Partner In . . .

Partner In . . .
Na Thur 37



"Ka-kak Ar-Thur..." pekik Xena saat melihat suami kakak iparnya lah yang ternyata membuka pintu.


Sama dengan Xena, Arthur pun membulatkan matanya dengan mulut yang juga menganga melihat penampakan tubuh Xena.


"Aaakkkh...." teriak Xena. Karena merasa malu, Xena pun langsung kabur.


"Xena!!!" Teriak Dewa yang sejak tadi ada tak jauh dari Xena saat melihat istrinya kabur.


Dewa pun berlari mengejar Xena.


Tapi saat Dewa sampai didepan kamar Arthur, Arthur langsung menahan Arthur sejenak.


"Tenang aja gue gak tertarik kok sama apel-nya si Xena, gunung Enendayan Nancy lebih besar dari punya Xena." Kata Arthur.


"Diem loe!!" Balas Dewa sambil menepis tangan Arthur yang menahan langkahnya. Dewa pun kembali mengejar Xena.


πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


Setelah Dewa pergi, Arthur menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar tidurnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Xena.


Sesampainya di kamar tidur, mata Arthur kembali membulat sambil menelan salivanya kasar karena sekarang salah satu puncak gunung Enendayan keluar dari dalam selimut seperti sedang mengintip.


Arthur pun berjalan mendekati ranjang lalu naik ke atas ranjang dengan sangat perlahan agar Nancy tidak terbangun.


"Nakal loe yah, ngintip-ngintip!" Kata Arthur sambil memilin pelan puncak gunung Enendayan.


"Eugh..." Nancy melenguh dengan mata yang masih tertutup.


Mendengar Nancy melenguh, bukannya berhenti, Arthur malah semakin senang memilin puncak gunung itu.


"Mmmh..." Nancy melenguh lagi, sepertinya sentuhan Arthur sampai ke alam mimpi Nancy hingga membuat suara lenguhan Nancy terdengar seperti orang yang sedang mendesβ€’ah.


Dan suara lenguhan Nancy itu seperti suara panggilan dari goa Nembem pada Bang Jago.


Bang Jago pun bangun dari bobok gantengnya.


Arthur bukan lagi hanya memilin puncak gunung Enendayan, tapi sudah menikmati gunung berlahar susu itu dengan mulutnya. Ia menyedot, memilin bahkan memberi jejak kepemilikannya disana dengan sangat lembut.


Dan aksi itu membuat Nancy pun tersadar dari mimpinya, ia sadar apa yang ia rasakan saat ini bukan hanya sekedar mimpi.


Perlahan Nancy mengerjapkan matanya.


Melihat ada orang yang sedang menikmati gunung berlahar susu miliknya mata Nancy langsung membulat.


"Aaargh... apaan sih loe Cy, sakit!!!" Balas Arthur tak kalah berteriak.


"Arthur!" Lirih Nancy sambil menarik selimut yang tadi membuka bagian dada.


"Iya ini gue, suami loe!! Loe pikir siapa?"


"Ya maaf, gue kan lupa kalau gue udah nikah!!" Balas Nancy.


"Lagian salah loe sendiri, siapa suruh enen pas gue lagi tidur!" Kata Nancy lagi.


"Lah.. orang gunung Enendayan loe duluan yang manggil-manggil buat di jelajahin!" Balas Arthur.


"Mana ada!!"


"Ada!! Tanya aja sendiri!" Balas Arthur tak mau kalah.


"Cih!! Udah akh sana, jangan ganggu gue!! Gue masih ngantuk." Ucap Nancy.


"Eits.. jangan tidur dulu. Tanggung jawab dulu!!!" Larang Arthur sambil menarik tangan Nancy.


"Tanggung jawab apa sih Thur?"


Arthur menarik tangan Nancy lalu mengarahkannya untuk menyentuh Bang Jago.


"Ini Bang Jago udah bangun, mau healing ke goa Nembem."


"Ish.. kan tadi malem udah tiga kali Thur!! Pinggang aku encok, nanti aku jalan kayak pinguin bunting lagi!"


"Sekali lagi, please. Gw janji pelan-pelan, habis itu kita lanjut tidur. Nanti sore kita baru keluar jalan, loe boleh deh belanja sepuas loe, jajan sesuka loe nanti. Yah, sekali lagi yah." Mohon Arthur dengan wajah memelas.


Melihat wajah memelas suaminya Nancy jadi tidak tega.


"Ya udah deh, tapi sekali aja yah!! Gue ngantuk beneran ini!"


Dengan penuh semangat Arthur menganggukkan kepalanya.


Dan pagi itu jadi lah Bang Jago healing di goa Nembem.


Bersambung...


πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹ Berhubung ini cerita tentang Nancy-Arthur jadi untuk cerita DeXen akan aku buat terpisah yah. Tapi nanti, setelah cerita ini selesai dan aku juga selesai dengan tugas negara. πŸ™πŸ™ πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