Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 32



Kini Mama Nia dan Papa Irlan sudah berada di perusahaan IYG.


"Dimana anak saya?" Tanya Mama Nia pada Mathew.


"Tuan Gry masih kuliah jam segini Nyonya."


"Kalau Esar masih kuliah, berarti Millie juga masih kuliah." Gumam Mama Nia dalam hati.


"Ya sudah, biar saya tunggu di ruang kerjanya saja." Kata Mama Nia lagi.


"Pah, kamu urus saja dulu masalah mu, biar aku tunggu anak itu di ruang kerjanya." Kata Mama Nia pada suaminya.


"Baik sayang." Jawab Papa Irlan.


Mama Nia pun berjalan menuju lift khusus sendirian tanpa di temani Papa Irlan dan. Mathew.


"Apa yang sebenarnya terjadi Tuan?" Tanya Mathew yang belum mengetahui alasan Papa Irlan dan Mama Nia datang mendadak ke negara itu.


"Panggil sekretaris Gry dan Millie dan juga asisten Gry dan Millie. Kita harus mengadakan rapat rahasia." Perintah Papa Irlan pada Mathew.


"Baik Tuan." Mathew pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi para sekretaris dan asisten Esar dan Millie.


Kini jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang waktu setempat, dimana Mama Nia sudah satu setengah jam menunggu kedatangan Esar.


Ceklek. Pintu ruang kerja Esar terbuka.


Sontak Mama Nia pun menoleh ke arah pintu.


"Mama.." teriak Esar sambil berjalan menghampiri mamanya.


Mama Nia pun berdiri dari tempat duduknya dan...


PLAAAAK. Mama Nia langsung menampar Esar dengan sangat keras.


"Mama..." lirih Esar sambil menatap wajah mamanya.


"Apa mama pernah mengajari mu kasar dengan perempuan, hah!!!" Teriak Mama Nia.


"Apa maksud mama? Esar gak ngerti!"


"Jangan pura-pura gak tau kamu!!! Kenapa kamu berbuat kasar dengan Millie?!"


"Oh... jadi Millie ngadu sama mama, iya?!" Esar malah meninggikan suaranya.


"Woah.. sudah bisa kamu yang meninggikan suara sama mama!!! Apa wanita ular itu yang mengajari mu tidak sopan sama mama?!"


"Jadi Millie juga mencuci otak mama dengan menjelek-jelekkan Jasmine?!" Kata Esar lagi masih dengan suaranya yang meninggi.


"Asal Mama tau, Millie menjelek-jelekkan Jasmine karena Millie cemburu Esar pacaran sama Jasmine. Jasmine itu perempuan baik-baik Mah."


"Apa ada perempuan baik-baik yang menjadi simpanan suami orang?!"


"Apa maksud Mama ngomong kayak gitu?! Jasmine gak kayak gitu Mah!! Mama jangan percaya dengan fitnah yang Millie katakan!!!"


"Millie gak fitnah Esar, gak mungkin Millie mengatakan sesuatu tanpa ada bukti!!!"


"Itu emang karena Millie licik, Mah!!! Selama ini Mama udah di bodoh-bodohi sama Millie!! Esar kecewa sama Mama!!!" Esar yang kesal pada sang Mama langsung keluar dari ruang kerjanya.


Saat Esar membuka pintu ruang kerjanya ternyata ada Millie yang berdiri di depan pintu. Jelas saja perdebatan Esar dan Mama Nia terdengar jelas di telinga Millie.


Esar tidak memperdulikan Millie yang berdiri tepat di hadapannya, malahan Esar menyenggol Millie kasar lalu berjalan dengan langkah panjang menuju lift.


"Millie.." lirih Mama Nia saat melihat Millie yang masih ternganga di depan pintu.


"Aunty.." balas Millie.


"Maafin Esar yah sayang, Esar lagi di butakan cinta, makanya dia seperti itu. Tapi Aunty yakin ini gak akan lama, sebentar lagi Esar akan tau sendiri siapa wanita itu sebenarnya. Esar itu persis seperti Papa nya dulu, kalau sudah cinta akan susah di beritahu kalau belum melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jadi biarkan waktu yang membongkar siapa wanita sebenarnya."


"Mmmm..." respon Millie sambil menganggukkan kepalanya dalam pelukan Mama Nia.


💋💋💋


Kembali ke Esar.


