan lupa kirim fotonya ya! aku mau liat"


"............." 📞


"Ok thankyou, bye!"


...📞📞📞📞...


"Aih... jaman sekarang, orang pada stress gara-gara cinta. eh salah, maksudnya obsesi, bukan cinta, Hahahahaha." gumam Helena lalu tertawa kecil.


Kemudian, ia pun melihat beberapa foto yang memperlihatkan kemesraan dirinya dan Alden.


"Hih amit-amit, dipeluk aja rasanya pengen nusuk tu muka si Alden, apalagi begituan"


Tiba-tiba Helena mengingat sesuatu, pandangannya beralih pada seragam sekolah yang masih ia pakai.


"Eh iya, gua belum ganti baju, idihhh bekas dipeluk Alden iwhh."


Ternyata Helena lupa mengganti seragam sekolahnya, ia pun segera menggantinya karena merasa jijik ada bekas pelukan Alden.


Setelah selesai mengganti seragam, Helena menghubungi salah satu bodyguard yang mengikuti Shelly dan menjaganya untuk meminta laporan mereka.


Malam hari, pukul 08.02 PM.


Shelly pulang setelah selesai berkencan dengan Alden. Ia memasuki rumah dan dikejutkan dengan Helena yang tiba-tiba muncul.


"Kok gak dianter pacar pulangnya?" tanya Helena menatap Shelly sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kagat yaampun." ucap Shelly sambil mengusap dadanya.


"Ci! Aku tanya lho, kenapa gak dianter pacar?" Helena kembali bertanya.


"Katanya dia mau selesain kerjaannya di kantor," jawab Shelly


"Sibuk di kantor? sibuk sama cewek lain kali"


"Ssssttt.... kamu kenapa sih? Alden itu bukan cowok yang kayak kamu bilang! stop deh ngatain dia"


"Susah ngomong sama Cici, bucinnya sama f*ckboy"


"Heh! Alden itu cowok baik ya!! makanya cari pacar biar tau rasanya bucin, tuh si Xylon siap jadi pacar kamu"


"Dih, gak usah kemana-mana ngomongnya! ikut aku aja sekarang." Helena menarik tangan Shelly untuk duduk di sofa dan memperlihatkan sebuah rekaman cctv di laptop Helena.


"Ini mau ngapain sih?" ujar Shelly. Ia juga melihat Laura yang tengah duduk dengan ekspresi kesal.


"Udah liat aja! bawel banget," perintah Helena.


Shelly pun mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh adik tirinya itu.


Setelah selesai melihat cctv tersebut, Shelly langsung terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca.