Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 21



Keesokan paginya.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi waktu setempat. Tidak seperti pagi sebelum-sebelumnya, pagi ini Esar belum juga datang ke apartemen Millie untuk sarapan atau menunggu Millie bersiap-siap.


Millie yang sudah bersiap-siap menunggu kedatangan Esar di apartemennya dari pukul sembilan, merasa aneh dengan ketidak munculan Esar.


"Tumben tuh anak jam segini belum nongol." Gumam Millie sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Millie pun mengambil ponselnya untuk melakukan panggilan ke nomor Esar. Tapi baru juga ponsel di tangannya, Esar sudah lebih dulu melakukan panggilan ke nomornya.


Millie pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Dimana loe? Kok jam segini belum ke apartemen gue? Loe udah sarapan belum? Si Nancy udah bikinin sarapan buat loe sama Arthur, tapi loe sama Arthur gak nongol-nongol." Suara melengking khas orang ngomel-ngomel pun langsung Millie kumandangkan begitu ia menggeser tombol hijau.


"Bawel loe!!! Gue udah di parkiran, buruan loe kesini!!" Jawab Esar agak sedikit menyenggak.


"Berani banget nih anak nyenggak gue!!" Gerutu Millie dalam hati.


"Loe gak sarapan?" Tanya Millie.


"Gue udah sarapan pake roti isi tadi sama Arthur di apartemen gue. Udah buruan loe turun, dalam lima menit loe gak turun, gue tinggal loe!!" Ancam Esar.


"Iya.. iya bawel gue turun!!" Jawab Millie.


Esar pun mengakhiri panggilannya dengan Millie.


"Cih.. kayak berani aja loe ninggalin gue." Dumel Millie.


Millie pun mengambil tas nya lalu keluar dari unit apartemennya dan berjalan menuju lift yang akan membawanya turun ke lantai bawah.


Ting. Pintu lift pun terbuka. Lift yang membawa Millie sudah sampai di lobi gedung apartemen.


Millie pun keluar dari dalam lift dan berjalan dengan santainya menuju tempat parkir.


Tanpa Millie sadari waktu lima menit yang di berikan Esar sudah habis.


Dan ternyata kali ini Esar tidak main-main dengan kata-katanya, Esar benar-benar meninggalkan Millie.


Saat Millie sudah sampai di depan pintu lobi, Millie melihat mobil Esar melintas begitu saja tanpa membawa dirinya. Jelas saja Millie berlari kalang kabur mengejar mobil Esar.


"ESAAAAAAR... ESAAAAR!!!! TUNGGU..!!!" Teriak Millie sambil berlari mengejar mobil Esar sampai beberapa meter dari lobi. Sayangnya Esar tidak juga menghentikan mobilnya.


Millie pun menyerah mengejar mobil Esar, ia hanya bisa mengumpat sambil menendang dan meninju udara.


"Breng•sek!! Awas loe yah Sar, gue bales loe!!!" Umpat Millie.


Mau tak mau Millie pun meneruskan langkah kakinya berjalan keluar dari area apartemen untuk mencari taksi.


Saat Millie sedang mencari taksi, suara geber'an motor besar terdengar keras sekali dari belakangnya. Millie yang sudah naik pitam karena ulah Esar, sekarang emosinya makin meluap-luap karena mendengar suara geber'an motor itu. Millie pun memutar tubuhnya untuk memaki orang yang telah menggeber motor tepat di belakangnya.


"Hai... pretty girl." Sapa laki-laki yang dengan sengaja dan dengan tingkat kesadaran seratus persen telah menggeber motornya tepat di belakang Millie.


"Kau!!!" Senggak Millie.


"Apa maksud mu memainkan gas motor mu seperti itu, hah!!! Cari mati kau!!!" Bentak Millie lagi.


"Wow.. suatu kehormatan besar untuk ku kalau aku bisa mati di tangan gadis secantik dirimu." Bukannya takut atau merasa bersalah, laki-laki itu malah makin menggoda Millie.


"Dasar sakit jiwa!!" Umpat Millie.


