Partner In . . .

Partner In . . .
Na Thur 12



Kroook.. Kroook..


Suara perut Nancy membuyarkan suasana.


Blush. Wajah Nancy memerah karena suara cacing yang sedang demo dalam perutnya terdengar sangat keras.


Arthur menggelembungkan pipinya menahan tawa. Bukan tawa karena mendengar suara perut Nancy, melainkan karena melihat wajah Nancy yang memerah.


Arthur pun berdiri dari duduknya lalu menjulurkan tangannya ke depan wajah Nancy.


"Cari makan yuk." Ucap Arthur.


Nancy pun menganggukkan kepalanya sambil menerima uluran tangan Arthur.


Mereka pun keluar dari area bermain menuju restoran cepat saji yang ada di lantai bawah.


Baik Nancy maupun Arthur masih belum menyadari kalau mereka telah melupakan sesuatu.


๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Setengah jam kemudian.


"Eeergh..." Arthur bersendawa.


"Jorok iikh!!!" Omel Nancy.


"Sorry, kelepasan!!!" Balas Arhur.


"Cih." Nancy berdecih sambil memutar bola matanya malas.


"Oh iya, loe datang ke mall emang buat main game doang?" Tanya Arthur.


Nancy menganggukkan kepalanya.


"Loe sendiri?" Nancy malah bertanya balik.


"Gak! Gue kesini sama....." Arthur menggantung kata-katanya. Ia baru sadar kalau dirinya datang ke mall karena bosa menunggu Dewa yang sedang menyelesaikan misi.


Sama dengan Arthur, Nancy pun membulatkan matanya kala ia juga baru teringat dengan Xena, sang sepupu.


Krik.. Krik.. Krik.. Krik. Baik Arthur maupun Nancy dalam mode hening.


Tak sampai sepuluh detik, mereka pun sama-sama mengambil ponsel mereka dan menghubungi para sepupu mereka.


Mata Nancy membulat saat melihat ada panggilan tak terjawab dari Xena sekitar satu jam yang lalu. Itu menandakan Xena sudah pulang dari satu jam yang lalu.


Nancy pun melakukan panggilan ke nomor Nancy.


Baik Xena maupun Dewa tidak menjawab panggilan Nancy dan Arthur.


"Kemana sih dia!!!" Lirih Arthur.


"Jawab dong Xen, jawab!!!" Lirih Nancy.


"Ah udah lah!!! Dewa cowok ini!!! Gak pa-pa lah dia pulang sendiri, gak ada juga yang mau merโ€ขkosa dia!!!" Lirih Arthur yang pasrah.


Namun tidak dengan Nancy. Ia sangat mengkhawatirkan adik sepupunya itu, Nancy terus menghubungi Xena.


"Ada apa sih? Kok muka loe khawatir banget?" Tanya Arthur.


"Sepupu gue. Gue tadi janjian sama dia ketemuan disini kalau urusannya udah selesai. Satu jam yang lalu dia udah nelpon gue, tapi gue gak denger!!" Jawab Nancy.


"Duuh... gimana dong nih Thur?" Tanya Nancy resah.


"Tapi ponselnya aktif kan?" Tanya Arthur.


Nancy menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, loe lacak aja." Kata Arthur memberi saran.


"Iya juga yah. Kok bisa gak kepikiran gitu yah!!" Lirih Nancy.


Nancy pun membuka aplikasi untuk melacak keberadaan Xena dari nomor ponsel Xena.


Sama seperti Nancy, Arthur yang baru kepikiran setelah memberi saran pada Nancy pun ikut melacak keberadaan Dewa.


Nancy menghela nafasnya lega karena ternyata Xena sudah berada di alamat rumahnya.


Tapi tidak dengan Arthur. Arthur mengernyitkan keningnya untuk mengingat-ingat alamat yang Dewa datangi.


"Kerumah siapa nih anak!!!" Gumam Arthur.


"Perasaan rumahnya Sagita bukan di daerah ini deh." Gumam Arthur lagi.


"Ngelayap kemana lagi sih nih orang!!! Apa jangan-jangan dia nganter perempuan itu ke rumahnya?!" Arthur masih bergumam dalam hati.


"Kacau nih kalau sampai dia nganter perempuan itu sampai kerumahnya. Bisa-bisa perempuan itu malah terpesona sama si Dewa!!!" Gumam Arthur.


"Loe kenapa Thur?" Tanya Nancy saat melihat wajah Arthur yang tak enak dipandang.


"Gak pa-pa." Balas Arthur sambil mengembangkan senyum kecut.


Arthur pun memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


"Sepupu loe gimana?" Tanya Arthur.


"Udah di rumah ternyata." Jawab Nancy.


"Ya udah yuk pulang." Ajak Nancy.


Arthur menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun berdiri dari tempat duduk mereka dan meninggalkan restoran cepat saji.


Bersambung...