
"Kenapa, loe cemburu? Loe suka sama gue?" Tanya Millie to the point.
Esar menatap dalam bola mata biru kehijauan itu.
"Iya. Gue suka sama loe Mill. Dan bodohnya gue, gue baru sadar kalau selama ini gue udah suka sama loe. Mungkin karena kita udah terlalu lama jadi sahabat, makanya gue sampe gak peka dengan perasaan gue. Saat pertama ketemu Jasmine, gue sempat ngerasain jatuh cinta, tapi setelah gue dalamin hati gue, ternyata bukan hati gue yang jatuh cinta, tapi mata gue. Karena sebanyak apapun perempuan yang mendekati gue, mereka semua akan terlempar dengan sendirinya karena ada loe di hati gue." Ucap Esar dengan tatapan yang serius.
Millie menelan salivanya kasar mendengar pengakuan Esar. Entah dirinya harus senang atau sedih dengan pengakuan Esar, ia sangat-sangat bingung, karena dia sendiri juga merasakan hal yang sama dengan Esar. Tapi ia takut hal yang ia rasakan hanya lah rasa nyaman seperti yang ia rasakan pada Alpha.
Melihat Millie diam, Esar merasa Millie akan menolaknya dan tetap memilih Alpha. Esar si manusia pasrah, pun menghela nafas kepasrahannya.
"Ya udah kalau emang loe lebih milih Alpha. Gue terima kok, asal kita tetap bisa berhubungan baik gak seperti yang belakangan terjadi." Ucap Esar.
Esar pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lon coatnya, lalu membuka long coatnya dan memasangkan long coatnya pada Millie.
Millie tak berkomentar apa-apa, ia hanya terus memperhatikan Esar sambil memikirkan apa yang sebenarnya hatinya ingin kan.
Esar menghubungi seseorang dari ponselnya.
Ternyata Esar menghubungi Arthur dan meminta Arthur menjemput Esar dan Millie di tempat mereka saat ini.
"Thur, jemput gue." Ucap Esar begitu Arthur menjawab panggilannya.
"Emangnya loe dimana? Terus mobil loe mana?"
"Mobil gue tinggal di parkiran apartemen. Sekarang gue lagi sama Millie, kita kejebak hujan dan lagi neduh di halte. Loe lacak aja posisi gue dari ponsel loe."
"Oke."
Panggilan pun berakhir.
"Sar..."
"Hemh..."
"Sepasrah itu loe?"
"Hah? Maksudnya?
"Katanya loe suka sama gue, tapi kok loe gak berusaha memperjuangkan supaya gue jadi milik loe?" Protes Millie. Millie kan juga pengen ngerasain di perjuangin Esar.
"Kalau gue perjuangin nanti di kira gue maksa loe lagi. Gue kan gak mau loe nerima gue karena terpaksa." Jawab Esar.
"Aargh!!! Nyebelin!!" Geram Millie dalam hati.
"Ya udah lah, gak usah berjuang!!!" Bentak Millie kesal. Millie pun melepaskan long coat Esar dari tubuhnya dan hendak berdiri dan pindah tempat duduk.
Namun saat Millie baru saja berdiri, Esar langsung menarik tangan Millie sampai Millie terduduk di pangkuan Esar.
Dan tanpa Millie sangka-sangka Esar langsung mendaratkan bibirnya dengan bibir Millie sejenak.
Millie kaget, ia hanya membelalakkan matanya saat Esar mendaratkan bibir nya di bibir Millie dan mengunyah pelan bibir seksi itu dengan lembut. Ingin berontak tidak bisa, seolah jiwa Millie juga menikmati kunyahan yang Esar berikan, tapi ingin menikmati juga tidak bisa, karena aksi Esar sangat mendadak sampai membuat jantungnya hampir meledak.
"Apa begini juga masuk dalam kategori berjuang?" Tanya Esar setelah berhenti mengunyah lembut bibir Millie.
"Sar..."
"Sst.." Esar langsung menaruh jari telunjuknya di bibir Millie.
"Loe cukup jawab iya atau tidak. Oke." Kata Esar.
