
Kembali ke London.
Setelah puas berbelanja dan mengisi perut serta tak lupa membeli ponsel baru, Millie, Mama Nia dan Nancy pun pulang ke apartemen.
Begitu mereka sampai di lobi apartemen, mereka melihat Esar yang sedang berdiri di depan lobi.
"Mau ngapain dia di situ?" Celetuk Nancy saat melihat Esar yang sedang menyandarkan tubuhnya di pilar dengan kaki yang gesek-gesekkan ke lantai.
"Latihan jadi satpam kali." Balas Millie.
Meski disana ada Mama Nia, tapi Mama Nia sama sekali tidak menegur Millie dan Nancy yang sedang membicarakan anaknya. Malahan Mama Nia menyuruh Millie dan Nancy untuk tidak memperdulikan Esar.
"Udah cuekin aja. Luruskan pandangan kalian." Kata Mama Nia.
Tanpa di minta pun memang Millie dan Nancy tidak akan menghiraukan Esar, jadi mereka terus berjalan dan saat di depan Esar mereka pura-pura tidak melihat Esar.
Saat Millie, Nancy dan Mama Nia melewati Esar dengan judesnya, Esar pun langsung mengejar tiga wanita itu.
"Mill, gue minta maaf, gue tau gue salah. Gue salah karena gak mau dengerin kata-kata loe. Maafin gue Mill." Kata Esar sambil mengikuti langkah kaki Millie.
Tapi Millie tak memperdulikan Esar, ia seakan menulikan telinganya saat Esar berbicara disampingnya.
Karena tak mendapat respon dan tau tak akan semudah itu mendapat maaf dari Millie, Esar pun menggunakan sang Mama untuk menjembatani dirinya berbaikan dengan Millie.
"Mah, Esar salah Mah, tolong maafin Esar. Bilangin sama Millie juga Mah, kalau Esar nyesal udah gak mau dengerin Millie. Esar rela deh di hukum gimana pun asal Millie maafin Esar. Mah, please Mah, maafin Esar." Mohon Esar pada sang Mama. Tapi hasilnya sama, ia juga tak mendapat respon dari sang Mama.
Gagal mendapat bantuan dari sang Mama, cara terakhir Esar adalah meminta bantuan Nancy.
"Nan...." Belum juga Esar memohon, Nancy sudah mendorong tubuh Esar karena mereka ingin masuk ke lift.
"Minggir loe!!! Jangan ngalangin jalan kita!!" Kata Nancy ketus sambil mendorong tubuh Esar lalu masuk ke dalam lift.
Bahkan saat Esar ingin masuk ke dalam lift, Nancy juga mendorong Esar agar tidak ikut masuk ke dalam lift. Terpaksa Esar menyusul dengan menggunakan lift yang satu lagi.
TING. Pintu lift terbuka.
"Aunty ikut ke apartemen kamu aja yah Mill, Aunty masih sebel sama anak itu." Kata Mama Nia sambil kaki mereka melangkah keluar dari dalam lift.
"Beres Aunty, apartemen Millie selalu terbuka untuk Aunty." Jawab Millie.
"Rasain loe Sar, sekarang nyokap loe aja males sama loe!!" Kata Millie dalam hati.
TING. Pintu lift yang di naikki Esar terbuka.
Cepat-cepat ia keluar dari dalam lift, dan ia masih melihat Millie, Mama Nia dan Nancy yang sedang berjalan menuju unit apartemen Millie.
"Mama... Millie.." teriak Esar sambil berlari.
Mendengar teriakan Esar tiga wanita itu mempercepat langkah kaki mereka menuju unit apartemen Millie, seperti sedang di kejar debt kolektor. Setibanya di depan pintu unit apartemen Millie, Nancy cepat-cepat membuka pintu, setelah pintu terbuka Millie dan Mama Nia buru-buru masuk karena Esar sudah berada sangat dekat dengan mereka.
"Minggir loe!! Jangan ganggu kita lagi. Bukannya loe yang kemaren bilang urus urusan masing-masing!! Millie gak ngurusin urusan loe dan loe gak usah urus urusannya Millie!!!" Bentak Nancy sambil mendorong tubuh Esar saat Esar mencoba menerobos masuk ke dalam unit apartemen Millie. Setelah membentak Esar, Nancy pun masuk ke dalam unit apartemen, meninggalkan Esar dengan raut wajah penyesalannya.
💋💋💋
Keesokan harinya.
Millie sudah bersiap berangkat ke kampus, sedangkan Nancy sudah pergi terlebih dulu dengan Arthur dengan menggunakan mobil Millie. Sedangkan Mama Nia dan Papa Irlan, mereka lebih memilih untuk tinggal di hotel ketimbang satu apartemen dengan Esar karena Mama Nia masih kesal dengan putra sulungnya itu. Mama Nia dan Papa Irlan harus tinggal beberapa hari lagi untuk mengurus Tuan Charles dan Jasmine.
