Partner In . . .

Partner In . . .
Na Thur 21



Tak ingin langsung memberi apa yang Esar inginkan, Millie pun tersenyum licik saat ide jahil merasuki otaknya.


"Mmmm... gimana yah, tapi gue lagi males pergi kepuncak klimakstation." Balas Millie.


"Kok males? Kan enak!"


"Males keramas besok pagi! Dingin!" Balas Millie.


"Ayo lah Mill. Udah gak tahan. Loe gak kasihan apa sama Casper, nanti Casper pindah ke goa kramat lain gimana?" Ancam Esar.


"Emang loe berani?" Tanya Millie dengan raut wajah menantang.


Pastinya Esar langsung menggelengkan kepalanya.


"Makanya, kasihanilah Casper tuyul yang gagah perkasa ini, Mill.." mohon Esar.


"Oke. Tapi ada syaratnya."


"Apa? Ngerjain tugas kampus? Kan emang gue yang ngerjain tugas kampus loe."


"Bukan!!"


"Terus apa, cepetan!!" Tanya Esar yang sudah tidak tahan.


"Gini, gue akan ngasih elusan manja ke loe, tapi dengan syarat loe, gak boleh mendes•ah. Kalau loe mendes•ah berarti loe kalah, dan Casper gak boleh masuk goa kramat satu malam ini." Ucap Millie.


"Oke. Tapi nanti gantian yah. Dan kalau loe yang mendes•ah, satu minggu dan seminggu tiga kali, Casper bisa masuk goa kramat. Gimana?"


"Oke tapi kalau gue gak mendes•ah, Casper satu bulan gak bisa masuk goa kramat. Gimana?"


Mata Esar membulat.


"Ya gak bisa..."


"Eits!! Gak boleh protes!!" Baru Esar ingin melayangkan aksi protesnya, Millie sudah lebih dulu memotongnya.


"Hish sial!! Ini mah namanya game mempertaruhkan harga diri. Kalau sampe Millie gak bisa mendes•ah dengan sentuhan dan elusan gue, berarti gue gagal jadi suami perkasa!" Gerutu Esar dalam hatinya.


"Kita suit kalau gitu!" Ucap Esar.


"Enak aja, kan gue yang ngasih tantangan. Berarti gue duluan yang mulai!!" Protes Millie.


"Ya udah, cepetan mulai!" Balas Esar pasrah.


Masih dalam posisi di pangkuan Millie, Esar pun memejamkan matanya tanda kalau dirinya pasrah di belai Millie.


Dengan senyum licik mengembang di pipinya, Millie pun mulai memainkan jari-jarinya mulai dari leher, turun ke dada lalu turun keperut Esar yang tidak sixpack namun tidak one pack juga. Perlahan Millie memasukkan tangannya kebalik celana Esar.


Esar melipat bibir-nya rapat-rapat agar suara laknat tidak keluar dari mulutnya.


Tubuh Esar mengelinjang seperti cacing yang terkena air garam saat jari jemari Millie dengan lembut mengelus kepala dan tubuh Casper. Bukan hanya bibir yang Esar lipat, tangannya pun sudah mengepal menahan suara hasil kenikmatan yang sangat ingin keluar.


Saat merasakan Casper mulai bangun, baru lah Millie berhenti memberi elusan pada Casper maupun di tubuh Esar. Millie menyudahi bagiannya.


"Oke selesai!" Ucap Millie.


Esar pun bernafas lega. Meskipun Esar bernafas lega, tapi tidak dengan Casper. Di dalam jeruji kain-nya, Casper meronta-ronta seolah sedang meminta keadilan atas dirinya.


"Giliran gue yah sekarang." Kata Esar.


Millie menganggukkan kepalanya.


Esar pun mengubah posisinya menjadi duduk dan duduk disebelah Millie.


Sama yang seperti Millie lakukan padanya, Esar pun mulai memberikan sengatan dimulai dari leher Millie, hanya bedanya jika Millie tadi menggunakan tangannya, kalau Esar langsung menggunakan bibirnya.


Sambil bibir Esar memberi sengatan di leher Millie, tangan Esar pun tak tinggal diam, tangan itu pun menyelinap di balik sleepwear berbahan satin dan bermain dengan bakpao susu milik Millie.


"Ssh... Ah.." des•ah Millie saat Esar memainkan salah satu kutil yang tumbuh di puncak bakpao susunya.


Semudah itu Millie mengeluarkan suara hasil kenikmatan-nya? Ya jelas, karena memang ini lah yang Millie inginkan, Esar memberinya sentuhan-sentuhan yang bisa membuatnya terbuai. Bukan dengan kata-kata yang to the point.


Bersambung...