
Setelah saling sepakat, Dewa dan Xena pun keluar dari dalam room tiga.
"Kamu duluan aja. Aku mau ke toilet dulu, perut aku tiba-tiba sakit." Ucap Xena berbohong. Padahal ia ingin membersihkan wajahnya terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya.
"Oke. Kalau gitu aku pulang duluan. Salam untuk Ayah kamu dan sampaikan permohonan maaf dari aku." Balas Dewa.
"Aku juga, sampaikan permintaan maaf aku sama Papa kamu." Balas Xena.
Dewa pun berjalan meninggalkan Xena, setelah Dewa agak jauh, barulah Xena berjalan menuju toilet.
Sesampainya di lobi restoran, Dewa menghubungi Arthur untuk segera keluar dari parkiran.
Tuuut.. Tuuut.. Tuut. Nada sambung di ponsel Arthur.
"Ish kemana sih nih orang, kok gak dijawab-jawab teleponnya." Gerutu Dewa.
Dewa pun kembali menghubungi ponsel Arthur dan hasilnya masih sama.
Dewa yang kesal pun berjalan menuju parkiran, matanya berkeliling mencari mobil Arthur.
"Kayaknya tadi parkir disini deh, tapi kok ada mobilnya." Gumam Dewa.
Dewa pun kembali menghubungi Arthur. Cukup lama Arthur menjawab panggilannya, hingga di detik-detik terakhir nada sambung berakhir, baru lah Arthur menjawab panggilan Dewa.
"Ya Wa.." jawab Arthur berteriak.
Sangking kencangnya teriakan Arthur, Dewa sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Halo Wa, kenapa?" Bahkan sudah Dewa jauhkan saja ponselnya, suara Arthur masih bisa Dewa dengar.
Dewa pun kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Loe dimana Thur? Gue udah di parkiran ini!!" Tanya Dewa. Namun samar-samar Dewa mendengar banyak suara anak kecil.
"Gue lagi ada di mall sebelah restoran. Gue lagi tempat main game." Jawab Arthur.
Thur, kesana yuk. Samar-samar Dewa mendengar suara perempuan disamping Arthur.
"Bangโขke nih orang yah!!! Gue disuruh jalanin misi, dia malah enak-enak sama cewek!!" Dumel Dewa. Dewa pun memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celana lalu berjalan menuju mall yang ada disebelah restoran.
"Awas aja loe yah Thur, gue sleding kepala loe nanti!!" Dumel Dewa sambil berjalan.
Sedangkan Xena, setelah selesai mencuci wajahnya dan memberi riasan tipis di wajahnya serta mengganti pakaiannya yang casual yang sesuai umurnya, Xena pun keluar dari dalam toilet.
Kini Xena sudah berada di lobi restoran. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Nancy.
Sama seperti waktu Dewa menghubungi Arthur, Nancy pun tidak langsung menjawab panggilan telepon Xena.
"Kok gak di jawab sih!!!" Gerutu Xena.
Xena pun mencoba menghubungi Nancy dan hasilnya pun sama, Nancy masih belum menjawab panggilannya. Kesal karena Nancy tak kunjung menjawab panggilannya, Xena pun berjalan menuju mall.
๐๐๐
Kini Dewa sudah berada di dalam mall dan hendak menaiki eskalator. Namun, saat beberapa langkah lagi dirinya sampai di eskalator, tepatnya di depan toko pernak-pernik, ia melihat sosok yang mirip dengan Sagita, kekasihnya.
"Itukan Gita." Batin Dewa. Dewa yang ingin memastikan kalau wanita yang ia lihat itu benar kekasihnya atau tidak pun memutar haluannya dan berjalan menuju toko pernak-pernik itu.
"Iya benar, itu Gita." Lirih Dewa saat melihat sosok wanita yang mirip dengan kekasihnya memanglah kekasihnya dari kejauhan. Dewa pun senang karena tak sengaja bertemu dengan sang kekasih. Dewa pun makin mendekati Sagita.
"Gi.." Belum sempat Dewa selesai memanggil nama sang kekasih, tiba-tiba dari arah lain muncullah sosok pria blesteran mendekati Sagita.
"Udah yank?" Tanya pria itu sambil merangkul pinggang Sagita.
Mata Dewa membulat melihat ada pria lain menyentuh pinggang kekasihnya, hatinya juga panas seketika.
"Gita!!!!" Teriak Dewa, rasa cemburu membuat ia lupa dimana dirinya berada sekarang.
Sontak Sagita dan pria blasteran itu menoleh ke arah Dewa.
Bersambung...