Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 39



Kini Millie, Arthur dan Nancy sudah kembali ke apartemen.


Millie dan Nancy masuk ke unit apartemen Millie dan Arthur masuk ke unit apartemen Esar.


Ceklek. Arthur membuka pintu unit apartemen Esar dan berjalan masuk ke ruang tengah dimana Esar terlihat sedang menonton film.


"Lama benget pulangnya!!!" Omel Esar seperti istri yang sedang mengomeli suaminya yang baru pulang main futsal.


"Namanya juga malam minggu. Malam yang pendek untuk orang pacaran tapi malam yang panjang untuk yang jomblo!" Sindir Arthur.


"Nyindir gue loe, hah?! Sok-sok nyindir, kayak loe kagak jomblo aja!!" Omel Esar dengan nada meninggi.


"Gue emang jomblo, tapi gak ngenes kayak loe!!" Balas Arthur tidak mau kalah.


"Eh.. Sar, gue punya informasi penting buat loe. Loe mau tau gak?" Kata Arthur. Si Tukang Kompor pun beraksi melempar bom molotov ke hati Esar.


Penasaran dengan informasi yang ingin di beritahu Arthur, Esar pun tak punya pilihan selain menganggukkan kepalanya.


"Apa?" Tanya Esar dengan nada sok jual mahal.


Arthur pun mengeluarkan ponselnya dan membuka rekaman video saat Alpha menyatakan cinta nya pada Millie.


Menonton rekaman itu, keringat dingin langsung keluar di sekujur tubuh Esar. Rahangnya mengeras menahan emosi.


"Oh... gue kirain informasi apa. Mereka cocok kok." Ucap Esar ketus sambil menyerahkan ponsel Arthur kembali pada sang pemilik.


"Yakin mereka cocok?" Tanya Arthur dengan nada mengintimidasi.


"Apaan sih loe?! Ya cocok lah. Sama-sama manusia absurd!!!" Jawab Esar mencoba terlihat biasa saja padahal dalam dadanya sudah terjadi kebakaran lokal.


"Udah akh, gue ngantuk!! Gue mau tidur!!" Kata Esar lagi sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


"Cih... ngantuk!!! Bilang aja mau nangis di bawah bantal loe" Ejek Arthur pelan setelah Esar masuk ke dalam kamar.


Sedangkan sesampainya Esar di dalam kamar, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi lalu membasuh wajahnya yang sudah panas karena menahan emosi.


"Breng•sek!!! Kenapa jadi begini sih!!!" Umpat Esar sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Ini juga dada gue kenapa sih panas banget!!!" Dumelnya lagi.


Setelah setelah sepuluh menit di dalam kamar mandi untuk menata emosinya, baru lah Esar keluar dari dalam kamar mandi.


💋💋💋


Hari-hari berlalu, tak terasa sudah seminggu Millie menggantung Alpha.


Meski Millie menggantung perasaannya, tapi Alpha tetap mendekati Millie untuk meyakinkan Millie kalau perasaannya pada Millie memang sungguh-sungguh.


Hubungannya dengan Esar juga belum mencair. Millie masih dingin pada Esar dan Esar juga sepertinya sudah menyerah merayu Millie untuk memaafkannya. Namun meski begitu, Esar bisa tau informasi tentang apa yang Millie makan disaat jam makan siang, dan apa yang Millie lakukan setelah selesai bekerja dari Si Tukang Kompor.


Sama seperti hari-hari sebelumnya, setelah pulang kuliah, Millie langsung pergi ke kantor.


Dan disini lah Millie saat ini, duduk di kursi kebesarannya di dalam ruang kerjanya.


Meski mata menatap layar laptop, tapi pikirannya sedang tidak pada pekerjaan. Ia sedang memikirkan jawaban untuk Alpha. Apalagi sebelum Millie meninggalkan kampus, Alpha kembali menanyakan apakah Millie sudah punya jawaban atas perasaannya itu.


"Ya.. gue harus bilang begitu." Kata Millie pelan.


"Bilang apa Mil?" Tanya Nancy.


"Bukan apa-apa." Jawab Millie.


"Soal Alpha?" Tanya Nancy menyelidik. Sekalipun Millie menutupinya, tapi Nancy tau kalau sedari tadi Millie sedang memikirkan jawaban untuk Alpha.


Millie menganggukkan kepalanya.


"Terus loe mau jawab apa?" Tanya Nancy penasaran.


"Loe berharap gue jawab apa emangnya?"


"Harapan gue sih loe terima dia."


"Gue gak bisa Cy. Hati gue gak bergetar sama dia. Emang sih gue udah mulai nyaman, tapi nyaman aja kan gak cukup untuk sebuah hubungan." Jawab Millie.


"Ya udah kalau emang loe gak bisa nerima dia. Mending loe langsung kasih tau dia deh Mill, biar dia gak lama nungguin loe." Kata Nancy memberi saran.


"Iya, rencananya pulang kerja gue juga mau ketemu sama dia dan ngomongin ini baik-baik." Jawab Millie.


