Sincerity

Sincerity
Pertemuan Helena dan Xylina



Sebuah mobil masuk ke dalam perkarangan rumah mewah keluarga Jefferson. Setelah mobil tersebut terparkir dengan sempurna, seorang pemuda turun dari mobil tersebut dan berjalan ke arah pintu utama rumah mewah di hadapannya.


Ting tong-!!


Pemuda tersebut memencet tombol bel yang ada di dekat pintu. Setelah itu, pintu dibuka oleh seorang pelayan yang bekerja di rumah besar tersebut dan menatapnya sambil tersenyum.


"Eh, tuan muda Rasya. Silahkan masuk, tuan!" Pelayan tersebut mempersilahkan pemuda itu yang tak lain adalah Rasya, agar segera masuk ke dalam.


Tanpa menanggapi ucapan pelayan tadi, Rasya langsung masuk dan melihat Carine yang ada di ruang keluarga bersama Selena yang tengah menonton televisi, ia pun langsung duduk begitu saja di sofa panjang ruang keluarga.


"Kak Rasya!" seru Selena senang dengan kehadiran kakak sepupunya itu. Ia pun langsung menghampiri Rasya dan memeluk gemas Kakaknya lalu melepaskannya lagi.


"Kakak kok baru ke sini lagi?" tanya Selena.


"Sorry, i'm busy," jawab Rasya dengan alasan sibuk.


"Oh ... kalau sekarang, busy gak?"


"Nggak. Hari ini Kakak nginep di sini"


Mendengar Kakak sepupunya akan menginap, Selena sangat bahagia. Namun, hal itu malah membuat perhatian bagi Carine. Wanita itu menoleh dan menatap ke arah Rasya.


"Kenapa kamu nginep di sini? bukannya ada cewek yang harus kamu jaga dan urusin?" tanya Carine dengan sinis dan nada ketusnya karena masih kesal dengan perkataan Rasya waktu itu saat di telepon.


"Ada yang harus Rasya omongin sama Tante dan Om." Rasya menjawab maksud dari kedatangannya dan menginap di rumah Om dan Tantenya karena ingin membicarakan sesuatu yang penting.


Carine masih menatap sang keponakan, kali ini tatapannya penuh menyelidik karena ia yakin ada sesuatu yang sudah pemuda itu lakukan dan akan meminta tolong padanya.


"Awas kalau kamu ngelakuin hal yang nyusahin suami Tante!" ujar Carine memberi peringatan pada Rasya. Namun, pemuda itu hanya diam mendengar ujaran dari Tantenya.


"Rasya! kamu denger nggak?!" seru Carine karena tak mendapat respon dan sang keponakan.


"Iya ah, berisik!" sahut Rasya kesal lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar di mana ia selalu tidur di sana jika menginap di rumah Roy.


"Dih, keponakan kurang ajar, gak sopan! mana belum minta maaf lagi," gerutu Carine saat Rasya dengan tidak sopannya langsung pergi begitu saja.


"Mami, Kak Rasya kenapa?" tanya Selena penasaran saat Rasya sudah pergi dari ruang keluarga. Carine hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban ketidaktahuannya.


Sementara di kediaman keluarga Stewart, Eric yang tengah duduk bersama Hadley dengan tatapan penuh amarah dan kecewa setelah mendengar kejadian yang menimpa adiknya ini.


"Sekarang, di mana laki-laki itu, Pa?" tanya Eric yang menanyakan keberadaan laki-laki yang dia maksud sebagai ayah dari anak yang dikandung adiknya itu kepada Papanya.


"Orang-orang kita masih nyari. Katanya Rasya gak ada di kediamannya," jawab Hadley yang memberitahu informasi yang disampaikan anak buahnya itu.


Eric bangkit dari duduknya sembari berkata, "Eric bakal cari dia dan kasih dia pelajaran karena udah bikin hidup Agnez hancur!"


