
"Loh... Nancy kenapa Thur?" Tanya Millie begitu ia sampai di ruang tengah apartemennya. Karena saat ini Nancy sedang menangis.
Arthur menggedikkan bahunya tanda ia juga tidak tau ada apa dengan Nancy.
"Bukan loe kan yang nangisin?" Tanya Millie curiga.
"Dih.. kok gue. Gue aja baru selesai mandi, pas gue keluar dia udah nangis. Di tanya kenapa, gak mau jawab." Jawab Arthur.
Millie pun mendekati Nancy dan duduk disebelahnya.
"Cy, loe kenapa?" Tanya Millie sambil mengelus kepala sahabatnya itu.
Nancy pun mendudukkan dirinya dan langsung memeluk Millie.
"Orangtua gue Mill..." Ucap Nancy sambil terisak.
"Orangtua loe kenapa?" Tanya Millie yang mulai khawatir, khawatir takut orangtua Nancy mengalami hal buruk.
"Orangtua gue nyuruh gue pulang. Padahal kan gue masih mau kerja sama loe. Kerja sama loe kan gajinya gede Mill." Jawab Nancy.
Mendengar jawaban Nancy, Millie langsung mendorong tubuh Nancy.
"Gue kirain kenapa loe!!" Omel Millie.
"Gue kirain orangtua loe kenapa-kenapa!! Gak tau nya cuma perkara gaji doang!!!" Millie lanjut mengomel.
"Ya iya lah Mill, gue kerja sama loe kan gaji gue utuh. Gak ngeluarin sewa rumah, gak ngeluarin uang belanja, gak ngeluarin uang makan, kan semua loe yang biayain." Balas Nancy.
"Kok tiba-tiba orangtua loe nyuruh loe pulang?" Sela Arthur.
"Mereka bilang udah kangen sama gue. London kejauhan buat mereka. Makanya gue disuruh pulang."
"Terus loe mau pulang?" Tanya Millie.
"Ya mau gak mau. Apalagi bokap gue bilang, nyokap gue jadi sering sakit-sakitan gara-gara kangen sama gue. Video call doang gak cukup buat ngobatin rasa rindu katanya." Jawab Nancy.
Wajah Millie pun berubah sedih.
"Udah gak usah sedih, kan loe punya Esar sekarang. Masa iya, loe udah punya suami tapi masih nempel sama gue mulu." Ucap Nancy.
"Tau loe Mill, gak kasihan loe sama Nancy harus cuci mata pake disinfektan terus gara-gara ngeliat loe mesra-mesraan sama lakik loe yang gak pernah tau tempat!!!" Timpal Arthur sekaligus menyindir Esar.
"Apalagi gue juga gak ada disini, makin ngenes lah itu hidupnya si Nancy." Lanjut Arthur.
"Udah... udah... daripada kita sedih-sedihan, gak guna juga, mending malam ini kita habiskan untuk main uno stucko."
"Setuju. Siapa yang kalah buka baju!" Timpal Arthur.
"Anjiir loe!!! Mau liat tubuh Millie sama Nancy?! Gue aja yang udah sah jadi suaminya aja belum ngeliat, loe lagi mau modus!!" Omel Esar sambil menoyor kepala Arthur pelan.
"Ya mana tau aja, kalian mau ngasih momen perpisahan yang berkesan buat gue."
"Buat loe berkesan ngeliat tubuh gue sama Nancy, tapi buat gue sama Nancy, ngeliat tubuh loe sama aja ketiban sial tujuh turunan tau gak!!!" Omel Millie.
"Jadi pada mau gak nih?" Tanya Esar sekali lagi.
"Emang loe berdua gak ritual malam pertama?" Arthur malah bertanya balik.
"Goa nya Casper lagi banjir bandang." Jawab Esar.
"Ya udah ayo." Balas Millie.
Dan mereka pun menghabiskan malam dengan bermain uno stacko.
***
Seminggu berlalu.
Nancy dan Arthur pun sudah pulang ke negara asal mereka dan belum ada yang menggantikan pasangan kompor bleduk itu.
Hari ini hari Sabtu, malam minggu.