Millie pun mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Alpha dan meminta bertemu di taman tempat Alpha menyatakan cinta pada dirinya.


Jam kerja pun berakhir.


"Gue duluan yah Cy." Pamit Millie terburu-buru.


"Loh kok duluan? Gak mau bareng aja?" Tanya Nancy.


"Gak usah. Loe pulang duluan aja. Biar gue naik taksi aja." Jawab Millie.


Millie pun keluar dari ruang kerjanya dengan terburu-buru.


Tak lama Nancy pun keluar dari dalam ruang kerja Millie.


Seiring keluarnya Nancy dari ruang kerja Millie, Esar dan Arthur pun juga keluar dari ruang kerja mereka.


"Millie mana?" Tanya Arthur.


"Udah pulang duluan." Jawab Nancy.


"Tumben? Si Nyai sakit?" Tanya Arthur lagi.


Dan pertanyaan Arthur sontak membuat Esar panik.


Nancy menggelengkan kepalanya.


Melihat Nancy menggelengkan kepalanya, Esar yang sempat panik menghela nafas lega, Esar pun berjalan mendahului Nancy dan Arthur. Tapi kelegaan Esar hanya beberapa detik saja karena kata-kata Nancy berikutnya lebih membuat Esar cemas dibanding pertanyaan Arthur.


"Dia ke taman, mau ketemuan sama Alpha." Kata Nancy.


"Woaaah... apa Millie mau ngasih jawaban sama si Alpha?" Tanya Arthur tapi dengan volume suara yang sengaja ia buat tinggi agar Esar juga mendengar. Padahal tanpa Arthur meninggikan volume suaranya, Esar juga bisa mendengar apa yang Nancy dan Arthur bicarakan karena posisi Esar sekarang hanya beberapa langkah di depan Nancy dan Arthur.


Nancy menganggukkan kepalanya.


Melihat Nancy hanya mengangguk, Arthur pun memberi kode pada Nancy dengan matanya. Kode untuk memanas-manasi Esar.


Paham dengan kode mata Arthur, Nancy pun mengatakan hal yang bisa membuat Esar berubah menjadi siluman cacing.


"Kayaknya sih Millie mau nerima Alpha. Soalnya gue lihat dari tadi Millie tuh semangat banget kerjanya." Kata Nancy lagi.


Rahang Esar mengeras. Tangannya pun mengepal, ia sedang berusaha menahan api cemburu dalam dada nya yang hendak berkobar.


"Kayaknya bentar lagi ada yang sebar undangan nih." Timpal Arthur Si Tukang Kompor. Dasar teman laknat, bukannya membantu Esar memadamkan bibit api cemburu dalam dada Esar, ini malah makin menyemburkan minyak tanah ke bibit api cemburu itu.


Dan kerena kata-kata Arthur itu, bibit api cemburu berubah menjadi kobaran api cemburu yang maha dahsyat.


Esar pun membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Nancy dan Arthur. Ia sudah tidak bisa menahan perasaan cemburunya. Naluri laki-lakinya berkata, ia harus segera menyusul Millie dan mengungkapkan isi hatinya yang terdalam, yang baru-baru ini ia sadari.


"Millie ke taman mana?" Tanya Esar.


"Loe mau ngapain nanya-nanya?" Tanya Nancy ketus.


"Udah jawab aja, Millie ke taman mana?" Bentak Esar. Untung mereka masih di lantai khusus para pemilik perusahaan, kalau mereka sudah di lobi, pasti orang-orang kaget mendengar bentakan Esar.


"Tenang bro.. tenang. Gak usah main bentak-bentak gitu." Kata Arthur.


Sebenarnya Nancy tidak takut atau kaget dengan bentakan Esar, tapi demi akting yang totalitas, Nancy pun pura-pura memasang raut wajah ketakutan.


"Sorry Cy, gue gak bermaksud bentak loe." Kata Esar merasa bersalah.


"Emangnya Millie pergi ke taman mana?" Tanya Esar.


"Ke taman yang deket foodstreet, tempat kita makan bareng Jasmine waktu itu." Malah Arthur yang menjawab.


Dan tanpa banyak bicara lagi, Esar pun langsung berlari menuju lift. Ia ingin menyusul Millie ke taman itu.


"Sebenarnya jawaban Millie untuk Alpha apa? Tanya Arthur setelah Esar masuk ke dalam lift.


"Katanya sih, dia bakal nolak Alpha. Hatinya gak bergetar sama Alpha." Jawab Nancy.


"Udah gue duga." Balas Arthur.


"Kalau menurut gue, Esar sama Millie tuh sebenarnya saling suka, tapi pada gengsi untuk ngaku." Kata Arthur.


"Gue juga ngerasa gitu sih " balas Nancy.


"Mudah-mudahan setelah mereka pulang dari taman, kita bisa denger kabar baik tentang hubungan mereka berdua. Capek gue kalau mereka berantem mulu." Kata Arthur.


"Gue harap juga begitu." Balas Nancy.


Bersambung...