
Ceklek. Siapa sangka tiba-tiba pintu kamar Dewa terbuka.
Masih dalam saling menggigit, Dewa dan Xena pun menoleh ke arah pintu.
Mata mereka membulat bersamaan saat melihat sosok Papa Dewa ternyata yang membuka pintu kamar Dewa.
"Maaf, Papa ganggu yah?! Hehe.. lanjutin lagi deh kalau gitu." Ucap Papa Dewa sambil menyengir lalu kembali menutup pintu kamar Dewa.
"Kalau udah gak tahan langsung eksekusi aja Wa!!" Teriak Papa Dewa setelah menutup pintu.
Dewa dan Xena yang sejak tadi belum menyadari kalau posisi mereka masih dalam keadaan saling menggigit, akhirnya sadar begitu Papa Dewa keluar dari dalam kamar.
Sontak mereka pun saling mendorong tubuh pasangan mereka.
"Uweeek.. cuih.. cuih.. cuih.." decih Dewa sambil berlari menuju kamar mandi yang ada dalam kamar-nya untuk membersihkan mulutnya.
Melihat reaksi Dewa yang berlebihan seperti itu jelas saja Xena semakin sakit hati saja, seolah-olah bibirnya itu barang haram yang najis untuk dicium.
"Nyebelin!! Awas aja kamu, akan aku buat kamu ngemis-ngemis minta cium sama aku!!!" Geram Xena.
Xena yang kesal pun langsung keluar dari dalam kamar sambil menyeret koper yang sudah ia isi pakaiannya.
Tak lama setelah Xena keluar, Dewa juga keluar dari dalam kamar mandi.
"Mana tuh anak?!" Monolog Dewa saat tak melihat Xena ada di kamar. Mata Dewa pun beralih ke tempat tidur dimana tadi Xena meletakkan kopernya.
"Sial!! Pasti udah ke bawah tuh anak!" Geram Dewa.
"Dewaaa....!! Cepetan, Xena udah nungguin!!" Teriak Mama Dewa dari lantai bawah.
"Bener kan!! Dasar nyai ronggeng!!" Geram Dewa.
Mau tak mau Dewa pun cepat-cepat mengganti pakaiannya lalu membawa beberapa lembar pakaiannya yang ia ambil secara asal dari dalam lemari lalu memasukkannya kedalam bagpack.
Setelah semua siap, baru lah Dewa turun ke lantai bawah menyusul Xena yang sudah duduk manis di mobil.
"Lama banget sih kamu!!" Omel Mama Dewa.
"Maklum Ma, tadi udah sempet panasin mesin, jadi harus di dinginkan dulu." Malah Papa Dewa yang membalas.
"Dewa pergi yah Ma, Pa." Pamit Dewa sambil mencium punggung tangan orangtuanya.
Setelah selesai, Dewa pun memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Wa, perlu obat kuat gak?" Goda Papa Dewa.
Dewa tak menjawab, ia hanya memutar bola matanya malas mendengar godaan Papa-nya.
"Gue gak butuh obat kuat, yang gue butuhin obat darah tinggi!!" Gerutu Dewa dalam hatinya.
Braak. Dewa menutup pintu mobil dengan kasar.
"Udah bisa jalan Mas Dewa?" Tanya supir keluarga Dewa.
"Iya Pak, jalan." Malah Xena yang menjawab lalu melirik Dewa sesaat dan di balas dengan pelototan dari Dewa. Melihat Dewa melotot padanya, Xena pun membalas dengan memberi pelototan pada Dewa sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke jendela mobil.
Melihat mertua-nya ada di teras rumah, Xena langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan tersenyum manis dan menggemaskan sambil melambai-lambaikan tangannya pada Mama-Papa Dewa.
"Dadah Mama mertua, dadah Papa mertua. Doain yah Pa-Ma biar semua lancar, biar pulang-pulang bisa bawa cucu." Teriak Xena karena mobil sudah jalan perlahan.
"Sinโขting!!!" Umpat Dewa saat mendengar kata-kata Xena.
๐๐๐
Bali.
Kini Arthur dan Nancy sudah berada di dalam kamar hotel yang sudah di pesan Papa Arthur di Bali.
Bukan kamar VIP memang yang di pesan Papa Arthur, tapi dari kamar yang di pesan Papa Arthur itu, mereka bisa menikmati sunset tanpa harus keluar kamar. Dan kamar itu adalah satu-satunya kamar yang hanya bisa menikmati keindahan sunset tanpa harus keluar kamar.
"Pemandangannya indah yah Thur." Ucap Nancy.
Arthur hanya menganggukkan kepalanya. Entah kenapa sesampainya di dalam kamar, jantungnya berdegup kencang, nyali-nya untuk menunjukkan kehebatan Abang Jago menghilang begitu saja. Arthur insecure dengan malam pertama mereka.
Bersambung...