Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 22



"ESAAAAAAARRRR!!!!" Teriak Millie.


Sontak Esar dan gadis yang sedang duduk di sebelah Esar itu pun menoleh.


Nafas Millie makin memburu begitu melihat gadis yang duduk di sebelah Esar ternyata adalah Jasmine.


"Apaan sih loe Mill teriak-teriak!!! Loe pikir kita ini lagi dimana? Kita ini di London Mill bukan di Indonesia!! Kayak emak-emak Indonesia yang manggil anaknya nyuruh mandi tau gak loe!!" Omel Esar memakai bahasa Indonesia agar Jasmine tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Gak peduli gue!!! Siapa suruh loe ninggalin gue!!! Gue jadi naik taksi kesini tau gak!!" Balas Millie.


"Kok loe jadi nyalahin gue, kan gue udah bilang kalau dalam lima menit loe gak turun, gue tinggal!!" Balas Esar tak mau kalah.


"Sekarang loe udah berani yah ngancem-ngancem gue kayak gitu!! Apa gara-gara perempuan itu makanya sekarang loe kayak gini?" Tanya Millie sambil menatap tajam Jasmine.


Jasmine yang sejak tadi memperhatikan perdebatan Millie dan Esar pun langsung salah tingkah saat melihat tatapan tajam Millie.


Tau wanitanya tidak nyaman dengan tatapan Millie, Esar pun berdiri dari tempat duduknya dan langsung menarik tangan Millie menjauh dari Jasmine.


Setelah menarik Millie beberapa meter dari tempat Jasmine berada, Esar kembali menghampiri Jasmine.


"Aku masuk kelas dulu yah. Nanti kita ngobrol lagi." Pamit Esar.


Esar pun berjalan kembali menghampiri Millie keburu Millie mengamuk dan menyerang Jasmine.


"Ayo." Esar langsung menarik tangan Millie dan berjalan terburu-buru.


"Gry tunggu." Teriak Jasmine sambil berlari mengejar Esar dan Millie yang belum begitu jauh meninggalkan taman.


Esar pun menghentikan langkah kakinya dan memutar tubuhnya.


"Kau melupakan bekal makan siang mu. Ini masakan ku, coba lah. Kalau kau cocok dengan masakan ku, maka aku akan memasakkannya setiap hari untuk mu." Ucap Jasmine sambil memberikan bekal makan siang untuk Esar.


Millie ternganga melihat Jasmine memberikan bekal untuk Esar.


"Terimakasih. Lidah ku pasti akan sangat cocok dengan masakan mu." Jawab Esar.


Jasmine pun melambaikan tangannya kecil pada Esar lalu pergi dari hadapan Esar dan Millie.


"Woah... loe kasih tau perempuan itu kalau loe suka pilih-pilih makanan?" Tanya Millie dengan raut wajah yang masih terkejut.


"Bukan pilih-pilih makanan. Tapi lidah gue yang cocok-cocokkan sama masakannya orang." Ralat Esar.


"Sama aja!! Jadi bener loe cerita sama dia?" Tanya Millie sekali lagi.


Esar menganggukkan kepalanya santai.


"Kenapa salah?"


"Loe baru kenal satu hari sama dia tapi loe udah kasih tau hal sensitif tentang diri loe? Loe stupid?!"


"Gak ada salahnya kan? Dia kan calon pacar gue, jadi sebelum dia jadi pacar gue, gue harus kasih tau sama dia kekurangan gue. Dan untungnya dia bisa masak dan gak keberatan masak buat gue."


"Emang yang ngijinin loe pacaran sama dia siapa? Gue kan belum nyelidikin dia perempuan baik-baik atau gak!!!" Ucap Millie dengan rahangnya mengeras karena emosi mendengar kata-kata Millie.


"Dan ini lagi, loe percaya kalau ini dia yang masak? Kalau dia ngasih racun gimana? Syukur-syukur kalau dia ngasih loe racun, biar langsung mati loe sekalian, lah kalau dia ngasih loe obat perangsang gimana? Kena loe seumur hidup sama dia!!! Mikir Sar, mikir!!!" Teriak Millie.


