Sincerity

Sincerity
Part 4| Curhat Time



"Lo yakin itu kak Julian, Lis?" Tanya Darra setelah Lisa menyelesaikan ceritanya.


"Gue yakin banget Dar, apalagi gue udah beberapa kali ketemu dia. Lagipula Lo ngapain nanya kaya gitu ke gue?"


"Ya mungkin aja mata Lo rabun, terus yang Lo liat kak Julian. Nyatanya orang lain." Sahut Darra enteng.


"Lo pikir gue udah tua sampe mata gue rabun segala?"


"Mungkin."


"Bangke Lo!" Lisa memainkan ponselnya, sedangkan Darra kembali fokus menonton film kesukaannya.


Malam ini Lisa memang menginap di rumah Darra, berhubung Vano sedang ada acara di kantor dan kemungkinan pemuda itu akan menginap di rumah temannya. Darra sama sekali tidak mempermasalahkannya, lagi pula kedua orang tuanya sedang pergi berkunjung ke rumah neneknya yang berada di Bali. Setidaknya dia tidak sendirian untuk hari ini.


"Eh, btw Lis. Kalok gue pikir-pikir lagi ya, buat apa kak Julian marah sama Lo karna baju Lo yang sedikit terbuka? Kan di kelas itu bukan Lo aja yang pake baju kaya tadi." Ucap Darra mengemukakan pemikirannya.


"Dia bilang dance gue terlalu seksi. Gue kaya cewek murahan yang mamerin body gue di depan cowok-cowok di kelas. Dia juga bilang, gue manfaatin dance gue tadi biar gue nggak di bully lagi sama cowok-cowok."


"Itu kak Julian udah konslet kali otaknya. Gue liat dance Lo fine-fine aja. Nggak ada unsur ngegodanya." Sahut Darra.


"Nah Lo sendiri juga mikirnya gitu kan. Ada dendam apa sih kak Julian sama gue?Kesel gue!"


"Sabar Lis, mungkin kak Julian lagi pms. Lo positif thinking aja, mulai besok berusaha sebiasa mungkin kalok ketemu sama dia. Toh, nggak mungkin setiap hari Lo bakalan ketemu sama dia kan?" Sara Darra.


Lisa mengangguk, tidak perlu membesarkan masalah. Toh, dirinya juga tidak terlalu dirugikan atas perkataan sadis kakak kelasnya itu, "Lo bener. Thanks ya Dar, nggak sia-sia gue dateng kerumah Lo."


"Udah kaya penasehat handal ya gue, Lis. Udah pinter dalam pelajaran, pinter nyanyi, pinter nasehatin orang lagi." Puji Darra pada dirinya sendiri.


"Pinter nesehatin gundulmu! Buat sekarang nasehat Lo bisa bikin gue ke jalan yang benar. Nggak tau besok-besok."


"Emang gimana?"


"Menyesatkan!"


"Untung sahabat. Kalok bukan udah gue usir Lo dari sini!" Gumam Darra.


"Apa Lo bilang?"


"Enggak ada."


🍁🍁🍁


Sedari tadi Aksa, Alvaro, dan Delvin hanya bisa memandang Julian dengan tatapan takut mereka. Bagaimana tidak? Sejak Julian kembali dari sekolah, pemuda itu bukannya pulang ke rumah tapi malah pergi ke apartement miliknya. Dan yang lebih parahnya lagi, Julian sedang tidak dalam kondisi yang baik. Wajahnya yang dingin semakin mengeluarkan aura membunuhnya, tatapannya semakin mengintimidasi orang-orang yang melihatnya. Dengan kondisi seperti itu bagaimana bisa Aksa, Delvin, dan Alvaro meninggalkannya sendirian?


Bughhh,,,,bughhh,,,,bughhh,,,,


Entah sudah berapa samsak yang pemuda itu hancurkan hingga membuat tangannya sedikit memar. Aksa dan Delvin ingin sekali menghentikannya, tapi apa boleh buat. Mereka tidak memiliki nyali yang cukup untuk menghentikan seorang Julian.


"Nggak sakit apa tu tangan mukul samsak?" Tanya Delvin heran.


"Woy, bule lokal. Gue yakin Lo bisa nenangin si Julian." Ucap Aksa kepada Alvaro.


Alvaro tidak menjawab. Pemuda itu malah bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Julian yang masih asik memukul samsaknya.


