Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 37



Kini Nini Madam telah berada dalam kamarnya.


Sebelum masuk ke dalam kamar, ia merubah terlebih dahulu raut wajahnya dari senang ke kesal. Mode drama ON.


Begitu masuk dalam kamar, Nini Madam langsung masuk ke dalam ruang ganti lalu menurunkan koper.


BRAAK. Sengaja ia menurunkan koper dengan keras, agar Aki Edwin penasaran dengan apa yang Nini Madam lakukan.


Dan benar saja, tak lama Aki Edwin pun menyusul ke ruang ganti untuk melihat apa yang sedang di lakukan istri tersayangnya itu.


"Kamu mau kemana?" Tanya Aki Edwin saat melihat Nini Madam sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.


"Mau pulang kampung." Jawab Nini Madam ketus.


"Ada masalah disana?"


"Masalahnya bukan disana tapi disini. Daripada aku selalu tersisihkan disini lebih baik aku pulang ke kampung ku. Disana masih banyak yang ingin menjadikan ku ratu."


"Apa maksud mu? Dan siapa yang menyisihkan mu?"


"Siapa lagi kalau bukan diri mu Ed!!! Kau terus memperhatikan Millie dan mengabaikan ku. Kau sudah tidak membutuhkan ku lagi, jadi lebih baik aku pergi dari sini. Aku juga sudah menyerahkan urusan perusahaan pada Yordan. Aku tidak akan kembali lagi kesini."


Mendengar itu Aki Edwin langsung kalang kabut. Ia langsung mendekati istrinya dan menaruh kembali semua pakaian yang sudah Nini Madam masukkan ke dalam koper.


"Minggir Ed, biarkan aku pergi!!!" Teriak Nini Madam sambil menarik kembali pakaian yang Aki Edwin ambil.


Tarik menarik pun terjadi.


Tau kalau tarik menarik pakaian tidak akan menyelesaikan masalah, Aki Edwin pun menyentak pakaian itu dan langsung menarik tubuh Nini Madam ke dalam pelukannya.


"Kau apa-apaan sih, masa hanya karena masalah sepele kau langsung marah seperti ini pada ku?! Aku tidak mengijinkan mu pergi kemana pun. Kau harus tetap berada disamping ku seumur hidup ku." Ucap Aki Edwin sambil mengelus kepala sang istri.


"Untuk apa aku disamping mu kalau hanya kau anggap patung dan penghangat ranjang mu!" Balas Nini Madam. Gaya bicaranya seolah-olah mereka masih bau kencur.


"Kau ini ngomong apa sih?! Siapa yang menganggap mu seperti itu, hah? Kau itu wanita yang paling berharga di hidupku Sarah."


"Kalau memang begitu, kenapa kau selalu mengutamakan Millie ketimbang aku?"


"Karena Millie cucu ku, cucu kita. Apa salah kalau aku menyayangi cucu kita?"


"Tapi aku cemburu!!! Bahkan kau memberikan kartu debit mu pada Millie."


Aki Edwin menghela nafasnya.


"Lalu kau mau apa dari ku agar kau tidak cemburu lagi pada Millie?"


"Memangnya kau akan memberikan apa yang aku inginkan?"


"Pasti sayang. Apapun itu, aku akan mengabulkannya, asal jangan kau suruh aku membeli planet saja."


"Kalau aku ingin berlibur berdua saja dengan mu menggunakan kapal pesiar bagaimana? Apa kau mau mengabulkannya?"


"Hanya itu saja? Baik lah, itu sangat mudah bagi ku. Tapi kita tidak bisa hanya berdua saja."


"Apa kau juga ingin mengajak Millie?"


"Bukan begitu sayang. Maksud ku, kalau hanya kita berdua saja di kapal pesiar, lalu yang mengendarai kapalnya siapa? Yang melayani kita di kapal siapa? Bukan kah kita butuh nakhoda dan pelayan di sana?"


"Ish.. aku pikir kau mau mengajak Millie!!"


"Kalau mengijinkan, ya tidak masalah."


