Sincerity

Sincerity
Part 7| Jadian?



Julian berjalan santai mendekati Areta. Matanya yang tajam bak elang tak pernah lepas melihat wajah Areta yang semakin masam saat dirinya mendekati gadis itu. Sesekali Julian juga melihat ke bawah dan hatinya meringis sakit saat melihat Lisa yang terkapar tak berdaya sambil memegang kepalanya, hidung gadis itu juga mulai mengeluarkan darah.


Tangan Julian makin terkepal kuat. Keinginannya untuk membunuh Areta saat ini juga merupakan ide yang bagus. Jangan salahkan dia yang ingin menyakiti Areta, salahkan saja gadis itu yang dengan santainya menyakiti calon pacarnya dan membuatnya tak berdaya seperti sekarang. Julian tidak akan memaafkannya.


"Ju-julian. Lo nggak akan nyakitin gue kan?" Tanya Areta terbata-bata.


Julian tersenyum, "pasti. Tapi gue mau ngebunuh Lo disini."


"Nggak, Lo nggak akan ngebunuh gue. Apa istimewanya sih ni cewek, sampek Lo ngehalangin gue gini?!" Tanya Areta tak terima.


"Apa istimewanya ya?" Julian terkekeh, "Lo nggak perlu tau. Sekarang giliran gue yang main-main sama Lo."


Di sisi lain, Delvin dan Aksa takut-takut dengan hal diluar batas yang akan Julian lakukan. Dan di saat seperti ini, Alvaro malah sibuk mengurus rapat organisasi di ruang OSIS.


"Mikir kek Lo, gimana caranya biar Julian nggak kebablasan ngebunuh tu nenek lampir!" Ucap Aksa.


"Lah, Lo juga mikir dong! Tumben-tumbenan tu anak mau ngebunuh orang. Tapi nggak masalah sih gue kalok yang mau di bunuh nenek lampir."


"Setuju gue."


Kembali lagi pada Julian yang mendorong bahu Areta kasar hingga gadis itu terduduk di tanah. Julian mulai mengulurkan kedua tangannya mencekik Areta gemas. Sudah lama dia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Namun di lain tempat, Lisa berusaha bangkit dan menghentikan perbuatan Julian pada Areta.


Lisa rela menahan rasa sakit yang menjalar di kepalanya demi menyelamatkan Areta? Bisakah jika lebih baik gadis itu pingsan saja dan membiarkan Julian membasmi hama kecil itu? Kau terlalu baik Lisa.


"Wellcome to the hell, Areta!" Julian semakin mencekik leher Areta.


"Jul-julian pliss, gu-gue nggak bisa na-nafas. Lo bi-bisa bikin gu-gue mati." Ucap Areta terbata-bata.


"Justru itu yang gue mau."


Puk,,, Julian merasakan sesuatu menepuk pundaknya. Pemuda itu menggeram marah karna ada yang berani mengganggu kegiatannya kali ini. Sambil menahan amarahnya, Julian membalikkan badannya dan melihat Lisa yang menatapnya sayu.


"Lisa."


"Kak, le-lepasin kak Areta. Di-dia nggak sengaja." Ucap Lisa.


"Sengaja dari mana Lisa? Apa sengaja harus berulang kali? Kali ini kesabaran gue udah habis buat ngadepin cewek tengik kaya dia. Di diemin bukannya sadar diri malah ngelunjak!" Julian terus mencekik leher Areta hingga gadis itu terbatuk-batuk.


"Kak Julian pliss."


Aksa dan Delvin yang melihat itu segera mendekati Julian dan membisikkan sesuatu tepat di telinga pemuda itu.


"Lebih baik Lo ajak Lisa pergi dari sini. Lo nggak kasian ngeliat dia nahan sakit?" Bisik Aksa namun tak direspon oleh Julian.


"Yaudah, biar gue aja yang ngajak dia pergi dari sini. Itung-itung pdkt, lumayan kan si Lisa cantik pinter lagi." Lanjut Aksa, ia lalu membantu Lisa berdiri.


"Lepasin Lisa atau tangan Lo patah saat ini juga!?" Sarkas Julian, Aksa menyunggingkan senyumannya. Julian melepas cengkeramannya dari leher Areta lalu mengambil alih tubuh Lisa dan mengangkatnya menjauh dari sana.


"Kak Julian, aku bisa jalan sendiri." Ucap Lisa di gendongan Julian.


"Bisa diem?"


Lisa terdiam, jika dirinya melawan tak ada gunanya. Melihat bagaimana seramnya aura Julian saat mencekik Areta saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri. Dia tidak mau mengambil resiko hanya kerena melawan Julian, bisa-bisa nyawanya melayang saat ini juga.


Aksa tersenyum remeh ke arah Areta. Jangan tanya di mana kedua teman gadis itu karena mereka sudah lari terbirit-birit saat melihat Julian datang dengan wajah yang sangat amat mengerikan tadi.