Esar yang belum berhasil mendapat maaf daru Millie, nekat menunggu Millie di depan unit apartemen Millie. Ia sengaja tidak menekan bel karena tau pasti Millie tidak akan mau keluar kalau melihat dirinya ada di depan pintu, maka dari itu Esar pun sabar berdiri sudah hampir satu jam untuk menunggu Nyai Kompeni keluar dari unit apartemennya.
Ceklek. Pintu unit apartemen Millie terbuka.
Esar yang tadi dalam posisi berjongkok langsung berdiri begitu mendengar suara pintu terbuka.
Melihat Esar sudah menunggunya di depan pintu, Millie memutar bola matanya malas.
"Mill, ini gue udah beliin ponsel baru buat loe. Maafin gue yah Mill." Kata Esar.
Esar pikir karena Millie mau menerima ponsel darinya itu berarti Millie memaafkannya, dengan penuh percaya diri Esar pun merangkul pundak Millie.
"Jadi loe udah gak marah lagi kan sama gue?!" Tanya Esar.
Millie tak menjawab, ia terus melangkahkan kakinya menuju lift dan membiarkan Esar merangkul pundaknya.
"Gue minta maaf yah Mill soal kejadian kemaren, gue udah bentak loe, udah nuduh loe yang gak-gak. Maafin gue yah bestie." Kata Esar.
Tetap saja Millie cuek. Bahkan sampai mereka di lobi pun Millie tetap mengacuhkan Esar dan Esar tetap mengoceh.
Saat mereka berjalan dari lobi menuju parkiran, Millie melihat gadis cantik yang berpakaian seksi berjalan berlawanan arah dengan mereka. Millie pun melepaskan rangkulan tangan Esar yang ada di pundaknya.
"Loe tunggu sini!!" Perintah Millie. Millie pun berjalan mendekati gadis itu.
"Mau ngapain dia?" Gumam Esar saat melihat Millie mendekati gadis cantik yang berpakaian seksi itu.
"Hai Nona, ini ada hadiah dari pria itu." Kata Millie sambil menunjuk Esar dan memberikan ponsel yang Esar berikan padanya tadi.
Dari jauh Esar hanya membulatkan matanya karena tau apa yang sedang Millie lakukan.
"Astaga Millie!!! Apa yang sedang kau lakukan sekarang!!!" Geram Esar. Ingin rasanya ia menghampiri Millie dan menggagalkan aksi Millie tapi papper bag yang berisi ponsel sudah terlanjur berada di tangan gadis itu.
"Benarkah? Tapi kenapa bukan dia yang memberikan langsung?"
"Dia pria pemalu Nona. Maklum pria Asia. Pria itu tinggal di unit F4, mampir lah kesana kalau kau ada waktu." Kata Millie.
"Baik lah. Sampaikan salam ku untuknya, nanti malam aku akan mampir ke unitnya." Balas gadis itu.
Gadis itu pun pergi. Setelah gadis itu pergi, Millie pun meneruskan langkah kakinya keluar dari lobi.
"Millie... Millie!!" Teriak Esar sambil berlari menghampiri Millie.
Millie tak menghiraukan Esar dan terus berjalan.
Saat sudah berada dekat Millie, Esar langsung menarik tangan Millie.
"Loe apa-apaan sih, kok loe kasih ponselnya ke orang lain? Itu kan gue beli buat gantiin ponsel loe yang gue banting!!" Protes Esar.
"Gue udah beli ponsel kok!! Jadi daripada ponsel yang loe kasih mubajir gak ke pake, yah mending gue kasih sama gadis itu kan?" Kata Millie sambil menunjukkan ponsel barunya.
"Udah akh gue mau berangkat kuliah dulu." Millie pun melengos pergi dari hadapan Esar.
"Ya udah kita sama aja pergi nya." Kata Esar sambil menyusul Millie.
"Gak akh.. gue udah najis naik mobil loe. Udah ada ken•tut nya ja•lang di mobil loe!!!" Jawab Millie menyindir.
TIN.. TIN.. Tiba-tiba bunyi klakson motor menjeda perdebatan mereka.
Sontak Millie dan Esar pun menoleh ke arah orang yang mengklakson mereka.
"Hai Nona cantik." Sapa laki-laki yang menunggangi motor besar itu. Laki-laki itu siapa lagi kalau bukan Alpha.
"Hai Alphabeth." Balas Millie dengan senyum semanis madu. Sebenarnya Millie masih tidak menyukai Alpha tapi karena ada Esar di sampingnya mau tak mau Millie harus bersandiwara dengan kemunculan Alpha.
"Apa kau mau berangkat ke kampus bersama ku?" Tawar Alpha.
"Pastinya." Jawab Millie. Alpha pun memberikan helm untuk Millie pakai dan setelah memakai helm Millie pun naik ke atas motor Alpha.
"Bye Esar, kami duluan yah." Pamit Millie.
Nafas Esar memburu, asap sudah mengebul dari kepala dan hidungnya, rahangnya mengeras, dan tangannya pun juga sudah mengepal melihat Millie berboncengan dengan laki-laki lain.
Bersambung...