Esar dan Millie sama sekali tidak berniat keluar dari apartemen mereka. Niatnya mereka hanya ingin menonton film dari saluran Nek Felix.
Lampu kamar pun dimatikan untuk memberi kesan seperti sedang di bioskop.
Film pilihan mereka atau lebih tepatnya film pilihan Millie dan Esar hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Millie itu pun di putar.
"Hoaaam." Entah sudah berapa kali Esar menguap karena film yang Millie pilih sangat membosankan menurutnya.
Mendengar Esar mengantuk, Millie hanya geleng-geleng kepala. Ia sedang malas mengomel dan ingin menikmati alur cerita dari film yang disuguhkan.
Lama kelamaan mata Esar tertutup dengan sendirinya. Tapi begitu Esar mendengar suara desa•han yang saling sahut menyahut, sontak mata Esar langsung terbuka lebar.
"Woah.." Esar ternganga melihat adegan yang ada di depannya.
"Cih." Decih Millie melihat kelakuan suaminya itu.
"Mill, ulang Mill dari bagian mereka ciuman." Ucap Esar karena Esar tidak melihat bagian yang didepan. Ia ingin mempelajari adegan tiap adegan.
"Gak akh!!! Mesum banget sih!! Pas adegan begitu aja, langsung melek tuh mata!!" Omel Millie.
"Ya wajar lah, namanya juga mau belajar."
"Teori tanpa praktek sama dengan nonsense!!" Balas Millie.
Tapi kata-kata Millie itu disalah artikan Esar.
Esar pikir, Millie sedang memberi kode padanya untuk mempraktekkan adegan yang ada di layar kaca itu.
"Kenapa loe?" Tanya Millie saat melihat tatapan lapar Esar.
"Mill..."
"Apa?"
"Kita praktekin yuk." Ajak Esar.
Millie tidak bodoh, ia tau maksud Esar.
"Gak!! Gak!! Gak!! Gue belum siap." Tolak Millie.
"Aaargh... gak!! Gak!! Gak!!" Teriak Millie dan hendak beranjak dari tempat tidur.
Tapi baru juga Millie menurunkan kakinya, Esar sudah langsung menarik tangan Millie hingga Millie kembali terjerembab di atas ranjang.
Esar tidak mau berbasa-basi lagi dan langsung menindih Millie.
"Jangan Sar, gue belum siap." Mohon Millie.
"Sampai kapan pun kalau nungguin lie siap, gak bakalan siap-siap Mill."
"Aaakh.. Esar, please jangan sekarang!!! Gue lagi masa subur ini!!!" Rengek Millie.
"Oh... jadi loe cuma takut hamil doang?" Tanya Esar.
Millie menganggukkan kepalanya.
"Gue belum mau hamil dan belum siap hamil." Ucap Millie.
"Ya udah, kalau itu mau loe. Kita tunda punya anak dulu, yah setahunan lah, gimana?" Tanya Esar.
"Bener?"
"Iya." Jawab Esar.
"Tapi kalau buatnya yah jangan di tunda, gue udah gak tahan." Ucap Esar.
"Nanti gue buang di luar." Ucap Esar lagi sambil membuka kaosnya.
Mata Millie membulat sempurna, ia pun menelan salivanya kasar.
Perlahan Esar mendekatkan wajahnya ke wajah Millie lalu mendaratkan bibir nya ke bibir Millie.
Esar pun mengunyah lembut bibir Millie. Dan kunyahan lembut yang Esar berikan berhasil membuat Millie terbuai, Millie pun menutup matanya dan melingkarkan kedua lengannya di leher Esar. Kunyahan bibir mereka pun semakin dalam, semakin panas dan semakin menggila.
Entah siapa yang memulai, kini Esar dan Millie sudah sama-sama polos.
Esar menelan salivanya susah payah saat melihat bakpao susu milik Millie dengan chocochips di atasnya yang begitu menantang minta di lahap.
Tapi Esar mencoba sabar, ia menahan hasratnya yang ingin langsung melahap bakpao susu itu.