Millie tak bisa berkata-kata lagi. Meski ucapan Esar jauh dari kata romantis, tapi ucapan Esar sanggup mengobrak-abrik hati Millie.
Hati Millie luluh seketika. Ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Esar, tanda kalau ia menerima Esar menjadi kekasihnya.
"Serius Mill? Serius kamu mau jadi kekasih aku?" Tanya Esar terkaget-kaget.
Millie menganggukkan kepalanya sekali lagi untuk meyakinkan Esar.
"Aaaaaakkkh..." teriak Esar kegirangan. Ia langsung memeluk Millie dengan erat.
"Makasih Mill. Makasih." Ucap Esar.
"Terus Alpha gimana?" Tanya Esar sambil melepaskan pelukannya.
"Gue gak nerima dia kok, tapi kita akan terus berteman. Tapi gak melepas kemungkinan juga sih kalau suatu saat gue suka sama dia, apalagi kalau loe be•go terus, gak peka-peka!!" Jawab Millie sambil memanas-manasi Esar dan menyindir Esar.
"Cih..." decih Esar sambil memutar bola matanya malas.
"Kalau loe sendiri gimana? Bukannya loe sama Jas Ujan..."
"Sst.. gak usah ngomongin dia. Gue udah gak punya hubungan apa-apa sama dia." Ucap Esar sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Millie.
"Kalau inget dia lagi cosplay jadi cicak kawin sama si tua bangka itu, rasa-rasanya pengen gue lem mereka berdua biar dempet terus!!" Ucap Esar lagi geram.
"Woaaah... loe pernah liat dia kayak begitu?" Tanya Millie tercengang dengan pengakuan Esar.
Esar menganggukkan kepalanya.
"Terus perasaan loe gimana saat itu?"
"Yang pasti gue marah. Tapi bukan sama mereka karena udah nipu gue. Tapi gue marah sama diri gue sendiri karena kebodohan gue. Kalau untuk perasaan, gue sama sekali gak ngerasain apa-apa pas ngeliat itu, karena waktu gue ngeliat adegan itu, yang ada di pikiran gue cuma loe." Jawab Esar.
"Makanya jangan be•go dan percaya sama feeling gue!!" Balas Millie.
"Iya. Mulai sekarang gue pasrah deh loe atur-atur gimana." Jawab Esar.
"Mill..."
"Hemh..."
"I love you." Kata Esar.
Millie hanya tersenyum mendengar kata cinta dari Esar.
Esar mendekatkan wajahnya dengan wajah Millie, agar bisa mendaratkan bibirnya dengan bibir Millie.
Bibir Esar pun mendarat dengan sempurna di bibir Millie. Saat bibir Esar mendarat sempurna di bibirnya, Millie pun menutup matanya. Perlahan Esar mengunyah bibir Millie dengan sangat lembut dan Millie pun membalas kunyahan bibir Esar dengan lembut juga. Ini adalah ciuman pertama untuk Esar dan juga Millie, meski ini ciuman pertama untuk Millie dan Esar, tapi dengan arahan naluri cinta kunyahan bibir yang tadinya lembut dan malu-malu makin lama semakin buas dan mengganas.
Tanpa Millie dan Esar sadari ada tiga kubu yang saat ini sedang memperhatikan mereka.
Kubu yang pertama adalah orang suruhan Aki Edwin yang selalu setia menjadi bodyguard bayangan Millie dan siap memberi laporan pada Aki Edwin selama dua puluh empat jam.
Kubu kedua adalah orang suruhan dari keluarga Esar. Sama dengan kubu pertama, kubu kedua ini juga bertugas untuk menjaga dan memberi laporan pada Mama Nia dan Papa Irlan tentang aktivitas Esar, apalagi semenjak kejadian Jasmine dan Tuan Charles, Mama Nia dan Papa Irlan jadi semakin memperketat penjagaan untuk Esar.
Sedangkan kubu ketiga, adalah kubu pengacau. Kubu ketiga ini tidak bekerja untuk siapa-siapa, tapi peran mereka untuk hubungan Esar dan Millie sangat lah penting. Karena selain kubu pengacau, kubu ketiga ini juga bisa di sebut kubu Tukang Kompor.
Bersambung...