"Terserah, tapi kamu bakal cari dia di mana, hah??" ujar Hadley.


"Kemanapun, Pa. Kemanapun asal dia harus tanggung jawab dengan kondisi dan masa depan Agnez." sahut Eric yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Papanya.


Hadley tidak menahannya, ia malah memerintahkan beberapa bodyguard untuk mendampingi putranya dan membantunya. Setelah itu, Hadley masuk ke kamarnya dan melihat sang istri yang tengah menangis di atas ranjang. Hadley pun menghampiri Adaline sembari meletakkan tangannya di atas bahu sang istri lalu memeluknya. Adaline malah makin terisak di dekapan Hadley karena ia ingin menumpahkan seluruh air matanya dalam pelukan sang suami.


"Hiks ... hiks ... kenapa kejadian ini harus terjadi sama Agnez, putri kita?" lirih Adaline di sela-sela isak tangisnya.


Hadley membelai lembut rambut istrinya dan mengecup pucuk kepala Adaline dengan sayang untuk menenangkannya.


"Sayang, dengerin aku!" Hadley menangkup wajah Adaline lalu tangannya tergerak menghapus air mata sang istri dan kembali menatapnya.


"Adaline, semua ini udah jadi takdir putri kita, Agnez. Kita emang gak bisa ngelawan kehendak Tuhan, tapi kita bisa mencari solusi dari masalah ini. Aku, Eric dan orang-orang kita lagi nyari keberadaan Rasya, orang yang bertanggung jawab dengan anak yang di dalam kandungan Agnez. Jadi, kamu jangan nangis terus. Aku bakal urus semuanya dan hari ini akan segera berlalu. Kamu harus kuat supaya Agnez juga kuat, ya?" tutur Hadley dengan begitu lembut agar istrinya mengerti. Sungguh, setelah mendengar ucapan Helena, Hadley tersadar dan jadi bisa mengontrol emosinya itu.


Adaline menganggukkan kepalanya sebagai respon.


"Sekarang, Helena dan yang lainnya masih di sini atau udah pulang?" Adaline menanyakan keberadaan teman-teman putrinya yang tadi sudah membantu dan menemani Agnez.


"Mereka udah pulang sejam yang lalu, dan sekarang kamu harus keluar dari kamar untuk makan malam. Ajak Agnez, dia pasti belum makan dari tadi karena sedih. Mungkin, kalau kamu yang bujuk, dia bakal mau makan," kata Hadley.


"Iya," jawab Adaline. Setelah itu, ia pun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar bersama suaminya untuk memanggil Agnez agar makan malam bersama.


...----------------...


Kediaman keluarga Williams


di dalam kamar, Helena merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamarnya. Ia merasa ikut sedih dengan kejadian yang menimpa sahabatnya itu. Baru saja Agnez berubah menjadi lebih baik, masalah sudah menimpa sahabatnya.


'Setiap manusia pasti bakal diuji. Begitu juga Agnez, semua kejadian pasti ada pelajaran dan sisi positifnya,' ucap Helena dalam hati.


Drrrtt... drrrttt...


Ponsel Helena bergetar yang menandakan ada telepon masuk. Helenapun mengambil ponsel yang masih ada di dalam tasnya dan melihat siapa yang sudah meneleponnya.


"Xylon?" gumam Helena yang langsung mengangkat telepon dari kekasihnya dengan malas.


^^^"Halo"^^^


"Lemes banget, udah makan?"


^^^"Belum"^^^


"Why? mau aku suapin?"


^^^"Ih apaan sih, orang lagi badmood"^^^


"Haha, oke. Just kidding"


"Kenapa kamu badmood, hm?


PMS?"


^^^"Bukan"^^^


"Terus?"


^^^"Nggak"^^^


"Hm, aku bingung cara


ngebujuk cewek yang lagi


badmood kayak kamu"


^^^"Ya udah nggak usah ngebujuk"^^^


"Mau ketemu Xylina?"