Esar pun kembali mendaratkan bibir nya ke bibir Millie, mengunyah lagi bibir itu. Tapi sayang, dada polos mereka yang menyatu membuat Esar tak bisa menahan hasratnya untuk tidak melahap bakpao susu milik Millie.
Esar pun melepaskan tautan bibir mereka, lali beralih malahap rakus bakpao milik Millie.
"Ssh... akh.." des•ah Millie sambil membusungkan dadanya karena rasa nikmat yang dihasilkan karena lahapan Esar.
Mendengar des•ahan Millie, Esar pun makin menggila melahap bakpao kembar itu.
Puas dengan melahap bakpao susu yang tak habis-habis itu, Esar pun meminta ijin pada Millie untuk melakukan penyatuan mereka.
"Aku masukkin yah." Ijin Esar.
Millie yang juga sudah tidak tahan dan ingin merasakan lebih dari sekedar kunyah mengunyah bibir dan lahap melahap bakpao pun menganggukkan kepalanya.
Melihat Millie mengangguk, Esar pun mulai mengarahkan kepala Casper menuju bibir goa.
Pelan tapi pasti dengan penyatuan dua kekuatan, kekuatan Casper dan kekuatan Esar, akhirnya Casper pun berhasil mendobrak pintu goa yang masih bersegel itu.
"Aaargh.." Erang keduanya saat Casper terbenam sempurna di dalam goa keramat Millie.
Esar diam sejenak untuk mengumpulkan energi yang sempat habis saat mendobrak pintu goa. Dan setelah tenaganya terkumpul kembali, Esar kembali meminta ijin pada Millie untuk melakukan ritual gempa ranjang.
"Aku mulai yah."
Millie menganggukkan kepalanya.
Melihat Millie mengangguk, Esar pun mulai memaju mundurkan pinggulnya.
"Ssh.. ah... uh... ah.." suara des•ahan pun saling bersahut-sahutan.
Gerakan pinggul yang tadinya pelan dan lembut, makin lama semakin cepat dan kasar.
"Sar, pelan-pelan!!!" Ucap Millie karena tidak tahan dengan gerakan pinggul Esar yang tidak beraturan.
"Bentar sayang, Casper lagi kesurupan." Jawab Esar.
"Gimana ceritanya tuyul bisa kesurupan!!!" Protes Millie.
Tak ingin ocehan Millie membuat Casper sadar dari kesurupannya, Esar pun langsung membungkam mulut Millie dengan mulutnya dan satu tangan Esar pun bermain-main dengan bakpao kembar.
Gerakan makin cepat. Esar melepaskan tautan bibir mereka karena merasakan Casper yang ingin memuntahkan isi perutnya.
"Aaargh..." Dan gerakan cepat Esar itu membuat Millie sampai di puncak kenikmatan terlebih dahulu.
Esar menahan pinggang Millie untuk makin memperdalam dan makin mempercepat gerakan pinggulnya. Dan disaat merasakan isi perut Casper sudah ada di ujung, cepat-cepat Esar mengeluarkan Casper dari dalam goa kramat.
Casper pun memuntahkan isi perutnya diatas perut Millie.
Setelah semua isi perut Casper keluar, Millie pun memberikan tissue pada Esar untuk membersihkan cairan muntahan Casper dari atas perutnya.
Setelah bersih, Esar pun langsung mengambrukkan dirinya di sisi sebelah Millie lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka lalu menarik tangan Millie dan membawa Millie dalam pelukannya.
"Makasih sayang." Ucap Esar.
Cup. Lalu mengecup kening Millie.
"Gak nyangka yah Sar, kita bisa jodoh gini." Ucap Millie.
"Jodoh, rejeki, maut, gak ada yang tau Mill." Balas Esar.
"Makasih yah Mill, udah mau jadi partner gue. Partner in life, partner in crime dan partner in..." Esar menggantung kalimatnya.
Dan itu membuat Millie mendongakkan wajahnya untuk menatap Esar.
"Dan Partner In...?" Tanya Millie mengulang kata-kata Esar yang menggantung.
"Partner In... Bed." Ucap mereka bersamaan.
TAMAT.