"Tidak!!! Aku tidak mau!!! Awas saja kalau kau sampai mengajak cucu tengil mu itu!! Dan saat kita di kapal nanti, kau juga tidak boleh ber video call dengannya. Aku akan memegang ponsel mu!!! Pokoknya liburan kali ini hanya ada kita berdua."


"Iya sayang. Aku akan menuruti semua yang kau mau, asal kau jangan pernah lagi berpikir untuk pergi dari ku, oke?"


Nini Madam menganggukkan kepalanya sambil tersenyum penuh kemenangan.


FLASHBACK OFF.


Di unit apartemen Esar.


Arthur sudah siap pergi malam mingguan gratisan bersama Millie, Nancy dan Alpha.


"Mau kemana loe?" Tanya Esar.


"Mau malam mingguan lah."


"Sama siapa? Sama Nancy?" Tanya Esar mengejek.


"Iya. Kita double date. Gue sama Nancy, Millie sama Alpha. Mau apa loe?!" Kini gantian, Arthur yang mengejek Esar.


Mendengar itu, Esar langsung berubah menjadi siluman cacing kepanasan dan kena garam.


"Mereka udah pacaran Thur?" Tanya Esar penasaran.


"Gak tau gue. Tapi kayaknya mereka makin mesra deh. Nancy bilang kalau di ruang kerjanya, kerjaan Millie cuma video call an aja terus sama si Alpha." Jawab Arthur makin memanas-manasi. Padahal sebenarnya Nancy tidak pernah mengatakan itu pada Arthur.


"Serius loe?! Pantesan aja performa tuh anak gak beres!!" Dumel Esar.


"Gue harus aduin sama Uncle Yordan. Kalau Millie gak becus kerja, malah pacaran terus!!" Kata Esar lagi.


"Dih.. malah seneng lah bokapnya si Millie tau anaknya udah punya pacar. Secara anak gadisnya udah kayak kepala mafia bengisnya." Timpal Arthur.


"Iya juga yah." Gumam Esar dalam hati.


"Eh.. tunggu gue ikut!!" Kata Esar.


"Loe mau ngapain ikut-ikut? Loe gak punya harga diri mau ngintilin orang pacaran?! Kalau mau ikut cari pacar dulu sana!!" Omel Arthur.


"Haish!!! Ya udah sana loe pergi!!! Pergi aja kalian semua!!! Pacaran aja sana sampe puas!!!" Teriak Esar dongkol. Karena kesal, Esar pun masuk ke dalam kamar.


BRAAAK. Esar membanting pintu kamar.


"Dih.. dia marah!!! Perasaan dulu dia deh yanh bilang urus urusan masing-masing. Giliran si Nyai sibuk sama urusannya dia bete!! Aneh!!! Makanya dengerin kata Nyai, nyesel loe kan sekarang!!" Dumel Arthur.


Arthur pun keluar dari dalam unit apartemen untuk menjemput Millie dan Nancy di unit apartemen mereka, meninggalkan Esar sendirian dengan kekesalannya.


Ting Nong Ting Nong. Arthur menekan bel apartemen Millie.


Tak lama pintu terbuka.


"Masuk dulu Thur. Si bayi gede lagi ngambek, badmood." Kata Nancy.


"Millie ngambek? Emang bisa tuh orang ngambek? Pasti orang yang bikin Nyai ngambek ilmu dukunnya tinggi nih." Balas Arthur.


"Siapa lagi sih yang bisa bikin dia kesel kalau bukan neneknya sendiri." Balas Nancy.


"Woaaaah. Pasti masalah perebutan ATM berjalan kan?" Tanya Arthur.


"Ya iya lah siapa lagi." Jawab Nancy.


Mereka pun berjalan menuju ruang tengah dimana Millie sedang tantrum di atas sofa.


Melihat Millie seperti bocah yang tidak di belikan es dung dung, Arthur sampai menggelembungkan pipinya menahan tawa.


"Ini pertama kalinya gue lihat Nyai Kompeni kayak gini." Bisik Arthur di telinga Nancy.


