Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 48



Ceklek. Tiba-tiba saja pintu ruang kerja Millie terbuka.


Ternyata Arthur lah yang membuka pintu ruang kerja Millie.


Melihat Arthur yang ternyata membuka pintu, Esar langsung memutar bola matanya malas.


"Mengganggu aja!!" Dumel Esar.


"Gue cari loe kemana-mana, gak tau nya malah disini!!! Balik loe keruangan loe!!! Di grebek satpol pp loe berdua langsung di seret ke catatan sipil tau gak!!!" Omel Arthur.


"Kan ada loe asisten gue!!" Jawab Esar males.


"Udah sana loe balik akh!!! Gue mau kerja!!!" Usir Millie lagi.


"Nanti gue pergi dari sini, loe kabur lagi." Balas Esar. Esar takut Millie sadar dari khilafnya.


"Bawa aja kerjaan gue kesini deh Thur!!" Perintah Esar pada Arthur.


"Gak sekalian aja meja sama kursi loe, loe pindahin kesini?" Celetuk Nancy yang sejak tadi sudah mulai eneg dengan tingkah Esar.


"Woah... ide bagus tuh!!" Balas Esar.


Arthur dan Nancy hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Esar.


"Pindahin kesini meja sama kursi gue sekalian Thur!!!" Perintah Esar.


"Gak ada!!! Keluar loe sana!!" Usir Millie.


"Cepetan Thur!!" Esar tak memperdulikan kata-kata Millie dan malah memaksa Arthur.


"Males!!! Daripada gue mindahin kursi sama meja loe, mending si Nancy yang gue pindahin." Jawab Arthur.


"Ayo Cy..." Arthur langsung menarik Nancy yang sedang duduk di meja kerjanya yang ada di ruangan Millie.


"Eeekh... kok gue!!!" Teriak Nancy.


"Eekh... kok jadi asisten gue yang di bawa!!! Boss loe nih bawa!!!" Teriak Millie tak terima sambil mengangkat bokongnya dari kursi.


Tapi Esar langsung menarik Millie lagi agar kembali duduk di kursi kebesaran kekasihnya itu.


"Udah jangan urusin mereka. Lanjut kerja lagi ayo."


"Gimana gue mau kerja kalau loe terus nempel-nempel kayak gini. Udah sana loe balik ke..."


Cup. Esar langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Millie agar kekasihnya itu diam.


Millie yang kaget langsung mendorong tubuh Esar.


"Ish... apaan sih cium-cium!!" Omel Millie.


"Habisnya mulut loe berisik sih kayak panci presto!!!"


"Apa loe bilang!!!" Protes Millie tak suka.


"Biar berisik tapi bisa melunakkan hati gue.." ucap Esar lagi menggoda.


"Cih..." decih Millie sambil memutar bola matanya malas.


Mendengar Millie berdecih, Esar kembali menarik kepala Millie dan menahan tengkuk kekasihnya itu lalu mendaratkan bibirnya ke bibir Millie dan mengunyah bibir seksi itu dengan lembut.


Millie yang awalnya meronta lama kelamaan malah membalas kunyahan bibir Esar.


Ceklek. Tiba-tiba pintu terbuka.


Esar yang mengira itu adalah Arthur yang membuka pintu, sengaja tidak langsung melepas tautan bibirnya dengan Millie, agar Arthur melihat dirinya dan Millie yang sedang berciuman.


Sedangkan Millie, ia sudah meronta dan mendorong tubuh Esar.


Tapi siapa sangka, niat Esar yang ingin membuat Arthur iri malah membawa bencana, karena yang membuka pintu bukan lah Arthur melainkan...


"BOCAAAAH INGUSAAAN!!!!" Teriak Aki Edwin saat melihat Esar mencium cucu kesayangannya apalagi Aki Edwin juga melihat Millie yang meronta, jadi di mata Aki Edwin, Esar sedang melakukan pemaksaan pada Millie.


Sontak Esar melepaskan bibirnya dari bibir Millie.


Dengan nafas yang memburu, tangan yang mengepal, rahang yang mengeras dan kepala yang mengebul, Aki Edwin berjalan mendekati Esar yang sudah berdiri dari tempat duduknya dan siap untuk kabur.


Arthur, Nancy dan Nini Madam yang ada di belakang Aki Edwin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mampus loe, kena azab instan kan loe!!!" Celetuk Arthur.


Kembali ke Aki Edwin yang sudah berubah menjadi banteng yang siap menyeruduk.


"Bocah tengil, bukannya bantu Esar malah ikut nonton disini." Omel Nini Madam.


"Biar aja Ni, biar tau rasa tuh orang!!" Balas Millie.


"Berani-beraninya kau mencium cucu ku!!!!" Bentak Aki Edwin sambil menarik kerah baju Esar.