...Helena terdiam sesaat lalu tersadar dengan tawaran Xylon yang membuatnya langsung antusias dengan tawaran itu....


^^^"X-XYLINA YANG CEO brand^^^


^^^XYlina itu?????"^^^


"Yup"


^^^"ANJAY, MAU BANGETLAH!!!"^^^


"Katanya badmood"


"Kalau badmood gak jadi aku


anterin kamu meet sama dia"


...Xylon menggoda Helena karena ia sangat suka mendengar atau melihat Helena yang merasa kesal karena membuatnya semakin menggemaskan menurut Xylon....


^^^"Kita putus ya?"^^^


"Jangan!"


^^^"Kenapa?"^^^


"Nanti aku harus mulai


semuanya dari awal"


^^^"Hm...."^^^


...di seberang sana, Xylon sedikit panik karena ia pikir Helena sungguh marah dengannya....


"Hel?"


"Helena?"


"Helena???"


"Jangan marah!"


...Oke, Xylon benar-benar panik sekarang....


...Tapi di sisi lain, Helena sedang menahan tawanya. Ia sengaja diam dan ingin tahu bagaimana Xylon membujuknya....


...Tiba-tiba, sebuah ide terlintas dalam pikiran Xylon untuk membuat Helena bersuara....


"Sayang? cinta? by? honey?


Chagiya? mommynya anak-anak aku?"


...Ya, Xylon memanggil Helena dengan panggilan-panggilan yang membuat gadis itu merasa geli dan marah. Xylon yakin dengan cara ini, Helena akan bersuara....


^^^"Ih geli!!!!!"^^^


"Hahaha, aku tau kamu


bakal ngomong kalau digituin"


^^^"Issshhh!"^^^


"Turun sekarang, aku di lantai


bawah dari tadi nungguin kamu"


^^^"Suruh siapa nungguin?"^^^


"Ya udah aku pulang ya, nggak


^^^"Oke oke, aku ganti baju dulu"^^^


"di tunggu Mommy~"


^^^"XYLON!"^^^


"Hahaha-"


...Xylon langsung memutuskan panggilan telepon itu sambil tertawa puas....


......................


di lantai bawah, rupanya Xylon memang sudah ada di ruang tamu dan baru saja selesai menelepon Helena.


Saat ia melihat ke arah depan, rupanya Shelly tengah menatapnya dengan tatapan sulit diartikan sembari memegang cemilan di tangannya.


Xylon menaikkan sebelah alisnya seolah-olah bertanya 'kenapa?'


"Wow, Lo ketawa!" seru Shelly saat ia melihat Xylon yang tertawa tadi ketika menelepon seseorang dan membuat Shelly sedikit tertegun. Sebab, jarang sekali ia melihat tawanya Xylon.


"Iya, napa emang?" tanya Xylon sedikit ketus.


"Daebak, siapa manusia yang bisa bikin Lo ketawa, huh? gua kira lu ada penyakit yang nggak bisa ketawa." Shelly pun akhirnya duduk di sofa single yang ada di ruang tamu itu.


"Helena," jawab Xylon


"Oh pantesan, abis teleponan sama ayang," ledek Shelly.


"Eh kok, Mami nggak ngobrol sama lo?" sambungnya yang bertanya tentang keberadaan Laura. Sebab, setiap kali ada tamu dan Maminya sedang di rumah, pasti Laura atau Adelard yang mengobrol dengan tamu tersebut.


"Mami habis dari toilet." seru Laura yang tiba-tiba datang dan bergabung duduk di sofa ruang tamu.


Xylon pun langsung mematikan ponselnya begitu Laura sudah kembali dari toilet.


"Dari tadi Helena belum turun, Xylon?" Laura bertanya ketika melihat Helena yang belum juga datang ke ruang tamu.


