Partner In . . .

Partner In . . .
Na Thur 24



Kini Dewa sudah berdiri di altar pengucapan janji suci.


Tak lama Xena pun masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan mendekati Dewa ke altar dengan di dampingi Ayah Xena. Denting piano mengiri langkah Xena sampai ke altar.


Melihat Xena memakai gaun pengantin yang sangat simple dan riasan wajah yang sangat sederhana, sama sekali tidak membuat Dewa terpukau, rasa kesal dan marah pada Xena atas pernikahan yang tidak diinginkan ini telah menutupi mata hati Dewa untuk melihat kecantikan natural seorang Xena.


Xena pun sampai di depan altar.


Ayah Xena memberi kode pada Dewa untuk mengambil tangan Xena.


"Sut.. sut.." kode dari Ayah Xena.


Dewa membalas kode dari Ayah Xena dengan membulatkan matanya seolah bertanya "apa?".


Ayah Xena pun memberi kode dengan matanya agar Dewa mengambil tangan Xena.


Mengerti kode yang di berikan Ayah Xena, Dewa pun mengambil tangan Xena yang sejak tadi berpegangan pada Ayah-nya.


Maklum saja, pernikahan ini dadakan jadi tidak ada yang namanya gladi bersih.


Dewa pun menuntun Xena untuk naik ke altar.


"Baiklah, mari kita mulai acara sakral hari ini." Ucap pemuka agama sebagai pembuka acara.


"Tunggu!!!" Teriak seorang pria dari pintu.


Siapa lagi pria itu kalau bukan Arthur. Dengan gagahnya Arthur berdiri di depan pintu.


Sontak semua mata menoleh ke arah pintu.


"Mau apalagi dia?!" Dumel Papa Arthur saat melihat anaknya berdiri di depan pintu.


Melihat Arthur didepan pintu, Dewa tersenyum senang. Karena dipikiran Dewa, Arthur akan menyelamatkannya dari pernikahannya dengan Xena dan menggantikan dirinya sebagai rasa tanggung jawab Arthur karena sudah menyuruh Dewa menggantikannya di acara pertemuan.


Tapi ternyata pikiran Dewa salah.


Arthur berjalan memasuki ruangan sambil matanya mencari keberadaan Nancy yang ternyata duduk di barisan kursi nomor tiga dari depan.


Nancy yang juga ikut menoleh kearah Arthur mengernyitkan keningnya dengan tingkah Arthur.


Dan sampai lah Arthur di depan Nancy.


Tanpa sepatah kata apapun, atau sekedar meminta izin pada orangtua Nancy yang duduk disebelah Nancy, Arthur langsung menarik tangan Nancy.


"Eeh... mau ngapain!!" Teriak Nancy.


Arthur tak menjawab dan terus menarik tangan Nancy sampai diatas altar tepat di belakang Dewa-Xena.


"Mau ngapain loe?" Tanya Dewa.


"Mau ngapain sih?!" Tanya Nancy yang masih agak loading dengan apa yang hendak Arthur lakukan.


Arthur tak menjawab pertanyaan Nancy dan Dewa. Ia malah memutar tubuhnya mengarah pada tamu yang ada diruangan itu.


"Om-Tante, di depan sini dan disaksikan juga oleh para keluarga yang datang, saya meminta ijin pada Om dan Tante untuk menikah dengan Nancy." Kata Arthur dengan suara tegas dan lantangnya pada orangtua Nancy.


Semua mata yang ada diruangan itu, tak terkecuali Nancy, Dewa dan Xena membulat sempurna mendengar kata-kata Arthur.


"Loe gi•la yah!!!" Tanya Nancy yang masih tidak percaya dengan apa yang Arthur lakukan.


"Gimana Om-Tante, bolehkan?" Tanya Arthur sekali lagi tanpa menghiraukan kata-kata Nancy.


"Kalau Nancy, saya juga setuju." Jawab Ayah Nancy.


Pandangan Arthur pun beralih menatap Nancy.


Karena Arthur tak membawa bunga untuk melamar Nancy, melihat bunga hias yang ada disamping kiri-kanan altar, Arthur pun mengambil setangkai bunga itu lalu berlutut di depan Nancy.


"Nancy, aku tahu mungkin cara ku ini sangat ekstrim dan tidak romantis, tapi semua ini aku lakukan karena aku sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama untuk memiliki mu. Nancy, mau kah kamu menjadi bidadari ku, istri ku, ibu dari anak-anak ku?" Ucap Arthur sambil menyodorkan setangkai bunga yang baru ia ambil tadi.


Blush. Wajah Nancy memerah seketika mendengar kata-kata lamaran Arthur, meski tidak romantis dan sangat ekstrim, tapi Nancy tak bisa membohongi dirinya kalau kata-kata Arthur sangat lah menyentuh hatinya dan menurut Nancy, sikap Arthur ini sangat lah gentleman, tidak seperti Esar yang melamar saja harus memakai panduan si Embah.


"Uh ... so sweet." Puji Xena.


"Diem loe!!" Omel Dewa yang tak senang dengan apa yang Arthur lakukan. Bagaimana mau senang kalau ternyata apa yang Dewa pikirkan ternyata salah besar dan dirinya harus tetap menikahi Xena si Titisan Tante Lala.


Bersambung...