Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 45



Millie menangkap tangan Clive yang sudah mengudara dan hendak menampar Millie.


"Hei bocah!!! Apa kau menghabiskan uang tabungan mu untuk membayar preman-preman ini?" Tanya Millie.


"Kau!!!!" Clive makin emosi dan berusaha melepaskan tangannya dari tangan Millie.


"Aaarkkh.." jerit Clive saat Millie memelintir lengannya.


Melihat Clive di sakiti, sontak orang-orang bertopeng yang ada di dalam gudang bergerak untuk menyelamatkan Clive.


"Jangan ada yang bergerak. Atau aku akan meremukkan tangan bocah ini!!" Ancam Millie.


Lantas orang-orang bertopeng yang ada di dalam gudang pun menghentikan langkah mereka.


"Apa kau tau kenapa perusahaan Papa mu hancur, hah?!" Tanya Millie.


"Karena kalian menjebak Papa ku dengan wanita jaโ€ขlang!!!" Jawab.


"Woaaah. Apa Papa mu yang mengatakan itu pada mu, hah?!" Tanya Millie.


"Iya." Jawab Clive.


Millie melepaskan tangan Clive dengan kasar.


"Mana ponsel mu!!" Pinta Millie sambil menengadahkan tangannya.


"Untuk apa?"


"Sudah, berikan saja!!!"


Clive pun mengambil ponselnya dari dalam saku celana, lalu memberikannya pada Millie.


Millie menerima ponsel itu dengan kasar.


Lalu membuka emailnya melalui ponsel Clive, karena Millie tidak membawa ponsel.


Millie pun menunjukkan bukti-bukti perselingkuhan Tuan Charles dan Jasmine pada Clive yang disangka Clive kalau Jasmine adalah orang suruhan mereka, padahal sebaliknya.


"Ini. Baca ini dengan kedua mata mu!!!" Ucap Millie sambil memberikan ponsel Clive tepat di depan mata Clive.


"Bukan kami yang menyuruh wanita itu menjebak Papa mu, tapi Papa mu lah yang menyuruh wanita itu mendekati Gry dan ingin mengambil saham milik orang tua Gry!!" Kata Millie lagi.


"Wanita itu adalah sugar baby Papa mu!!" Lanjut Millie.


"Tidak mungkin!!! Papa ku tidak mungkin seperti itu!!" Ucap Clive menolak percaya.


PLAAAK. Millie memukul kepala Clive.


"Makanya di baca, bodoh!!" Geram Millie.


"Tetap saja, tidak seharusnya kalian menghancurkan perusahaan Papa ku!!! Karena perusahaan itu sesungguhnya bukan milik Papa ku, tapi milik kakek Mama ku. Gara-gara perusahaan itu hancur, Mama ku jadi terkena serangan jantung!!! Dan sekarang kami membutuhkan dana untuk membiayai pengobatan Mama." Teriak Clive.


"Cih... sudah tau butuh biaya pengobatan, malah uang nya kau hambur untuk membayar preman!!! Bodoh!!" Balas Millie santai.


"Thur, lepaskan Esar!!" Perintah Millie.


"Berani kau melepaskan teman mu itu, ku patahkan tangan mu!!" Ancam Clive pada Arthur.


PROK PROK PROK. Millie menepuk tangannya tiga kali, sebagai kode pada pasukan bodyguardnya untuk masuk ke dalam gudang.


"Siapa mereka?" Tanya Clive ketakutan karena jumlah pasukan bodyguard yang datang melebih jumlah preman bertopeng yang ia bayar.


Jelas saja jumlah preman bertopeng Clive kalah dengan pasukan bodyguard yang datang, karena pasukan bodyguard yang datang merupakan gabungan dari dua kubu. Kubu Millie dan kubu Esar.


"Apa kau masih mau mematahkan tangan teman ku?" Tanya Millie dengan nada songongnya.


Jelas saja Clive menggeleng. Ia sadar, kalau ia sudah berurusan dengan orang yang salah.


"Thur, lepasin Esar!" Perintah Millie sekali lagi pada Arthur.


Arthur pun berjalan mendekati Esar dan melepaskan tali yang mengikat tangan Esar.


"Siapa kalian sebenarnya?" Tanya Clive masih dengan raut wajah ketakutannya.


"Cih... dasar bocah!!! Makanya kalau tidak punya bakat jadi orang jahat, jangan sok-sok an jadi orang jahat, paham!!!" Kata Millie lagi.


"Perusahaan kami akan menanggung biaya pengobatan Mama mu. Tapi kalau untuk perusahaan Papa mu, kami tidak punya kewenangan untuk itu, karena masalah ini sudah masuk jalur hukum. Aku dan Gry hanya bisa membantu membujuk orang tua kami, selebihnya keputusan ada di tangan orang tua kami, khususnya orang tua Gry. Kau paham?"