"Lagi ganti baju katanya, Tan," jawab Xylon.


Laura manggut-manggut


"Heyyo guys!!! I'm coming!!!" Helena datang dengan senyuman yang tak luntur di wajahnya.


"Lama, ditungguin dari tadi sama Xylon!" ujar Laura pada putrinya itu.


"Hehe, lagian mana aku tau Xylon ada di sini." sahut Helena sembari cengengesan dan berjalan menghampiri kekasihnya.


"Oh iya Xylon, Xylina lagi di Indonesia, kan?" tanya Laura yang mendengar dari Fiona bahwa Xylina sedang pulang ke tanah air.


"Iya, Tante," jawab Xylon membenarkan.


"Kapan-kapan kita dinner bareng, mumpung Xylina lagi pulang"


"Bisa aja, Tante. Nanti kasih tau aja mau kapan"


"Iya"


"Xylon, ayo!" ujar Helena yang sudah tak sabar akan menemui idolanya, yaitu Xylina Rodriguez.


"Kalian mau ke mana sih?" tanya Shelly yang penasaran ke mana Helena dan Xylon akan berkencan.


"Ketemu CEO brand XYlina, hohohoho~" jawab Helena dengan salah tingkah sambil membayangkan ia akan bertemu dengan Xylina secara langsung.


Shelly dan Laura saling memandang karena tingkah Helena yang menurut mereka tidak jelas dan berlebihan. Sementara Xylon, ia hanya tersenyum menatap kekasihnya yang sepertinya sangat bersemangat untuk bertemu dengan Xylina, kakaknya.


"Lebay!" ujar Laura dan Shelly serempak.


"Sirik aja!" cetus Helena pada Mami dan Cicinya.


"Come on, chagiya!" sambungnya yang mengajak sang kekasih untuk segera berangkat ke rumah keluarga Rodriguez.


"Iya, ayo." Xylon pun beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan pada Laura. Setelah itu, Xylon dan Helenapun langsung pergi dari rumah Helena dan menuju rumah Xylon.


...****************...


di perjalanan


"Dari tadi senyum-senyum mulu, seneng banget kayaknya," ujar Xylon yang melihat sekilas Helena yang terus tersenyum.


"Deg-degan!" sahut Helena sembari memegang dadanya.


"Hahahahaha, Tante Laura sama Shelly bener, kamu lebay!" ledek Xylon.


"Kamu nggak tau rasanya, diem ajalah!" kesal Helena lalu menatap keluar jendela.


Xylon hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Helena itu.


Sesampainya di kediaman Rodriguez, Xylon turun dari mobilnya lalu memutar untuk membukakan pintu kekasihnya. Helena turun dengan jantung yang terus berdegup kencang. Ia akan bertemu idolanya, ini seperti mimpi. Apalagi, idolanya itu adalah Kakak dari pacarnya sendiri. Hal itu membuatnya semakin senang dan bersemangat untuk bertemu Xylina.


"Ayo." Xylon menggandeng tangan Helena dan mereka berdua pun masuk ke dalam rumah mewah keluarga Rodriguez.


"Ganggu nggak sih aku ke sini malam-malam?" tanya Helena sedikit berbisik.


"Nggak, ini belum jam makan malam. Mama Papa juga pengen kamu main ke sini, makanya aku ajak kamu sekalian ketemu idola gembel kamu," jelas Xylon.


"Parah banget, Xylina kan Kakak kamu"


"It's okay, Xylina juga sering ngajak ribut soalnya"


"Ish, ish, ish"


Tak lama, seorang pelayan membuka pintu utama untuk tuan muda dan kekasihnya.


"Mama Papa dan yang lain ada di mana?" tanya Xylon pada pelayan tersebut.


"Nyonya besar, Tuan besar dan yang lainnya ada di ruang makan, Tuan. Mereka baru mau mulai makan malam," jawab pelayan tersebut.


"Oke," ucap Xylon.


