
Sekarang giliran Arthur-Nancy.
Setelah dinyatakan SAH sebagai pasangan suami-istri, pemuka agama meminta Dewa-Ayla untuk mundur kebelakang agar Arthur-Nancy bisa maju ke depan.
"Maaf, bisa sebutkan nama kalian?" Bisik pemuka agama pada Arthur saat Arthur-Nancy sudah bertukar posisi dengan Dewa-Xena.
"Saya Arthur Herianson. Dan ini Nancy...." Arthur menggantung kata-katanya karena tidak tahu nama lengkap Nancy.
"Nama panjang loe siapa?" Arthur menyenggol lengan Nancy.
"Nancy Annetha." Jawab Nancy dengan wajah agak sebal, karena Arthur tidak tahu nama panjangnya.
Setelah mendapat nama lengkap Arthur dan Nancy, pemuka agama pun langsung memulai pengucapan janji suci untuk Arthur dan Nancy.
"Baiklah kita mulai pengucapan janji suci yang kedua." Ucap pemuka agama.
"Saudara Arthur Herianson, apakah Saudara bersedia menerima Saudari Nancy Annetha dalam susah dan senang, suka dan duka, sehat dan sakit?" Tanya pemuka agama pada Arthur.
"Ya saya bersedia. Jangan kan dalam susah dan senang, suka dan duka, sehat dan sakit, dalam keadaan montok dan kisut, glowing dan burik pun saya terima." Jawab Arthur.
Jelas saja jawaban Arthur membuat orang-orang yang ada di belakang mereka cekikikan mendengarnya.
"Terimakasih atas jawaban Saudara yang sangat detail." Balas pemuka agama.
"Saudari Nancy Annetha, apakah Saudari bersedia menerima Saudara Arthur Herianson dalam susah dan senang, suka dan duka, sehat dan sakit?" Kini pemuka agama bertanya pada Nancy.
"Ya saya bersedia menerima Saudara Arthur dalam susah dan senang, suka dan duka, sehat dan sakit, jelek dan ganteng, waras dan gila, tegang dan meleyot." Jawab Nancy. Sengaja Nancy menjawab seperti itu untuk membalas jawaban Arthur tadi.
Dan jawaban Nancy itu berhasil membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa terbahak-bahak, khususnya para ibu-ibu, mereka tertawa mendengar kata-kata Nancy yang terakhir.
Sedangkan pemuka agama yang menuntun mereka melakukan pengucapan janji suci hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari pasangan Arthur-Nancy.
"Terimakasih atas jawaban Anda yang sangat terperinci itu, Saudari Nancy." Ucap pemuka agama.
"Baiklah. Karena pasangan pengantin sudah sama-sama mengucapkan janji suci mereka dengan sangat detail dan terperinci, maka dari itu Saudara Arthur dan Saudari Nancy saya nyatakan SAH sebagai pasangan suami istri." Ucap pemuka agama lagi.
"Silahkan bertukar cincin." Ucap pemuka agama.
Arthur dan Nancy pun saling berpandangan.
"Mana cincinnya?" Tanya Nancy.
"Lupa." Jawab Arthur sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tahu anaknya tidak mempersiapkan cincin pernikahan, Papa Arthur pun datang memberi bala bantuan.
"Ma, lepas cincin mu satu." Ucap Papa Arthur pada istrinya.
"Yang mana?" Tanya Mama Arthur sambil memperlihatkan kedua tangannya, dimana ada empat cincin disana. Dua di kanan dan dua di kiri.
"Yang ini aja. Ini kan sepasang dengan yang ini." Tunjuk Papa Arthur pada cincin bermata batu akik berwarna hijau kebiruan di jari manis istrinya.
Cincin yang Mama Arthur pakai sepasang dengan yang Papa Arthur pakai. Hanya bedanya, batu akik yang ada bertahta di atas cincin berukuran kecil dan terlihat sangat manis, sedangkan yang Papa Arthur pakai berukuran sangat besar dengan ring yang juga besar dan tebal. (Silahkan bayangkan sendiri cincin yang Papa Arthur pakai 😂😂)
Mama Arthur pun melepaskan cincin yang ditunjuk suaminya lalu memberikan ke tangan suaminya.
Dengan dua cincin dengan mata batu akik, Papa Arthur berjalan mendekati Arthur.
"Pake ini Thur." Ucap Papa Arthur sambil memberikan cincin itu pada Arthur.
Mata Arthur membulat melihat dua cincin yang diberikan sang Papa. Okelah cincin untuk Nancy terlihat manis, tapi cincin untuknya?
"Pa, yang bener aja masa Arthur pake ini?" Protes Arthur.
"Gak tahu diri!! Udah pake aja!! Lagian siapa suruh nikahnya nebeng!!" Balas Papa Arthur lalu pergi dari altar.
Mau tak mau, ikhlas tak ikhlas, Arthur pun menerima cincin batu akik yang Papa-nya pinjamkan.
"Silahkan sematkan cincinnya." Ucap pemuka agama.
Arthur pun menyematkan cincin milik sang Mama ke jari manis Nancy, setelah Arthur selesai menyematkan cincin di jari manisnya, gantian giliran Nancy menyematkan cincin di jari manis Arthur.
Nancy menggelembungkan pipinya menahan tawa melihat cincin yang berukuran besar itu melingkar di jari manis Arthur.
Sama dengan Nancy, Dewa dan Xena juga menggelembungkan pipinya menahan tawa.
"Berasa kayak Engkong-Engkong gue jadinya." Dumel Arthur dalam hati.
Bersambung...