
London.
Pukul 22.00
"Huh.. akhirnya selesai juga." Lega Esar karena dua tugas kampus dengan contoh kasus yang berbeda Esar kerjakan. Dua contoh kasus? Yup, yang satu untuk dirinya dan yang satu untuk Nyai Kompeni kesayangannya.
Esar membereskan meja kerjanya setelah itu barulah ia keluar dari dalam ruang kerjanya.
"Millie udah tidur belum yah? Sakit pinggang gue tidur di sofa mulu." Gerutu Esar.
"Apa gue tidur di kamar bawah aja kali yah." Gumam Esar.
Agar tidurnya di kamar yang ada di lantai bawah tenang dan tanpa gangguan Nyai Kompeni, pertama yang harus Esar lakukan adalah memastikan istrinya itu tidur terlebih dahulu.
Esar pun naik kelantai atas.
Kini Esar sudah berada di depan pintu kamarnya dengan Millie, sebelum memutar handle pintu, Esar berdoa terlebih dahulu.
"Mudah-mudahan Millie udah tidur." doa Esar.
Esar menghela nafasnya kasar lalu memutar handle pintu dengan sangat pelan lalu masuk kedalam kamar juga dengan sangat perlahan.
Hiks.. hiks.. hiks. Suara isakan tangis langsung menyambut kedatangan Esar di dalam kamar.
"Kenapa dia?" Monolog Esar bertanya-tanya. Panik? Jelas! Karena hanya ada satu hal yang biasanya membuat Millie menangis. Apalagi kalau bukan kalau Aki kesayangannya diakuisisi oleh Nini Madam, musuh bebuyutan Millie.
Dengan langkah panjang Esar berjalan memasuki ruang tidur.
Sesampainya di ruang tidur, Esar melihat Millie sedang berbaring dengan posisi membelakangi dirinya.
"Mill.." panggil Esar sambil berjalan mendekati ranjang.
"Mill.." panggil Esar lagi.
Tapi Millie tetap tidak menggubris atau sekedar menoleh kearahnya. Makin dag dig dug tidak jelas lah jantung Esar.
Namun saat Esar sudah sampai di dekat Millie, Esar menghela nafasnya lega tapi juga bercampur kesal karena Millie sudah membuatnya panik.
Karena saat ini Millie sedang menonton film dari ponselnya dan memakai earphone bluetooth. Entah film apa yang sedang Millie tonton sampai-sampai bisa membuat Millie menangis.
Sedangkan Millie, menyadari keberadaan Esar di dekatnya, Millie pun mematikan ponselnya, melepaskan earphone-nya lalu meletakkannya diatas nakas.
"Udah selesai ngerjain tugasnya?" Tanya Millie santai sambil mengubah posisi-nya menjadi duduk dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
"Nonton apaan loe sampe nangis?" Bukannya menjawab pertanyaan Millie, Esar malah bertanya balik.
Tapi tidak dengan Esar. Mendengar pengakuan Millie, jelas saja Esar terkejut. Seorang Millie, menonton sinetron ku menangis di siaran ikan menggelar?
"Woah... kayaknya bentar lagi kiamat ini!!!" Gumam Esar dalam hatinya.
"Kenapa loe bengong disitu?" Tanya Millie.
"Gak! Gak pa-pa!!" Jawab Esar.
"Ya udah sana tidur! Gue juga mau tidur!" Millie pun kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Mmm... Mill.."
"Apa? Selimut? Tuh.. udah gue siapin selimut loe di sofa!" Balas Millie sambil menunjuk sofa.
"Bukan."
"Terus apa?"
"Gue tidur di kamar bawah yah?!" Izin Esar dan di respon dengan tatapan tajam oleh Millie.
"Badan gue sakit Mill kalau tidur di sofa mulu. Kan loe gak mau deket-deket gue! Yah Mill, boleh yah Mill." Mohon Esar.
"Ya udah sana!!!" Jawab Millie.
"Beneran?" Tanya Esar kesenangan.
"Mmmm..."
"Ya udah, gue turun yah."
"Mmm..."
"Sleep tight my hubby." Ucap Esar sebelum keluar dari kamar.
Setelah Esar keluar dari kamar, cepat-cepat Millie mendudukkan dirinya lalu melongokkan kepala untuk sekedar memastikan Esar benar-benar sudah keluar dari kamar.
"Ganggu aja!!! Filmnya tadi kan lagi seru-serunya!!" Dumel Millie lalu mengambil ponselnya kembali dan memakai earphone bluetooth ke telinganya.
Millie pun kembali menonton sinetron ku menangis yang ada di siaran ikan menggelepar itu.
Bersambung...