Partner In . . .

Partner In . . .
Na Thur 39



Indonesia.


Semenjak menikah, Arthur di beri kepercayaan Papa-nya untuk memegang salah satu perusahaan sang Papa yang bergerak di bidang konstruksi. Ya, walaupun proyek yang diambil oleh perusahaan konstruksi Papa Arlan tak sebesar perusahaan keluarga Millie dan Esar.


Sedangkan Nancy bekerja membantu Mama Anya mengurus usaha katering yang di miliki Mama mertuanya itu.


Sekarang sudah jam satu siang, sudah dari pagi tadi Nancy enggan jauh-jauh dari Arthur, bahkan sangking tak mau jauhnya, Nancy sampai izin untuk tidak bekerja dan mengekori Arthur ke kantor.


Mereka pun juga sudah selesai mengisi perut mereka di restoran ayam goreng cepat saji.


"Loe gue anter pulang aja yah. Soalnya gue ada meeting nanti jam dua." Ucap Arthur. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.


"Gak mau! Pokoknya gue mau sama loe terus!" Tolak Nancy sambil memajukan bibirnya.


"Tapi gue mau meeting."


"Ya udah, gue ikut!!"


Arthur menghela nafasnya kasar.


"Ya udah deh terserah loe!" Balas Arthur pasrah.


"Kok nada bicara loe kayak gak suka gitu gue ikut sama loe?!" Nancy kesal karena mendengar Arthur menghela nafasnya kasar.


"Gak kok, suka kok!" Balas Arthur dengan nada yang meninggi tapi bukan marah apalagi membentak. Tapi nada suara Arthur disalah artikan lagi oleh Nancy.


"Tuh kan, marah-marah!!"


"Apaan sih loe Cy! Gak ada yang marah kok!" Balas Arthur.


"Ternyata nikah itu gak enak! Baru berapa bulan nikah aja loe udah bentak-bentak gue! Bosen sama gue! Gimana kalau kita udah setahun nikah, jangan-jangan loe selingkuhin gue lagi!! Mana janji yang loe ucapin di depan pemuka agama waktu itu!!" Rengek Nancy.


"Nih anak kesambet setan apa sih kok tiba-tiba aneh begini!!" Gumam Arthur dalam hati.


"Loe ngomong apaan sih Cy, kok jadi lari kesitu! Ya udah gue minta maaf." Ucap Arthur lalu menarik tubuh Nancy untuk ia peluk.


"Udah yah jangan ngambek lagi yah." Kata Arthur sambil mengelus punggung Nancy.


"Oh.. jadi menurut loe gue nih tukang ngambek gitu!! Kan gue gini gara-gara loe!!"


"Huuuh sabar Thur... sabar.." kata Arthur dalam hati.


"Iya, gue yang salah. Gue minta maaf." Tidak tahu harus bicara apalagi, lebih baik minta maaf dan mengaku salah adalah jalan yang terbaik.


Cup. Arthur mengecup kening Nancy lalu menyalakan mesin mobilnya yang sedari tadi tidak jadi ia nyalakan karena Nancy yang ngomel-ngomel tak jelas.


Kini Arthur sudah berada di kantornya. Perdebatan tidak jelas pun kembali terjadi.


"Thur, gue ngantuk."


"Ya udah tidur. Tuh ada kamar."


"Gak mau! Mau tidur disini sama loe!" Jawab Nancy sambil menepuk sofa yang sekarang ia duduki.


"Gue kerja, Cy!"


"Kan bisa loe pindahin kerjaan loe kesini! Loe gak mau nemenin gue tidur disini?! Loe tega ngebiarin gue tidur sendirian disini.!!"


"Ngebiarin loe sendiri gimana sih? Kan gue disini juga!! Jadi loe gak sendiri!"


"Tapi loe kan disana, gue disini!! Kan jauh jaraknya!"


"Jauh gimana sih!! Orang deket gini kok, paling sepuluh langkah juga nyampe!!"


"Sepuluh langkah loe, dua puluh langkah gue!! Kan jauh!! Pokoknya gue gak mau tau, loe harus temenin gue disini!!"


"Iya... iya... iya!!!" Arthur pun pasrah dan memindahkan laptos serta berkas-berkas yang harus ia periksa ke meja yang ada didekat Nancy.


"Sini duduk." Kata Nancy sambil menepuk sofa setelah Arthur selesai memindahkan pekerjaannya.


Tak ingin berdebat, Arthur pun duduk disofa yang Nancy tepuk. Padahal niatnya Arthur ingin duduk di single sofa.


Setelah Arthur duduk, Nancy pun meletakkan kepalanya di pangkuan Arthur dan wajahnya mengarah pada perut Arthur.


"Gimana gue mau kerja Cy, kalau loe kayak gini!! Gak konsen gue ini!!" Protes Arthur.


"Tapi gue mau-nya kayak gini!!"


"Kalau loe kayak gini, Bang Jago juga pengen kerja Cy!!!" Balas Arthur tapi tidak mendapat respon dari Nancy.


Arthur pun melihat wajah Nancy dan ternyata Nancy sudah tertidur dalam pangkuannya.


"Astaga Nancy!!!!" Arthur menggeram.


Ia memijat pangkal hidungnya tak habis pikir dengan tingkah aneh Nancy seharian ini.


Bersambung...