
Mendengar des•ahan Nancy, hasrat kelaki-lakian Bang Jago pun makin meronta-ronta.
Seketika Arthur menjadi orang yang multiskill, karena sambil mulutnya menjelajah gunung Enendayan, tangan Arthur juga ikut bekerja menggeser mangkok dan gelas yang ada di meja makan lalu mengangkat tubuh Nancy keatas meja makan.
"Disini?" Tanya Nancy dengan nafas yang terengah-engah.
"Mmm... gue udah gak tahan." Jawab Arthur sambil membuka penutup bagian bawahnya dan penutup bagian bawah Nancy.
Setelah penutup bagian bawah mereka sudah berhasil Arthur lepaskan, Arthur pun membuka kaki Nancy lebar-lebar lalu memberi sengatan dengan lidahnya di goa Nembem.
"Ssh... ah.." des•ah Nancy saat merasakan lidah Arthur yang meliak-liuk di goa Nembemnya.
"Oh.. uh.. hmmh.. udah Thur, berhenti Thur." Racau Nancy. Bohong, jika dirinya sungguh-sungguh meminta berhenti karena kenyataannya Nancy malah menekan kepala Arthur untuk memperdalam permainan lidah Arthur di dalam goa Nembem.
Sedangkan di bawah sana Bang Jago sudah ngences-ngences tak sabar ingin mengganti posisi lidah Arthur. Seandainya Bang Jago bisa bicara, pasti Bang Jago sudah berteriak "woooi cepetan wooooi!!! Gak sabar gue pengen gumoh!!!"
Ya, begitulah kira-kira protes Bang Jago.
"Ah... Thur gue.. pe-ngen..."
Cepat-cepat Arthur menjauhkan wajahnya dari goa Nembem.
"Loe udah mau keluar?"
Bukannya di jawab oleh Nancy, Nancy malah protes.
"Kok berhenti?!" Protes Nancy karena dirinya sudah hampir di ujung tanduk tapi Arthur malah berhenti mendadak. Nanggung mas bro, nanggung.
"Sabar, masa loe kli•maks pake lidah gue sih!! Bang Jago kan mau ngerasain tembakan lahar dingin loe." Jawab Arthur.
Arthur pun mengarahkan Bang Jago-nya ke goa Nembem lalu memasukkan Bang Jago perlahan ke dalam goa Nembem.
"Ssh... aaakh..." erang keduanya saat Bang Jago berhasil masuk ke dalam goa Nembem.
"Enak kan?" Tanya Arthur sambil memaju-mundurkan pinggulnya pelan.
"E-nak ba-nget." Jawab Nancy dengan mata yang merem melek.
Arthur tersenyum mendengar jawaban Nancy dan ekspresi wajah Nancy. Melihat mata Nancy yang merem melek, Arthur pun sedikit mempercepat gerakan pinggulnya.
Sambil Bang Jago mengobrak-abrik goa Nembem, bibir dan tangan Arthur juga tak mau menganggur. Bibir Arthur juga ikut bekerja mengunyah bibir Nancy sedangkan tangan Arthur bermain dengan gunung Enendayan.
Des•ahan, erangan, racauan, serta suara yang menyerupai tangan yang bertepuk itu pun menjadi sound yang mengiringi mereka ke puncak klimakstation.
Tiga menit kemudian.
"Aaarghh.." erangan panjang keluar dari mulut Nancy kala dirinya sudah sampai lebih dulu ke puncak klimakstation.
Arthur tersenyum senang saat berhasil membuat Nancy ke puncak klimakstation dengan Bang Jago-nya.
"Mmm..." balas Nancy sambil menganggukkan kepalanya.
"Sekarang giliran gue." Balas Arthur.
Arthur pun sedikit mempercepat gerakan pinggulnya.
"Ssh.. Thur, pelan-pelan Thur, ada anak loe di dalem." Ucap Nancy memberi peringatan.
"Astaga!!" Pekik Arthur, hampir saja ia lupa.
Arthur pun menurunkan sedikit kecepatannya tapi memperdalam hentakannya.
Lima menit kemudian.
"Aarrrgh.." erangan panjang pun keluar dari mulut Arthur.
Arthur pun seketika tumbang diatas tubuh Nancy saat cairan kental untuk memupuk janin yang ada dalam kandungan Nancy menyembur di dalam rahim Nancy.
💋💋💋
Keesokan harinya.
Pukul 10.00
Kini Nancy dan Arthur sudah berada di depan ruangan dokter obgyn, mereka ingin memeriksakan kondisi kandungan Nancy.
"Nyonya Nancy Herianson." Panggil perawat dari depan pintu ruang dokter obgyn.
Nancy dan Arthur pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang dokter obgyn.
"Selamat pagi dokter Irna." Sapa Arthur pura-pura tidak kenal dengan dokter Irna.
"Selamat pagi Arthur." Balas dokter Irna.
Dokter Irna? Yups, dia adalah Kakak Irlan alias Tante dari Esar.
"Hai Cy, lama gak ketemu dateng-dateng udah meriksa kandungan aja." Ledek dokter Irna.
"Ya iyalah Tan, masa pas mau main jungkat-jungkit kita datengin Tante. Nanti Tante jadi kepengen lagi." Jawab Arthur.
"Hush.." Nancy memukul pelan lengan Arthur.
"Gak selera yah!! Suami Tante masih perkasa!!" Balas dokter Irna sambil berdiri dari kursi kebesarannya.
"Kita langsung usg aja yuk." Kata dokter Irna lagi lalu berjalan lebih dulu menuju ranjang untuk pemeriksaan usg.
Bersambung...