"Ampun Ki... khilaf Ki.. khilaf.."


"Khilaf kau bilang!!! Apa kau tau berapa biaya perawatan cucu ku dari ujung rambut sampai ujung kakinya, hah!!!"


"Tau kok Ki, kan Esar sering nemenin Millie perawatan." Jawab Esar.


"Dasar bocah ingusan!!! Berani-beraninya kau menjawab!!!" Teriak Aki Edwin emosi.


Lalu.


BUGH.. Aki Edwin yang sangat emosi langsung meninju wajah Esar.


Saat Aki Edwin sudah memberikan bogem mentah pada Esar, baru lah Nini Madam maju menjadi penengah.


"Sudah sayang... sudah.. apa kau tidak malu memukul bocah masih bau susu." Ucap Nini Madam sambil memeluk Aki Edwin.


Melihat Aki tersayangnya di peluk sang istri sah, jelas saja si pelakor yang tak bisa tersingkirkan tak terima. Ia langsung berjalan menghampiri tiga orang itu.


"Nini apa-apaan sih meluk-meluk Aki!!! Ini Aki Millie." Ucap Millie sambil menarik tangan Nini Madam dari tubuh Aki Edwin.


"Iikh... apaan sih nih!!! Ini suami Nini!!" Balas Nini Madam.


Dan ujung-ujungnya malah Nini Madam dan Millie lah yang bertengkar memperebutkan Aki Edwin.


Jika waktu Millie masih bayi Nini Madam hanya bisa pasrah kalau si pelakor merebut perhatian Aki Edwin, tapi semenjak Millie beranjak dewasa, Nini Madam tidak bisa lagi menolerir itu dan keributan-keributan pun selalu terjadi seperti sekarang ini.


Sedangkan Nancy dan Arthur hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keributan absurd keluarga Cemar Lah."


"Stop!! Stop!! Stop!!" Teriak Aki Edwin yang sudah tidak tahan mendengar suara berisik dua panci presto yang sedang memperebutkannya.


Nini Madam dan Millie pun berhenti. Tapi mata mereka saling memberikan tatapan tajam dan nafas yang memburu.


"Esar, bawa Millie!!" Perintah Nini Madam pada Esar yang ada di belakangnya.


Belum juga Esar bergerak, Aki Edwin sudah berteriak melarangnya.


"Eh.. jangan pegang-pegang cucu ku!!" Teriak Aki Edwin lalu menarik tangan Millie dan hendak membawa Millie ke sofa, menjauh dari Esar.


Melihat itu jelas saja Nini Madam marah. Ia pun mengeluarkan jurus ngambeknya.


"Haish!!!" Geram Nini Madam sambil menghentakkan kakinya.


Nini Madam mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura menghubungi seseorang.


"Siapkan pesawat untuk ku sekarang, aku ingin pulang ke New York!!" Kata Nini Madam dengan suara keras. Setelah mengatakan itu, Nini Madam menyimpan kembali ponselnya di dalam tas.


Mendengar istrinya ingin kembali ke New York, sontak Aki Edwin langsung melepaskan tangannya dari tangan Millie dan berjalan menghampiri Nini Madam yang sudah beberapa langkah ia tinggalkan di belakangnya.


"Sayang..."


"Minggir!!!" Nini Madam mendorong Aki Edwin agar tak menghalangi jalannya lalu berjalan menuju pintu dan diikuti Aki Edwin di belakangnya.


"Sayang, kamu mau pulang ke New York?"


"Iya. Kamu gak butuh aku lagi kan? Jadi buat apalagi aku disini!!" Jawab Nini Madam ketus.


"Yang bilang aku gak butuh kamu siapa? Aku butuh sayang, aku gak bisa hidup tanpa kamu." Rayu Aki Edwin.


Tapi bukan Nini Madam namanya kalau langsung luluh dengan gombalan basi laki-laki yang sudah berpuluh-puluh tahun hidup dengannya.


"Bilang butuh, tapi gak pernah diprioritaskan!!" Balas Nini Madam.


"Jangan halang-halangin aku lagi. Kamu proritasin aja tuh cucu kesayangan mu itu!!! Pantau terus dua puluh empat jam!!" Kata Nini Madam lagi.


Nini Madam pun keluar dari ruang kerja Millie.


"Sayang... tunggu sayang... kamu prioritas aku sayang." Teriak Aki Edwin sambil mengejar cinta pertama dan terakhirnya itu.


Nancy, Arthur, Millie dan Esar menganga melihat pertengkaran Aki Edwin dan Nini Madam. Apalagi saat mendengar rayuan maut Aki Edwin, mereka sampai geleng-geleng kepala.


Gaya mereka bertengkar, persis seperti anak abegeh yang baru pacaran satu minggu.


Bersambung...