"Udah kapok?"


"Lisa si-sialan!" Umpat Areta tak terima.


Delvin menggeleng, "ck,,,ck,,,ck. Setelah Julian bikin nyawa Lo hampir melayang, bisa-bisanya Lo ngumpat?!" tanyanya tak percaya.


"Julian nggak akan tega ngebunuh gue demi cewek murahan kaya dia."


"Cewek murahan kaya dia dilindungi? Hah, nggak pantes banget."


"Males gue ngomong sama nenek lampir kaya Lo. Otak udah setengah, dibilangin ngelawan. Untung gue bukan emak Lo, bisa dower ni mulut gue cuma gara-gara nasehatin orang yang nggak punya otak." Skakmat, Areta terdiam.


"Udahlah, pergi aja. Gue mau ketemu sama Darra." Delvin menepuk pundak Aksa pelan, sedangkan pemuda itu mengangguk setuju.


"Byee nenek lampir. Sekolah belajar yang bener, jangan suka nge-bully. Otak udah miring makin leseng nanti." Ejek Aksa lalu pergi bersama Delvin.


"Ck. Awas Lo Lisa. Tunggu pembalasan gue."


🍁🍁🍁


Sapuan angin seketika membuat Lisa tidak merasakan sakit di kepalanya. Mata bulatnya menutup sambil tersenyum manis. Di sebelahnya ada Julian yang memandang wajah sayu Lisa. Tanpa sadar bibirnya membentuk lengkungan tipis. Ya, Julian tersenyum.


Entah sudah berapa lama Julian memandang wajah cantik di sampingnya, tetap saja matanya tidak pernah lepas dari wajah Lisa. Kini Julian berpikir untuk melakukan hal yang seharusnya ia lakukan beberapa hari yang lalu. Suatu hal yang sudah Julian pikirkan matang-matang. Dan hari ini, ia akan mengungkapkannya.


"Lisa."


Lisa membuka matanya, "iya kak?"


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."


"Apa."


"Mulai sekarang kamu pacar aku."


Lisa melotot tak percaya. Pernyataan macam apa itu? Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Bukannya Lisa mengharapkan lebih, hanya saja Julian terlalu kaku. Apa begitu cara menyatakan perasaan pada seorang gadis? Bahkan waktunya tidak tepat sekali. Bisa kita simpulkan bukan? Julian terlalu kaku. Jika Aksa melihat ini semua, dengan gampangnya pemuda itu akan bilang pada Julian jika cara menyatakan perasaan ala pemuda itu terlalu kaku seperti kanebo kering.


"Kak Julian serius? Tapi maaf aja ni kak, aku nggak bisa. Kita baru kenal beberapa hari yang lalu, jujur aku belum ada perasaan sama kakak." Ucap Lisa jujur, untuk apa berbohong jika nantinya hanya akan menyakiti kedua belah pihak.


"Itu bukan pernyataan. Tapi perintah!"


"Aku tetep nggak mau. Aku itu bukan ba—"


"Yang bilang Lo barang siapa?" Lisa terdiam. Wajah Julian yang awalnya biasa saja kini menatapnya tajam.


"Lo harus ikutin kemauan gue. Kalok gue bilang Lo jadi pacar gue, itu artinya Lo pacar gue!" Bentak Julian, "ngerti?"


Lisa meringis mendengar bentakan Julian padanya. Wajahnya menunduk, mengabaikan pertanyaan terakhir Julian padanya.


"NGERTI NGGAK?!"


Lisa tersentak kaget, "i-iya kak."


Mendengar itu Julian tersenyum senang. Dibawanya tubuh ramping Lisa kedalam dekapannya. Tidak bisa di pungkiri, dirinya sangat amat senang bisa mendapatkan gadis yang sudah memporak poranda hatinya sejak pertemuan mereka beberapa hari yang lalu.


"Makasih sayang."


Sedangkan di sisi lain, Lisa menggerutu kesal dengan sikap Julian yang berubah ubah.


"Udah egois, kasar, cuek, dingin, plin-plan lagi. Tadi bilang lo-gue, sekarang sayang. Bisa aja besok-besok lupa sama pacarnya sendiri."


"Memang aku plin-plan, tapi aku nggak bakalan lupa sama pacar aku sendiri." Ucap Julian membuat Lisa tertegun dengan ucapannya.


Julian terkekeh, "aku bakalan buat kamu cinta sama aku suatu saat nanti. Jangan ngebantah kalok nggak mau aku hukum. Ngerti?" Lisa hanya bisa mengangguk pasrah.


"Itu baru kesayangan aku."


Biarlah waktu yang memutuskan kapan Lisa akan mulai mencintai Julian dan kapan Julian akan membuktikan seberapa cintanya pemuda itu pada gadisnya. Tapi sekarang, biarlah keduanya menikmati waktu-waktu mereka bersama.


🍁🍁🍁