"Hei, apa kau tidak mau berangkat dengan ku? Akan susah mencari taksi di jam seperti ini nona cantik." Tanya laki-laki itu pada Millie.


"Tidak. Terimakasih." Jawab Millie ketus.


"Apa kau tau nona cantik, semakin kau ketus seperti itu, aku semakin menyukai mu." Lagi dan lagi si laki-laki itu menggoda Millie.


"Hei Alphabet, kau pikir aku wanita yang akan termakan oleh rayuan yang di bawah standart itu? Mimpi saja kau sana!!" Balas Millie semakin ketus.


"Wow.. kau ingat nama ku? Ku pikir, kau tidak ingat nama ku. Ternyata di balik sikap mu yang ketus itu, kau itu orang yang sangat perhatian yah." Ledek Alpha.


Millie mengeraskan rahangnya sambil mengumpat dirinya sendiri karena keceplosan menyebut nama si laki-laki itu.


"Shiiit!!! Kenapa gue sebut namanya!!!" Umpat Millie dalam hatinya.


Tapi bukan Millie namanya kalau dia tidak bisa membalas ledekan Alpha.


"Bagaimana aku tidak ingat dengan nama mu kalau nama mu itu seperti sebutan kumpulan huruf!!! A L F A B E T!!!" Jawab Millie dengan mengeja kata Alfabet di akhir kalimatnya.


"Terserah kau, tapi bagi ku, panggilan mu itu seperti panggilan sayang mu untuk ku." Balas Alpha tak mau kalah.


"Nih orang lama-lama ngeselin yah!!!" Gerutu Millie dalam hati karena dari Alpha terus menggombalinya.


Millie menghela nafasnya kasar dan terus berjalan tanpa menghiraukan Alpha sambil matanya mencari taksi.


"Ayo lah nona cantik, lebih baik kau ikut dengan ku. Aku janji akan membawa mu ke kampus, bukan ke catatan sipil." Rayu Alpha lagi.


"Sabar Mill... sabar.. kuat kan iman mu." Lirih Millie pelan.


"Jadi kau benar-benar tidak mau ikut dengan ku? Baik lah kalau begitu. Aku duluan yah nona cantik." Ucap Alpha yang pura-pura menyerah, padahal dia hanya ingin mengetes Millie saja. Alpha pikir dengan dirinya pura-pura menyerah, Millie akan melunakkan hatinya dan mau menerima tawarannya.


Tapi ternyata perkiraan Alpha salah, Millie bukan lah orang yang gampang menyerah dengan pendiriannya. Millie sama sekali tidak menghentikan dirinya saat dirinya mulai menarik gas motornya.


Dan baru saja Alpha menarik gas motornya, ada taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya. Cepat-cepat Millie berlari mendekati taksi itu dan masuk ke dalam taksi itu setelah penumpang yang sebelumnya keluar dari dalam taksi.


"Shiit!!!" Umpat Alpha saat melihat Millie masuk ke dalam taksi dari kaca spion motornya.


"Kau makin menarik Millie. Aku semakin penasaran dengan mu. Kau harus menjadi milikku, harus!!" Gumam Alpha lagi.


💋💋💋


Kini Millie sudah berada di kampus. Dan untungnya masih ada sisa waktu sepuluh menit.


Dengan langkah cepat dan panjang seperti orang yang sedang mau ngambil gaji, Millie berjalan menuju kelasnya, tapi langkah kakinya yang cepat dan panjang itu tiba-tiba saja melambat dan memendek begitu Millie melintasi taman.


"Itu kan...." Millie menggantung kata-katanya saat melihat sosok Esar dari belakang yang sedang duduk di bangku taman dengan seorang gadis.


Dan untuk memperjelas penglihatannya, Millie pun makin mendekati sosok yang dirinya yakin kalau itu Esar.


"Bener-bener tuh anak!!!" Geram Millie saat melihat sosok itu memanglah Esar.


Bagai banteng yang siap menyeruduk kain merah yang di mainkan matador, Millie pun berjalan mendekati Esar yang sedang duduk dengan seorang gadis itu dengan langkah yang sangat cepat.


"ESAAAAAAARRRR!!!!" Teriak Millie.


Bersambung...