Esar yang kesal dengan Mama nya memilih untuk meninggalkan perusahaan dan pergi ke apartemen Jasmine, bukan untuk menemui Jasmine melainkan hanya untuk menenangkan pikirannya, karena setau Esar jam segini Jasmine sudah pulang kuliah dan lanjut bekerja di perusahaan Tuan Charles. Walaupun Jasmine tidak ada di apartemen, tapi Esar masih bisa masuk ke apartemen Jasmine karena Jasmine memberi kartu kunci cadangan untuk membuka pintu apartemennya pada Esar.


Kini Esar sudah berada di depan pintu apartemen Jasmine. Esar pun langsung membuka pintu itu dengan kartu cadangan yang Jasmine berikan padanya.


Ceklek. Pintu pun terbuka dan Esar pun masuk ke dalam.


"Sepatu siapa ini?" Gumam Esar saat melihat ada sepatu pantofel laki-laki di depan pintu.


"Aaah.. Uuh.. " Samar-samar Esar seperti mendengar suara orang men•des•ah.


"Suara siapa itu? Apa di apartemen ini ada penghuni lain selain Jasmine?" Gumam Esar. Ia masih berpikiran positif tentang Jasmine.


Dengan langkah yang mengendap-endap, Esar pun berjalan mendekati sumber suara yang ternyata ada di kamar Jasmine.


Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, seolah memberi akses untuk Esar masuk ke dalam kamar dengan mudahnya.


Esar pun membuka pintu itu dengan sangat perlahan agar tidak mengeluarkan bunyi lalu masuk ke dalam kamar dengan langkah yang sangat pelan dan hati-hati.


Kagetnya Esar saat melihat Jasmine dan Tuan Charles sudah nemplok di kaca balkon dengan keadaan polos. Gaya mereka seperti sedang cosplay cicak yang sedang kawin.


Sangking kagetnya, Esar sampai tidak bisa mengeluarkan suaranya dan mulutnya hanya menganga. Karena ini pertama kalinya ia melihat adegan proses perkembangbiakkan manusia secara live. Karena biasanya ia hanya menonton lewat layar ponsel saja.


Justru yang kaget sekarang adalah Jasmine dan Tuan Charles.


Saat merasa ada orang lain yang sedang berdiri di belakang mereka, Jasmine dan Tuan Charles pun menengok ke belakang disela-sela gerakan maju-mundur mereka.


"Gry..." lirih Jasmine.


Tuan Charles pun cepat-cepat menarik benda tumpulnya itu dari dalam lubang kramat Jasmine.


"Bit•ch!!!" Umpat Esar sambil memberi tatapan rendah pada Jasmine, setelah itu Esar pun keluar dari dalam kamar Jasmine.


"Gry... tunggu..!!" Teriak Jasmine. Jasmine pun menarik selimut dan menggulung selimut itu untuk menutupi tubuhnya lalu mengejar Esar yang sudah keluar dari kamar.


"Gry.. tunggu, bisa aku jelaskan." Teriak Jasmine lagi.


Esar pun menghentikan langkah kakinya lalu memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Jasmine.


"Apa kau bilang? Menjelaskan? Memangnya apa yang mau kau jelaskan? Aku sudah sangat jelas melihat kau dengan bos mu itu, jadi kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi!!" Kata Esar sambil tertawa remeh.


Setelah mengatakan itu, Esar pun memutar tubuhnya dan kembali berjalan mendekati pintu.


Tak ingin rencana yang disusunnya gagal, Tuan Charles yang sejak tadi berdiri depan pintu langsung mengambil vas bunga yang terbuat dari kayu jati dan berjalan dengan langkah panjang mendekati Esar, Tuan Charles berniat ingin memukul kepala Esar dan berharal Esar pingsan, lalu membawa Esar ke dalam kamar Jasmine dan membuat sebuah konspirasi ranjang.


Tapi sayangnya rencana Tuan Charles itu gagal, belum sempat vas bunga itu mengenai kepala Esar, Esar sudah membalikkan tubuhnya dan berbalik menyerang Tuan Charles dengan cara memiting leher Tuan Charles.


"Gry... hentikan!!! Lepaskan Tuan Charles, dia bisa mati nanti." Teriak Jasmine histeris.


BRAAAK. Tiba-tiba saja pintu apartemen itu terbuka dengan kasar.


Empat orang bertubuh tinggi besar masuk ke dalam apartemen Jasmine.


Bersambung...