Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 31



Sebelum menuju kampus, Esar singgah ke toko ponsel, ia ingin mengganti ponsel Millie yang sudah ia banting waktu itu.


Dengan ponsel mahal yang setipe dengan ponsel Millie yang sudah Esar banting, Esar pun meneruskan perjalanannya ke kantor.


Lima belas menit kemudian mobil yang Esar kendarai pun tiba di perusahaan IYG Archie & Properteam.


Setelah memarkirkan mobilnya, Esar pun berjalan dengan gagahnya memasuki gedung perusahaan. Ia pun masuk ke dalam lift khusus yang akan membawanya ke lantai dimana ruang kerjanya berada.


Ting. Pintu lift terbuka.


Esar pun keluar dari dalam lift. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat meja sekretarisnya dan sekretaris Millie kosong. Esar pun melihat jam yang melingkar di tangannya, waktu masih pukul setengah dua belas siang waktu setempat.


"Pada kemana orang-orang." Gumam Esar.


Meski merasa aneh karena ini belum jam makan siang tapi orang di lantai itu sudah tidak ada, tapi Esar tidak memperdulikannya. Ia malah meneruskan langkah kakinya menuju ruang kerja Millie. Ia ingin memberikan ponsel yang baru ia beli itu terlebih dahulu sebelum ia masuk ke ruang kerjanya.


Ceklek. Ternyata ruang kerja Millie juga kosong.


"Kemana mereka? Apa mereka sudah makan siang sebelum waktu jam makan? Atau mereka ada meeting? Kalau ada meeting kenapa Arthur gak ngasih tau gue?!" Esar bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Esar pun keluar dari ruang kerja Millie dan berjalan ke ruang kerjanya.


Ceklek. Mata Esar langsung membulat begitu pintu terbuka.


"Mama..." Esar yang kesenangan karena kedatangan mama nya, langsung berjalan menghampiri mama Nia dan hendak memeluknya. Tapi bukan pelukan yang Esar dapatkan melainkan tamparan keras dari mama Nia. Dan ini pertama kalinya Esar mendapat tamparan dari sang mama.


FLASHBACK ON.


Malam saat Esar berbuat kasar pada Millie bahkan sampai membanting ponsel Millie, bodyguard bayangan Aki Edwin yang selalu mengawasi cucu kesayangan sang Aki, langsung memberi laporan pada Aki Edwin, bukan hanya laporan tertulis maupun suara, melainkan langsung video pertengkaran Millie dan Esar mulai dari dalam PUB sampai di luar PUB. Bahkan video saat Millie menangis sendirian di pojokan bangku taman pun bodyguard bayangan itu kirim ke Aki Edwin.


Saat kejadian pertengkaran itu, di negara Aki Edwin berada masih sekitaran pukul lima subuh.


Aki Edwin yang baru selesai melakukan ritual pengencokkan pinggang dan penggemetaran dengkul bersama Nini Sarah, langsung membuka ponselnya karena saat ritual berlangsung ponselnya terus saja berbunyi.


Mata Aki Edwin membelalak sempurna saat melihat cucu kesayangannya mendapat tindakan kasar dari Esar.


"Sialan!!! Berani-beraninya bocah ingusan itu mengasari cucu ku!!!" Geram Aki Edwin.


Nini Sarah yang mendengar suaminya menggeram pun penasaran.


"Ada apa Ed? Apa ada yang mengasari Shine?" Tanya Nini Sarah. Karena di pikirannya tak mungkin ada yang mengasari Millie, karena Nini Sarah tau Millie sangat bar-bar ketimbang Shine dan tidak mungkin juga itu Fight karena setau Nini Sarah, suaminya tidak akan segeram itu kalau Fight di kasari orang lain, karena Fight laki-laki.


"Bukan Shine. Tapi Millie." Ucap Aki Edwin.


"Millie???" Tanya Nini Sarah terkaget-kaget.


"Tumben anak itu di kasarin, biasanya dia yang ngasarin orang!!" Kata Nini Sarah lagi.


"Ini, lihat lah." Aki Edwin memberikan ponselnya pada sang istri.


"Woaaah... benar-benar dia anaknya Irlan. Bodohnya gak buang." Kata Nini Sarah merespon video itu.


"Apa maksud mu bicara seperti itu?"


"Kau tau Ed, Esar sedang menjalin hubungan dengan wanita ular yang akan merebut saham Irlan dari IYG. Dan Millie ini sedang berusaha menyadarkan Esar." Kata Nini Sarah menjelaskan.


"Kenapa Millie harus mewarisi sifat seperti mu. Selalu ikut campur urusan orang lain. Dan sekarang lihat lah, dia juga yang harus kena maki." Balas Aki Edwin sambil menghela nafasnya.


"Hei!! Sifat seperti itu baik yah!! Tidak ingin melihat orang lain terjerembab dalam penyesalan. Yang tidak baik itu sifat si bodoh Esar, kenapa dia harus menjadi kloningannya Irlan, yang bebal dan tidak mau di bilangin!!" Gerutu Nini Sarah.


"Tetap saja aku harus memberi pelajaran pada anak ingusan itu karena sudah berani mengasari cucu ku!!"