Air mata Clive menggenang, ia terharu dengan kata-kata Millie yang akan menanggung biaya pengobatan Mamanya.


"Terimakasih Nona. Aku tak menyangka, ternyata kau berhati mulia." Ucap Clive sambil memeluk Millie.


Melihat Millie dipeluk laki-laki lain, Esar yang masih dalam keadaan lemas, tiba-tiba saja baterai nya terisi penuh, ia langsung mendekati Millie dan Clive lalu menarik baju Clive dan mendaratkan bogem mentahnya ke wajah Clive.


"Berani-beraninya kau memeluk kekasih ku, hah!!!" Teriak Esar emosi sambil meninju Clive.


Melihat itu, Nancy dan Arthur langsung menarik Esar yang sedang tersulut api cemburu. Sedangkan Millie hanya menghela nafasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Esar.


"Loe kok nyantai banget sih, Mill!!! Bantuin dong!!" Teriak Arthur meminta bantuan Millie, karena tenaga Arthur dan Nancy tidak sanggup menarik Esar dari Clive.


Millie pun berjalan mendekati Esar dan...


BUGH. Tanpa banyak bicara, Millie langsung menendang kaki Esar.


"Auw..." teriak Esar kesakitan dan sontak berhenti memukuli Clive.


"Sekarang aja sok jagoan!!! Coba sok jagoannya itu sebelum di culik!!! Gak bakal ngerepotin kayak gini!!" Ucap Millie.


"Udah ayo pulang!!" Perintah Millie pada Esar, Arthur dan Nancy.


"Terus mereka ini gimana?" Tanya Arthur.


"Biar mereka aja yang urus. Gue udah capek!!" Jawab Millie. Millie pun melangkahkan kakinya keluar dari dalam gudang dan diikuti Nancy dari belakang.


Sedangkan Esar dan Arthur masih tidak terima dengan perlakuan yang sempat mereka dapatkan. Sebelum keluar, Esar dan Arthur membalaskan rasa sakit mereka terlebih dulu pada para preman bertopeng sewaan Clive. Setelah puas, baru lah mereka keluar dari dalam gudang menyusul Millie dan Nancy.


๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Kini mereka sudah berada di apartemen Esar.


Melihat wajah Esar yang penuh dengan lebam, Millie pun berinisiatif mengobati luka yang ada di wajah Esar. Ia mengambil kotak obat lalu mendekati Esar yang ada di ruang tengah.


"Sini, gue obatin lukanya." Ucap Millie sambil mendaratkan bokongnya di sofa.


"Hemh... alamat cosplay jadi vas bunga nih gue." Dumel Arthur dalam hati.


Arthur melirik Nancy yang sedang memainkan ponselnya dan sepertinya Nancy tidak menyadari kalau sebentar lagi nasib mereka akan mengenaskan karena kemesraan Esar-Millie. Arthur pun menarik tangan Nancy, daripada dirinya harus tertekan batin melihat Esar dan Millie bermesraan, lebih baik ia membawa Nancy keluar bersamanya agar bisa menemaninya.


"Eeekh apaan nih!!!" Teriak Nancy karena Arthur tiba-tiba menarik tangannya.


"Eh... temen gue mau loe bawa kemana Thur!!!" Teriak Millie.


"Gue pinjem temen loe dulu. Gue mau cari angin segar. Loe berdua pacaran aja!!" Jawab Arthur.


"Iikh apaan sih loe, gue gak mau!!!" Teriak Nancy sambil meronta.


"Udah diem, ikut gue aja. Daripada loe disini loe tertekan ngeliat mereka pacaran. Apalagi mereka masih baru pacaran, bisa anyeb nasib loe!!!" Balas Arthur.


Nancy menoleh kebelakang sejenak.


"Iya juga yah." Gumam Nancy saat melihat Millie yang sedang mengoleskan obat di waja Esar.


"Ya udah deh, tapi jangan bawa gue ke tempat macem-macem yah!!! Awas loe!!" Jawab Nancy.


"Paling cuma satu macem doang. HOTEL." Goda Arthur.


Mata Nancy membulat mendengar kata-kata Arthur.


"Becanda-becanda!! Gitu aja udah mau langsung berubah jadi reog loe!!" Ucap Arthur lagi.


Arthur dan Nancy pun keluar dari dalam apartemen Esar, meninggalkan Esar dan Millie yang sedang memupuk benih-benih cinta yang baru tumbuh dalam hati mereka.


Bersambung...