"Ssst!!! Hati-hati loe ngomong. Justru kalau dia lagi kayak gini, kita gak boleh main-main. Kena kepret loe nanti langsung kesurupan boneka mampang loe!!" Kata Nancy memperingatkan.


"Mill, udahan dong tantrumnya. Nih si Arthur udah dateng nih, kita kan mau nonton." Kata Nancy.


"Gue masih belum bisa terima Cy, Aki gue liburan sama tuh nenek-nenek!!!" Jawab Millie berteriak.


"Kan liburannya sama nenek loe!! Kalau jalannya sama nenek gue baru loe histeris!!" Celetuk Arthur.


Jelas saja celetukan Arthur membangunkan singa betina yang sedang datang bulan dan sedang kelaparan. Millie pun langsung duduk dan menyalangkan matanya menatap Arhur.


Melihat tatapan Millie yang menyeramkan seperti si Ratu Film Horor, Arthur menelan salivanya susah payah.


Arthur memundurkan langkahnya selangkah demi selangkah saat Millie mulai mengangkat bokong nya dari sofa dan berjalan ke arahnya.


"Apa loe bilang tadi? Aki gue jalan sama nenek loe!!! Emangnya loe mau nenek loe cepet-cepet gue kirim ke akhirat, hah!!" Teriak Millie.


"Kan gue bilang kalau, Mill.." Ucap Arthur membela diri.


"Udah gue bilang hati-hati kalau ngomong, lah ini dia asal main nyeletuk aja!!" Dumel Nancy dalam hati.


"Nini gue aja gak boleh liburan berduaan, apalagi kalau Aki gue liburan sama nenek loe!!!" Teriak Millie. Millie yang sedang kesurupan setan pencemburu langsung menyerang Arthur membabi buta.


Puas melampiaskan kekesalannya pada Arthur, Millie pun berhenti menyerang Arthur.


"Huh... lega!!!" Ucap Millie lega seperti orang yang baru selesai buang hajat.


"Udah yuk jalan." Ajak Millie pada Nancy.


"Mending loe beresin dulu deh penampilan loe." Balas Nancy.


Millie pun meraba rambutnya dan melihat pakaiannya yang ternyata sudah berantakan. Ia pun berjalan menuju kamarnya untuk membenahi penampilannya.


Begitu Millie masuk kamar, cepat-cepat Nancy mendekati Arthur yang jauh lebih berantakan dari Millie. Tapi untungnya Millie hanya menjambak-jambak rambut Arthur dan bukan merobek-robek pakaian Arthur.


"Loe gak pa-pa?!" Tanya Nancy.


"Kepala loe gak pa-pa!!! Udah loe lihat gue amburadul begini, masih nanya lagi loe!!" Omel Arthur sambil mendudukkan tubuhnya dan di bantu oleh Nancy.


"Kan gue udah bilang kalau dia lagi kayak gitu loe harus hati-hati ngomong, kalau perlu loe diem aja!!! Jadi kena sasaran kan loe!!" Nancy balik memprotes Arthur.


"Berarti loe sering dong kena sasaran amukan si Nyai?"


Nancy menggelengkan kepala.


"Tapi kalau jantung di buat copot sama dia sering. Dia tuh biasanya kalau udah kayak gitu pergi ke tempat latihan boxing, terus orang-orang disana di ajakin duel sama dia. Apa gak jantungan gue, kalau sampe tuh anak yang bonyok, kan gue juga yang kena tatapan tajam sama seisi keluarganya, apalagi sama Aki nya."


"Dih.. kan bukan loe yang bikin dia bonyok. Paling juga orang yang bikin dia bonyok yang di cari sama Aki nya."


"Ya tetap aja jantung gue deg deg an!!!"


Tak lama Millie pun keluar dari dalam kamarnya.


"Udah yok jalan." Ajak Millie dengan raut wajah seolah tak terjadi apa-apa.


"Cih... bipolar kayaknya nih orang!!!" Decih Arthur dalam hati saat melihat ekspresi Millie yang tanpa dosa itu.


"Ayo." Jawab Nancy.


Dan mereka pun keluar dari dalam unit apartemen Millie.


Bersambung...