
Kini mereka sudah berada di bioskop dan sedang menunggu pintu teater terbuka.
Millie-Alpha, Nancy-Arthur terlihat sangat akrab seperti orang yang sedang pacaran. Bercanda, pukul-pukul gemas, cubit-cubit manja, senggal-senggol mesra. Melihat keakraban itu, ternyata ada mata dan hati yang panas.
Siapa lagi kalau bukan Esar.
Ternyata begitu Arthur keluar dari dalam apartemen, Esar pun keluar dari dalam kamar dan mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu.
Melihat rombongan Millie pergi, dengan menggunakan pakaian serba hitam serta kacamata dan masker hitam, Esar pun keluar dari dalam unit apartemennya. Dan begitu Millie dan rombongannya itu masuk ke dalam lift, Esar pun menggunakan lift yang lain untuk menyusul rombongan Millie.
Tapi sayangnya penyamaran Esar itu bisa terdeteksi Millie, Arthur dan Nancy.
Bagaimana tidak ketahuan kalau Esar mengikuti mereka menggunakan mobilnya dengan jarak yang sangat dekat, bahkan begitu di dalam mall pun, Esar mengikuti dengan jarak sangat dekat, jelas saja Millie, Arthur dan Nancy bisa merasakan sinyal keponisme yang Esar pancarkan.
Namun meski Millie tau Esar mengintili mereka, Millie, Arhur dan Nancy pura-pura tidak tahu, dan malah makin memanas-manasi Esar.
Pintu teater pun terbuka, dan mereka pun masuk ke dalam teater. Film romantis yang Millie pilih makin membuat Esar semakin gusar.
"Ini kan film romantis. Kalau film romantis pasti banyak cium-cium annya. Wah... bahaya, nanti kalau Millie ciuman sama laki-laki itu gimana?" Gumam Esar gusar sambil membayangkan jika Millie dan Alpha saling bertukar saliva.
"Gak. Gak boleh!!! Itu gak boleh terjadi!! Itu menjijikkan!! Kalau si Alpha itu punya penyakit, nanti Millie ikut ketularan juga!! Gue harus ganggu mereka biar mereka gak menikmati filmnya!!" Gumam Esar lagi.
Esar pun memikirkan bagaimana cara untuk mengganggu Millie dan Alpha sepanjang film.
"Permisi Tuan." Kata seorang gadis yang hendak duduk di sebelah Esar.
"Ah iya. Silahkan Nona." Jawab Esar sambil memberi jalan pada gadis itu dan pasangannya.
Saat gadis itu melintasi Esar, mata Esar teralihkan dengan popcorn yang di pegang gadis itu.
"Nona, bisa kah kau memberikan popcorn itu pada ku?" Tanya Esar.
"Kenapa anda tidak membelinya saja di luar Tuan?"
"Ayo lah Nona. Aku akan membelinya sepuluh kali lipat dari harga popcorn itu, bagaimana?" Tanya Esar bernegosiasi.
Gadis itu melirik kekasihnya sejenak. Dan sang kekasih pun menganggukkan kepalanya tanda ia menyuruh kekasihnya untuk menyetujui negosiasi yang Esar buat.
"Baik lah Tuan. Tapi mana dulu uangnya, aku tidak mau sampai tertipu."
"Tenang lah Nona, aku bukan penipu." Balas Esar dengan raut wajah tidak suka. Esar pun mengeluarkan dompetnya dan menarik beberapa lembar uang dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada gadis itu.
Mata gadis itu membelalak saat Esar memberikan beberapa lembar uang itu padanya karena jumlah uang itu bukan sepuluh kali lipat dari harga popcorn melainkan seratus kali lipat dari harga popcorn.
"Ini. Dan popcorn ini sah menjadi milik ku!!" Omel Esar sambil mengambil popcorn itu dari tangan gadis yang sedang menganga.
Esar yang kesal dengan gadis itu karena di kira penipu pun pergi dari barisan tempat duduknya dan duduk di barisan yang hanya beda satu baris dengan barisan tempat duduk Millie dan Alpha. Untung saja kondisi teater sepi sehingga banyak bangku yang kosong, jadi tidak ada yang memarahi Esar pindah tempat duduk.
"Sedang apa si Mr. Bloon itu?" Bisik Millie pada Nancy yang duduk di sebelahnya.
Meski tidak melihat langsung apa yang Esar lakukan, tapi mata batin Millie bisa merasakan kalau saat ini Esar duduk di barisan yang hanya berbeda satu baris dengan mereka.
"Entah." Jawab Nancy.
"Kita panas-panasin aja terus Mill, biar makin ngebul." Kata Nancy lagi.
Adegan yang di takutkan Esar pun muncul. Adegan tukar saliva dengan panasnya.
Esar yang tidak ingin Millie dan Alpha meniru adegan itu pun langsung melempar popcorn ke arah Millie dan Alpha.
Merasa ada yang melempar popcorn ke arahnya, Millie yakin kalau itu adalah Esar.
