
Setengah jam kemudian sinetron ku menangis itu pun selesai Millie tonton.
Millie pun meletakkan ponsel dan earphone di atas nakas, lalu mengganti penerangan di kamarnya menjadi lampu tidur.
Setelah penerangan di ruang tidur redup, Millie pun memejamkan matanya dan memulai tidurnya.
Lima menit ia memejamkan matanya, masih aman, belum ada bayangan-bayangan negatif efek menonton sinetron ku menangis merasuki otaknya.
Namun di menit ke sepuluh, bayangan Esar dengan seorang wanita di kamar tidur bawah langsung meracuni jalan pikirannya.
Sontak Millie pun membuka matanya.
"Jangan-jangan emang bener lagi Esar masukin perempuan lain ke apartemen ini!! Makanya dia minta tidur di bawah!!!" Terka Millie.
Sssh... ah.. uh... mmmh... Suara des•ahan Esar dan perempuan lain juga terngiang-ngiang di telinga Millie.
"Gue harus cek!! Awas aja kalau loe beneran bawa perempuan lain kesini!!! Gue siram tuh Casper pake air keras terus gue masukin museum!!" Dumel Millie sambil beranjak dari atas ranjang.
Dengan langkah panjang dan terburu-buru Millie keluar dari kamarnya lalu menuruni anak tangga.
Kini Millie sudah berdiri tepat di depan kamar tamu yang dulu Esar dan Arthur pakai sebagai kamar mereka.
Millie tak langsung membuka pintu kamar itu, ia menempelkan telinganya ke pintu untuk menguping apakah ada suara-suara ah uh ah uh atau tidak dari dalam kamar.
Tapi sayangnya, Millie tak mendengar suara apapun dari dalam kamar.
"Apa jangan-jangan mereka bercinta di kamar bath up yah?" Gumam Millie menerka-nerka.
Tak ingin rasa penasaran menghantui hati dan pikirannya, Millie pun membuka pintu kamar dengan perlahan dan berjalan mengendap-endap memasuki ruang tidur.
Sesampainya di ruang tidur Millie pun bernafas lega, karena Esar ternyata sudah tidur nyenyak dia atas ranjang.
Tak ingin mengganggu tidur suaminya, Millie pun memutar tubuhnya dan hendak keluar dari dalam kamar.
Namun baru dua langkah, ia menghentikan langkah kaki-nya.
"Jangan-jangan tuh cewek ada dalam kamar mandi lagi!!! Dan Esar cuma pura-pura tidur doang!!" Pikiran negatif kembali menguasai Millie padahal baru beberapa detik yang lalu ia menyadari kalau pikiran buruknya itu efek menonton sinetron ku menangis.
Millie pun memutar tubuhnya lagi lalu berjalan ke kemar mandi yang ada di dalam kamar itu.
BRAAK. Millie membuka pintu kamar mandi dengan kasar lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mencari keberadaan wanita yang ada dalam pikirannya.
Kosong. Tak ada siapapun di sana.
Millie kembali bernafas lega.
"Nih otak gue kenapa jadi mikir negatif mulu sih!!! Mana mungkin lah Esar berani macem-macem di belakang gue!!" Gumam Millie.
Millie pun keluar dari dalam kamar mandi dan niatnya ingin langsung keluar dari dalam kamar mandi, tapi saat kaki nya sampai di depan ranjang, tubuhnya seperti tertarik magnet. Ia malah naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sebelah Esar.
Millie membaringkan tubuhnya dengan posisi telentang sambil menatap langit-langit kamar dan sesekali melirik Esar yang sedang tertidur pulas dengan posisi membelakangi dirinya.
"Kok aneh, kok gua gak mual deket Esar, padahal deket banget jaraknya." Gumam Millie lalu mengendus tubuh Esar.
"Gak bau. Enak kok bau-nya." Lirih Millie.
Dan sepertinya aroma tubuh Esar telah membangunkan gairah dalam tubuh Millie.
Millie menggigit bibir bawahnya lalu perlahan mendekati Esar dan memeluk Esar dari belakang. Ia memejamkan matanya sambil menikmati aroma tubuh Esar yang kemaren-kemaren Millie bilang bau uap toilet tapi sekarang bau uap toilet itu berubah menjadi aroma maskulin ciri khas Esar.
Bersambung...