"Kalau gitu, saya permisi, Tuan." kata pelayan tersebut yang memberi hormat pada Xylon dan langsung pergi setelah Xylon menganggukkan kepalanya.


"Sayang, berarti kita dinner bareng ya!" ujar Xylon pada Helena yang terus menggenggam tangannya.


Helenapun hanya menganggukkan kepalanya dan pergi bersama Xylon ke ruang makan.


Sesampainya di ruang makan, Helena semakin gugup saat seluruh keluarga Xylon berada di sana dan menatap ke arahnya.


"Eh, Hi Helena sayang!" Fiona yang langsung bahagia melihat Helena datang bersama putranya pun langsung menghampiri gadis itu yang dari wajahnya saja sudah sangat canggung.


"I-iya hai, Tante! apa kabar?" Helena membalas seruan Fiona dan merekapun berpelukan.


"Baik dong, ya ampun! akhirnya kamu main ke rumah," ucap Fiona setelah melepas pelukannya.


"Iya, Tante. Maaf Helena baru sempet main ke sini," sahut Helena.


"Nggak apa-apa, ayo duduk!" Fiona pun mengajak Helena agar duduk dan bergabung dengan mereka untuk makan malam bersama.


Helena hanya mengangguk dan tersenyum canggung karena semua orang masih menatapnya.


"Malam Om Freddy, malam semuanya," sapa Helena pada anggota keluarga Xylon.


"Malam, Helena. Apa kabar, nak?" sahut Freddy lalu bertanya balik mengenai kabar Helena.


"Baik, Om! Om apa kabar?"


"Baik"


"Eh Helena, duduk dong! ayo duduk, nggak usah malu-malu!" ujar Fiona saat Helena tak kunjung duduk.


"Eh iya, Tan!" sahut Helena yang kemudian duduk diikuti Xylon yang duduk di sisi kanannya. Fiona pun kembali ke tempat duduknya yang berada di sisi kiri Helena dan menatap gadis itu lalu bertanya, "Belum makan, kan? kita makan malam bareng ya?"


"Iya," jawab Helena sembari tersenyum pada Fiona.


Xylina menatap ke arah Helena yang berada di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Helena!" panggilnya. Yang merasa di panggil pun menatap ke arah Xylina dengan gugupnya.


'Ya ampun, gue dipanggil sama Xylina!!!! Aaaaaaaaa, pokoknya habis ini mau pamer ke asyulo' batin Helena begitu senang karena Xylina memanggilnya.


"I-iya?" sahut Helena menatap Xylina.


"Anaknya Om Adelard?" tanya wanita muda di depannya itu.


"Iya, anak sambung," jawab Helena jujur agar tidak ada yang salah paham.


'Eh? anak sambung emang ada ya? gue taunya ayah atau ibu sambung. Gapapalah, dia pasti ngerti' batin Helena.


"Oh ... berarti bukan marga Williams, ya?"


"Iya"


"Kamu inget gak, waktu kita pernah ketemu di Singapore?" Xylinapun kembali menanyakan pertemuan tidak sengaja mereka saat di Singapore.


"Inget dan aku nyesel banget waktu itu," jawab Helena.


"Nyesel kenapa?"


"Iya, aku nyesel. Nyesel karena baru ngeh kalau yang nggak sengaja tabrakan sama aku itu CEO-nya XYlina," jawab Helena kembali.


Xylina tertawa mendengarnya.


"You know? I feel familiar with your face that time," kata Xylina yang menceritakan secara singkat saat tak sengaja tabrakan dengan Helena di gedung brandnya waktu itu.


"Oh ya? emang sebelum waktu itu kita pernah ketemu?" tanya Helena yang merasa sedikit bingung karena ia sendiri baru kali ini bertemu dengan Xylina secara sengaja dan berbincang-bincang dengannya langsung.


TBC


Note:


Correct me if i wrong!