Sebenarnya Millie kesal, tapi ia berusaha menahan emosinya dan pura-pura tidak tahu. Ia malah makin memanas-manasi Esar dengan menyandarkan kepalanya di pundak Alpha.
Jelas saja aksi Millie itu menguntungkan Alpha dan membuntungkan Esar.
Alpha yang tidak menyadari ada Esar di belakang mereka, berpikir kalau Millie menyandarkan kepalanya di pundaknya karena Millie menyukainya. Gara-gara aksi Millie itu, Alpha jadi semakin baper.
Melihat Millie menyandarkan kepalanya di pundak Alpha, dan Alpha juga mengelus kepala Millie, seketika Esar berubah menjadi siluman cacing kepanasan.
Dan lemparan popcorn itu berhasil membuat Alpha risih dan kesal. Alpha pun ingin memprotes orang yang melempari mereka dengan popcorn. Tapi baru kepalanya hendak menoleh, Millie langsung menahan kepala Alpha.
"Jangan hirau kan. Makin kita tanggapi, orang gila itu akan semakin menjadi-jadi." Ucap Millie.
Sedangkan dari sudut pandang Esar, Millie yang sedang melarang Alpha untuk menengok kebelakang terlihat seperti orang yang berciuman.
"Aaargh!!!" Geram Esar sambil menendang kursi yang ada di depannya. Untung saja kursi itu kosong kalau tidak, sudah di pastikan sejak Esar melempar popcorn ke arah Millie, Esar sudah di usir keluar.
"Terserah lah!! Gue gak peduli!!" Dumel Esar kesal. Karena sangat kesal dan tidak tahan melihat kemesraan Millie dan Alpha dari sudut pandang nya, Esar pun memilih untuk keluar dari dalam teater meski masih ada waktu empat puluh lima menit lagi.
Melihat Esar keluar dari dalam teater sebelum film habis, Millie, Nancy dan Arthur tertawa kecil penuh kemenangan.
💋💋💋
Film pun usai, dan para penonton berkeluaran dari dalam teater.
Begitu pun dengan rombongan Millie.
Sesuai dengan hasil musyawarah mereka berempat, mereka pun memutuskan untuk keluar dari mall itu dan mengisi perut mereka di foodstreet.
Kali ini tak ada Esar yang mengintili mereka. Sepertinya Esar sudah menyerah dengan apa yang ingin Millie lakukan.
Setelah satu jam di foodstreet dan telah mengisi perut mereka. Mereka pun pergi ke taman yang ada di dekat foodstreet itu.
Kini mereka sudah berada di taman itu, Millie-Alpha dan Nancy-Arthur duduk di bangku taman yang berbeda.
"Mill.." panggil Alpha.
"Hemh..."
"Ada yang ingin aku katakan."
"Apa?"
Tiba-tiba saja Alpha berlutut di hadapan Millie.
Melihat aksi Alpha itu, si tukang kompor Arthur langsung mengeluarkan ponselnya untuk mereka aksi Alpha itu. Untuk apalagi rekaman itu kalau bukan untuk di jadikan bahan bakar memanaskan hati yang cemburu. Karena Arthur yakin kalau saat ini pasti Alpha ingin menyatakan cintanya pada Millie.
"Apa yang kau lakukan? Berdiri dan kembali duduk disini." Omel Millie karena aksi Alpha itu bukan hanya di lihat oleh Nancy dan Arthur melainkan juga di lihat oleh pengunjung taman yang lain.
Alpha tak menghiraukan kata-kata Millie dan malah mengambil kedua tangan Millie untuk ia rangkum.
"Millie, aku menyukai mu, apakah kau mau menjadi kekasih ku?" Tanya Alpha tanpa basa-basi.
Mata Millie membelalak kaget mendengar pengakuan Alpha.
Jika Millie kaget, Nancy malah terharu dengan cara Alpha mengungkapkan isi hatinya. Tidak bertele-tele tapi sangat kena di hati.
"Oh... so sweet.." Ucap Nancy sambil merangkum kedua pipinya.
"Cih..." decih Arthur sambil melirik ke arah Nancy.
Kembali ke Millie dan Alpha.
"Apa-apaan kau ini!!" Omel Millie dan hendak menarik tangannya dari genggaman tangan Alpha, tapi Alpha menahan tangan Millie.
"Aku serius Millie, mau kah kau menjadi kekasih ku?" Tanya Alpha lagi.
Millie diam tak menjawab. Terlihat sekali raut wajah bingung dari wajah cantik itu. Karena Millie memang sudah merasa nyaman dengan Alpha tapi hatinya sama sekali tidak merasakan getaran apa-apa.
"Aku tau kau pasti bingung. Kalau kau bingung, aku akan memberikan mu waktu untuk memikirkannya. Jika sudah punya jawabannya, harap datang pada ku segera." Kata Alpha.
Alpha pun berdiri dan kembali duduk disamping Millie.
Dengan berakhirnya aksi menyatakan cinta itu, Arthur pun juga berhenti merekam, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya sambil tersenyum licik.
Bersambung...