"Kalau kau ingin memberi Esar pelajaran, lebih baik kau adukan saja pada Nia. Biar Nia yang memberi pelajaran langsung pada Esar." Kata Nini Sarah memberi saran.


Aki Edwin memikirkan saran yang di berikan istrinya. Aki Edwin pun setuju dengan saran Nini Sarah, karena kalau tangannya langsung yang memberi pelajaran bisa-bisa nanti hubungannya dengan keluarga Dirgantara dan Pratama bisa rusak, apalagi hubungan tiga keluarga itu sudah seperti saudara kandung.


"Baik lah, nanti aku akan mendatangi rumah orang tua Esar." Jawab Aki Edwin.


"Dan jangan lupa, tunjukkan bukti siapa wanita yang sedang dekat dengan Esar."


"Apa kau punya buktinya?"


Nini Sarah pun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan yang di kirim oleh intelnya ke email Aki Edwin.


💋💋💋


Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Aki Edwin sudah berada. Karena hari ini adalah hari Minggu, pastinya Mama Nia dan Papa Irlan belum keluar dari kamar mereka.


Mau tak mau Aki Edwin harus menunggu lama sampai kedua orangtua Esar itu keluar dari dalam kamar.


Setengah jam kemudian.


"Selamat pagi Om Edwin, maaf nunggu lama." Sapa Mama Nia.


"Tumben Om pagi-pagi dateng kesini? Di hari minggu lagi." Tanya Papa Irlan sopan.


Tapi melihat wajah Irlan, entah kenapa Aki Edwin jadi kesal sendiri, mungkin karena ulah Esar yang bodoh sehingga Aki Edwin jadi teringat akan kebodohan papa nya Esar itu waktu dulu.


Melihat wajah Aki Edwin yang kesal melihat suaminya, Mama Nia berpikir kalau Aki Edwin memang kesal pada suaminya.


"Ada apa yah Om sebenarnya?" Tanya Mama Nia hati-hati. Takut apa yang ingin disampaikan Aki Edwin mengenai keburukan suaminya.


Aki Edwin mengalihkan pandangannya dari Papa Irlan.


"Saya gak mau basa-basi. Lihat ini." Aki Edwin memberikan ponselnya pada Mama Nia dan menunjukkan video dimana Esar membentak-bentak Millie.


Mama Nia mengambil ponsel Aki Edwin dan menonton video itu.


Mata Mama Nia membelalak menonton itu, rahangnya juga mengeras, nafasnya memburu, asap di kepala Mama Nia juga sudah mengebul. Melihat ekspresi istrinya yang tidak enak, Papa Irlan pun jadi penasaran dan ikut menonton video itu.


"Kalian tau, karena apa anak kalian itu memaki Millie?"


"Karena anak kalian lebih memilih wanita ular yang ada disamping anak kalian itu!! Dan kalian tau wanita ular jenis apa wanita itu?"


Mama Nia dan Papa Irlan kompak menggelengkan kepala mereka.


Aki Edwin pun mengambil lagi ponsel dari tangan Papa Irlan dan membuka email yang tadi dikirim Nini Sarah, email tentang kebusukan Jasmine lalu memberikannya kembali pada Mama Nia dan Papa Irlan.


Setelah membaca email itu, kali ini Papa Irlan yang lebih emosi.


"Brengsek!!! Berani-beraninya mau memanfaatkan anak ku untuk menghancurkan perusahaan ku!!!" Geram Papa Irlan.


Disaat Papa Irlan menggeram, Mama Nia langsung berteriak memanggil nama anak bungsunya.


"NAYAAAAAAA!!!"


Naya yang masih ada di dalam kamarnya, sontak langsung keluar dari dalam kamarnya.


"Iya Mah.." jawab Naya.


"Ambil dulu ponsel mama!!" Perintah Mama Nia.


Mendengar Mamanya memberi perintah dengan kasar, Naya yakin ada sesuatu yang sangat urgent dan tidak beres. Daripada Mamanya makin mengamuk, tanpa banyak tanya dimana letak ponsel Mama nya itu, Naya pun cepat-cepat berlari ke kamar sang Mama dan mengambil ponsel sang Mama.


Lima menit kemudian Naya pun datang ke ruang tamu dengan ponsel sang Mama berada di tangannya.


"Ini Mah." Naya memberikan ponsel itu ke Mamanya.


Aki Edwin dan Papa Irlan pikir Mama Nia akan menghubungi Esar dan memaki-makinya. Tapi ternyata...


"Siapkan pesawat pribadi. Kita ke London sekarang!!!" Perintah Mama Nia pada asisten pribadinya, meski Mama Nia lebih banyak di rumah dan Dirgantara Group lebih banyak di urus oleh suaminya tapi Mama Nia juga memiliki asisten pribadi untuk membantu suaminya mengurus perusahaan yang di wariskan padanya dan sebentar lagi di turunkan pada Esar.


"Kamu serius sayang?"


"Ini masalah serius sayang, aku gak mau anak aku melakukan kesalahan seperti yang udah kamu lakuin dulu!!!"


Papa Irlan terdiam seketika mendengar istrinya itu mengungkit masa lalu nya.


FLASHBACK OFF.


Bersambung...