"Sini, biar gue buang!!" Millie pun hendak menarik tas bekal yang diberikan Jasmine untuk Esar.


Tapi Esar langsung menahan tangan Millie.


"Jangan coba-coba loe buang ini!!" Ucap Esar sambil menghentakkan tangan Millie.


Deg. Mendengar kata-kata Esar yang panjang lebar, hati Millie sakit sekali. Bukan karena cemburu Esar menyukai Jasmine melainkan karena kata-kata Esar yang mengatakan mereka bukan siapa-siapa dan Esar mengatakan kalau selama ini dirinya terlalu mengatur hidup Esar.


"Kalau loe mau ngatur hidup orang, cukup Shine dan Fight aja yang loe atur, jangan gue!!!" Kata Esar lagi.


Setelah mengatakan kata-kata yang sangat menyakitkan hati Millie, Esar pun pergi dari hadapan Millie dan berjalan menuju kelas mereka.


Beberapa detik setelah Esar pergi, Millie yang sempat sesak nafas karena kata-kata Esar, mencoba mengatur nafasnya kembali.


"Oke kalau itu mau loe, gue gak akan ngatur-ngatur hidup loe!! Loe pikir gue gak capek nyari tau tentang cewek-cewek yang deketin loe!! Capek tau gak!!!" Teriak Millie.


Millie pun berjalan berlawanan arah dengan Esar. Millie yang sudah badmood memilih untuk tidak masuk kuliah hari ini, padahal ini adalah hari kedua mereka berkuliah. Millie memilih untuk pulang ke apartemennya. Ingin rasanya ia mencakar-cakar dinding apartemennya untuk meluapkan emosi yang membuncah di dadanya.


💋💋💋


Jam kuliah pun telah usai.


Esar pun langsung pergi kekantor tanpa Millie. Tak ada niat Esar untuk mencari atau sekedar menghubungi Millie, ia juga masih sangat marah dengan Millie.


Setelah beberapa menit berkendara membelah jalanan kota London, kini mobil yang Esar kendarai sudah terparkir mulus di tempat parkir.


Dengan menenteng tas bekal makan siang yang di berikan Jasmine tadi, Esar berjalan menuju lift khusus yang akan membawanya ke lantai dimana ruang kerjanya berada.


Ting. Pintu lift pun terbuka.


Dengan langkah panjangnya Esar keluar dari dalam lift, ia sudah tidak sabar ingin memamerkan pada Arthur bekal makan siang yang berikan Jasmine.


"Esar." Panggil Nancy saat melihat Esar yang datang tanpa Millie.


Esar pun memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Nancy.


"Millie mana?" Tanya Nancy.


"Bukannya dia udah kesini daritadi?" Esar malah balik bertanya. Karena Esar pikir pasti Millie datang ke kantor dan mengadu pada Nancy tentang pertengkaran mereka tadi.


"Daritadi? Maksudnya gimana? Emang loe gak pulang bareng dia?"


"Gak. Kita berantem tadi. Terus dia pergi gak tau kemana, gue pikir dia kesini." Jawab Esar dengan entengnya.


"Terus loe gak ngejar dia?"


"Ya gak lah. Namanya juga lagi berantem." Jawab Esar lagi dengan santainya.


"Udah akh, gue mau keruangan gue dulu. Bye." Kata Esar.


Nancy menghela nafasnya sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Esar. Nancy yakin pertengkaran Millie dan Esar pasti tentang Jasmine.


Nancy pun hendak masuk ke dalam ruang kerjanya lagi.


Tapi baru satu langkah, tiba-tiba ada suara Millie yang memanggil.


"Cy..." panggil Millie.


Nancy pun memutar tubuhnya kembali.


Mata Nancy membelalak saat melihat penampilan Millie yang terlihat lebih seksi dan polesan make yang lebih berani.


Bersambung...