Bughh,,,,Dengan sekali pukulan, Julian ambruk ke lantai dengan bagian pinggir bibirnya yang memerah.


"Bangun!"


"MAKSUD LO APA MUKUL GUE, BNGST!" Teriak Julian murka.


"Untuk pertama kalinya gue ngeliat Lo kaya orang gila hari ini. Ceritain apa masalah Lo sama kita." Ucap Alvaro dingin sembari kembali duduk di sofa kesukaannya.


"Lo semua nggak bakalan ngerti sama masalah gue." Ucap Julian lirih.


"Setidaknya Lo ceritain semua masalah Lo sama kita. Mau kita ngerti atau nggak, itu urusan belakangan." Delvin mendekati Julian dan memberikannya


"Gue udah bikin Lisa sakit hati sama omongan gue."


Sontak ucapan Julian membuat ketiga sahabatnya terkejut bukan main. Hei! Dihadapan mereka Julian bukan? Tumben sekali? Biasanya juga pemuda itu hanya cuek saja dengan semua ucapannya, entah itu akan membuat lawan bicaranya sakit hati atau tidak. Tapi sekarang? Entahlah.


"Ck, lepas!"


"Lagian Lo ngapain mikirin si Lisa. Cuek aja kali. Nggak biasanya Lo kaya gini." Ucap Delvin bingung.


"Bisa aja. Kalo si Julian ada apa-apa sama tu cewek."


"Lo suka sama Lisa?"


Aksa melototkan matanya tak suka atas ucapan Alvaro, "heh, si Lisa udah jadi target gue. Jangan Lo ambil dong!"


"Lisa bukan target siapa-siapa!" Ucap Julian datar.


"Wah, Lo emang ada apa-apa nih sama si Lisa. Ngaku Lo!"


"Nggak usah banyak bacot!"


"Santai dong, Jul. Tumben aja gitu, lo kepikiran sampe kek orang gila gini gara-gara marahin cewek." Sahut Aksa.


"Terus mau Lo apa?" Tanya Alvaro to the point.


"Gimana caranya biar Lisa mau maafin gue?"


"Oke fiks, si Lisa pake pelet." Ucap Aksa asal.


Dan beberapa detik kemudian...


Ctaaak!


"Gue gampar Lo!"


"Apaan sih Lo Dugong! Beneran kan apa yang gue bilang?"


"Si Lisa nggak mungkin pake pelet, emang tu cewek udah cantik dari Sononya." Aksa menaikkan alisnya heran.


"Lo suka sama Lisa? Kok ngebalain?"


"Gue sukanya sama Darra. Si Lisa udah ada yang gebet."


"Jadi Lo beneran suka sama Darra? Nggak masalah sih, gue liat-liat juga Lo cocok sama dia." Ucap Aksa mendukung.


"Wessh, tumben baik Lo?"


"Gue dukung salah, gue nggak dukung salah. Mau Lo apa sih pak Sutarjo?"


"Nama supir gue itu dodol!"


"LO BERDUA KESINI MAU BANTU GUE ATAU MAU CURHAT HAH?!" Bentak Julian emosi.


Delvin dan Aksa yang awalnya asik berbicara kini menutup mulut mereka rapat-rapat. Jika mereka melawan maka bersiaplah setelah keluar dari apartement pemuda itu, keduanya akan babak belur. Ayolah guys, apakah Julian semenakutkan itu?


"Saran gue, lebih baik Lo minta maaf sama dia besok. Terserah mau Lo dimana, yang pasti Lo harus minta maaf setulus-tulusnya sama dia. " Saran Alvaro tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.


"Nah bener tu! Cewek itu paling bisa nebak mana cowok yang tulus sama dia mana yang engga. Kalok niat Lo buat minta maaf karena bener-bener merasa bersalah, gue yakin dia bakalan maafin Lo. Tapi, kalok buat alesan lain, jangan deh. Yang ada si Lisa makin benci sama Lo!" Tambah Aksa dengan menggebu-gebu.


"Semangat amat Lo kalo masalah beginian."


"Ya maklum, sering baca cerita romansa. Hapal gue yang beginian mah." Bangga Aksa.


"Semua ada di tangan Lo Julian." Ucap Alvaro mengingatkan.


"Gue—"


"Gue apa?"


"Gue akan lakuin."


🍁🍁🍁