Partner In . . .

Partner In . . .
Na Thur 29



"Loe kenapa? Kok raut muka loe kayak habis kalah taruhan bola." Tanya Nancy.


"Siaβ€’lan loe!! Gue cuma lagi mikir aja, ini semua nyata apa gak. Takutnya besok pas gue bangun, eh.. gak tau-nya pernikahan kita cuma mimpi." Jawab Arthur berbohong.


Mendengar jawaban Arthur, Nancy pun mencubit pipi Arthur.


"Aauw.. sakit Cy!! Loe mah, belum juga sehari jadi bini gue, udah kdrt aja loe." Protes Arthur sambil mengusap pipinya.


"Kan tadi loe bilang ini nyata atau mimpi, ya udah gue cubit aja. Sakit kan? Berarti loe gak mimpi dan pernikahan kita itu nyata." Jawab Nancy.


"Ya gak gitu harusnya!!" Balas Arthur.


"Terus gimana dong harusnya?"


"Harusnya tuh gini." Arthur langsung menarik pinggang Nancy agar tubuh mereka tak berjarak lagi. Lalu menahan tengkuk Nancy dan..


CUP. Arthur pun mendaratkan bibirnya di bibir Nancy dan mengunyah bibir itu dengan lembut. Nancy pun tidak hanya tinggal diam, ia juga membalas kunyahan bibir Arthur. Mereka pun saling kunyah mengunyah, belit membelit dan gigit menggigit bibir dan lidah pasangan mereka.


Pertempuran bibir pun semakin sengit dan memanas. Perlahan tapi pasti Arthur menggiring Nancy menuju ranjang dan dalam keadaan bibir yang masih saling bertautan, Arthur membaringkan Nancy diatas ranjang lalu menindih Nancy.


Kriiiuuuk.. Tiba-tiba saja suara perut Nancy memecah suasana yang sedang panas-panasnya.


Sontak Arthur melepaskan tautan bibir mereka lalu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Nancy, sedangkan Nancy, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. Malu karena perutnya berbunyi disaat yang tidak tepat dan malu karena sudah membalas kunyahan bibir Arthur dengan sangat ganas layaknya seorang ahli.


"Loe laper?" Tanya Arthur.


Nancy menganggukkan kepalanya.


"Tadi kan gak sempet makan." Jawab Nancy masih dengan menutup wajahnya.


"Ya udah, kita cari makan dulu deh. Sekalian beli baju ganti, kita kan gak bawa apa-apa kesini." Ucap Arthur.


Nancy menganggukkan kepalanya.


"Sana keluar duluan!" Perintah Nancy.


"Dih.. loe malu?" Goda Arhur saat menyadari bahasa tubuh Nancy.


"Gak usah ngejek deh!! Sana keluar duluan!!" Perintah Nancy lagi.


"Udah gak usah malu, masa sama suami sendiri malu sih!!" Ucap Arthur sambil menarik tangan Nancy agar tidak lagi menutupi wajahnya.


"Mulai sekarang loe harus biasain diri loe untuk hal-hal kayak gini Cy." Ucap Arthur sambil berusaha menarik tangan Nancy yang tak mau Nancy lepaskan dari wajahnya.


"Udah ayo akh, nanti keburu tutup toko pakaiannya!!" Balas Arthur sambil menarik kuat tangan Nancy hingga tangan itu tak lagi menutup wajah Nancy yang sudah sangat merah.


"Loe mau gue gendong atau jalan sendiri?" Tanya Arthur.


"Jalan sendiri lah." Balas Nancy.


Nancy pun mengubah posisinya menjadi duduk lalu beranjak dari atas ranjang.


Dan mereka pun keluar dari dalam kamar untuk mencari makan terlebih dahulu lalu singgah ke toko pakaian untuk membeli pakaian.


πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


Beralih ke Dewa dan Xena.


Kini mereka sudah sampai di kota Bali.


Seperti anak kecil yang baru di belikan mainan pop-it berbentuk unicorn, wajah Xena berbinar-binar kesenangan begitu melihat langit Bali dan menghirup udara di kota Bali.


Ini pertama kalinya Xena ke Bali, maklum saja, orangtua Xena melarang Xena pergi jauh-jauh tanpa pengawasan mereka. Paling jauh perjalanan Xena adalah kerumah orangtua Nancy.


"Udik banget sih loe!!" Protes Dewa.


"Biarin aja!! Namanya juga ini pertama kalinya aku nginjak Bali." Balas Xena.


"Cih... datang dari jaman Flinstone loe!!" Balas Dewa.


"Selamat sore, dengan Gus Dewa dan Gek Xena?" Tanya seorang pria yang lebih tua dari Dewa dan Xena.


(Bagi pembaca yang orang Bali, tolong diralat yah kalau othor salah. Soalnya dulu waktu othor ke Bali di panggil Gek, katanya kalau orang yang lebih tua manggil yang lebih muda untuk laki-laki Gus, untuk perempuan Gek. πŸ™πŸ™)


"Iya Bli." Balas Dewa.


"Kenalkan saya Nyoman, yang ditugaskan untuk menjemput Gus dan Gek." Ucap Bli Nyoman memperkenalkan dirinya dengan logat khas Bali.


"Oh.." Dewa dan Xena kompak membulatkan mulut mereka.


"Mari Gus, Gek, silahkan naik ke mobil, biar saya antar ke hotel." Ucap Bli Nyoman sambil menunjuk mobil yang ada beberapa meter dari tempat mereka berdiri.


Bersambung...