Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 47



"Kenapa duduk loe kayak anak perawan?" Tanya Arthur melihat gaya duduk Esar yang di lipat dengan bantal di pangkuannya.


"Apa? Biasa aja!!" Jawab Esar ketus.


"Nancy mana?" Tanya Millie karena tidak melihat sahabatnya bersama Arthur.


"Udah balik ke apartemen kalian. Dia pikir loe udah pulang ke apartemen." Jawab Arthur.


"Ya udah, gue balik." Ucap Millie. Millie pun mengangkat bokongnya dari atas sofa dan keluar dari unit apartemen Esar.


Setelah Millie pergi, Arthur memicingkan matanya menatap Esar.


"Kenapa loe?" Tanya Esar dengan kaki yang ia goyang-goyangkan.


Arthur tak menjawab, ia memilih untuk mendaratkan bokongnya terlebih dulu di sofa. Lalu dengan kecepatan tangan, Arthur langsung menarik bantal yang ada di atas paha Esar.


"Woah...." Arthur ternganga melihat celana bagian tengah Esar yang mancung.


"Apaan sih loe!!" Esar menarik kembali bantal sofa dari tangan Arthur.


"Bisa gentayangan juga si Casper." Goda Arthur.


"Jangankan gentayangan. Memproduksi Casper junior juga bisa tau gak loe!!" Balas Esar.


"Mending langsung loe nikahin aja deh tuh si Nyai. Dari pada si Casper kedinginan dalam jeruji kain."


"Iya juga yah. Daripada nanti si Millie sadar dari khilafnya, mending cepet-cepet gue nikahin aja yah." Lirih Esar pelan setuju dengan pendapat Arthur.


"Tapi emangnya loe berani ngadepin keluarganya si Nyai?"


"Wah.... nyepelein gue loe!! Ya berani lah. Emang apa kurangnya gue coba. Ganteng iya, kaya iya, setia iya." Jawab Esar jumawa.


"Tapi kurang pinter kalau udah urusan cewek. Apalagi loe pernah bentak si Nyai, yakin gue, gak akan segampang yang loe bayangin dapet restu dari Aki nya si Nyai." Balas Arthur.


"Iya juga yah.." gumam Esar dalam hati.


Sedangkan di kapal pesiar, Aki Edwin sama sekali belum mendengar kabar tentang Millie. Bagaimana mau tau tentang perkembangan Millie, kalau ponselnya saja di sita oleh sang istri tercinta Nini Madam.


Jadi bisa di pastikan hanya Nini Madam yang tau tentang Millie dari hasil laporan para bodyguard bayangan.


"Woah... bocah bau kencur itu besar juga nyalinya nyium-nyium si bule tengil." Gumam Nini Madam.


"Kamu lihat apa sayang?" Tanya Aki Edwin yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar yang ada di kapal pesiar.


"Bukan apa-apa." Jawab Nini Madam sambil cepat-cepat menyimpan ponsel suaminya itu. Karena kalau sampai Aki nya si bule tengil tau cucu kesayangannya di cium pria yang bukan suaminya, sudah di pastikan Aki Edwin akan mencak-mencak.


Melihat gelagat aneh istrinya, Aki Edwin pun merasa curiga.


"Apa yang sedang kamu sembunyikan?" Tanya Aki Edwin curiga.


"Tidak ada." Jawab Nini Madam.


"Kau tidak bisa berbohong sayang. Berikan ponsel ku." Ucap Aki Edwin sambil menengadahkan tangannya di hadapan Nini Madam.


Nini Madam pun pasrah, pasrah liburannya yang belum sebulan harus berakhir karena berita tentang Millie. Ia pun memberikan ponsel itu ke tangan suaminya.


Setelah ponsel di tangannya, Aki Edwin pun langsung membuka laporan yang di berikan orang suruhannya.


"Apa-apaan ini!!!" Teriak Aki Edwin emosi saat melihat foto Millie dan Esar yang sedang berciuman mesra.


Mendengar teriakan Aki Edwin, Nini Madam langsung menutup telinganya.


Aki Edwin pun langsung keluar dari dalam kamar.


"Mau kemana Ed?" Tanya Nini Madam. Ia pun menyusul sang suami dari belakang.


Ternyata Aki Edwin pergi ke ruang kendali.


"Pak, cari pelabuhan yang terdekat, kita harus berlabuh secepatnya." Perintah Aki Edwin pada sang nakhoda.


Nini Madam menghela nafasnya pasrah. Benar-benar apa yang ia takutkan terjadi. Sang suami langsung mengakhiri acara liburan mereka karena melihat laporan orang suruhannya tentang Millie.


Sama dengan Aki Edwin, mendengar Millie dan Esar menjalin hubungan, Yordan pun kalang kabut. Ia langsung mendatangi Irlan ke kantor Dirgantara Group.


Ceklek. Yordan membuka pintu ruang kerja Irlan dengan kasar.


Mata Irlan yang sedang menatap layar laptop langsung beralih ke pintu.


"Kenapa loe, sangkar si Jeki kebakaran?" Tanya Irlan.


"Tentang?"


"Tentang Millie dan Esar."


"Oh... yang mereka pacaran atau yang Esar di disekap." Irlan malah bertanya balik pada Yordan dengan santainya.


Yordan yang tadinya mau protes, jadi mengernyitkan keningnya begitu melihat respon Irlan yang santai.


"Kok loe santai banget anak loe di sekap?"


"Ya kan udah keluar."


"Loe gak ngerasain tegang gitu waktu loe tau si Esar di sekap?"


Irlan menggelengkan kepalanya.


"Cukup di kamar aja gue tegangnya." Jawab Irlan.


"Cih.." decih Yordan.


"Gue tau kabar Esar di sekap setelah Esar udah berhasil keluar. Makanya gue nyantai aja. Nia juga gak panik, karena udah tau kalau Esar udah selamat." Ucap Irlan.


"Ooo." Yordan membulatkan mulutnya.


Tapi...


"Eh..tunggu, gue kesini kan mau protes gara-gara si Esar macarin si Millie." Gumam Yordan.


"Terus soal Esar yang macarin Millie gimana? Pake nyium-nyium segala lagi!!!" Baru lah Yordan melanjutkan protesnya.


"Ya biarin aja lah, kayak gak pernah muda aja. Lagian trade record Esar kan gak kayak loe."


"Dih... kayak gue!! Kayak KITA!!!" Protes Yordan.


"Brisik loe!!! Loe gak liat apa gue lagi kerja!!!" Omel Irlan.


"Makanya gue serius ini ngomong!! Nasib anak-anak kita gimana?"


"Ya mau gimana? Mau di larang gak mungkin, kalau mereka sampe pacaran, berarti mereka saling suka, lagian kalau kita larang mereka, loe siap kena bom nuklir sama bini-bini kita?"


"Nia sama Ica udah tau?"


Irlan menganggukkan kepalanya.


"Malah Nia duluan yang tau." Jawab Irlan.


"Terus Nia setuju?"


"Banget."


"Kalau Nia setuju, pasti Ica juga setuju lah." Lirih Yordan.


"Kira-kira Aki nya si Millie udah tau belum yah?" Lirih Yordan lagi pelan tapi masih bisa di dengar Irlan.


"Bukannya Daddy Edwin sama Mommy Sarah lagi berlayar? Gue rasa mereka belum tau." Jawab Irlan.


"Semoga aja. Apalagi si bule bar-bar kan nyita ponsel Aki nya si Millie. Tapi kalau sampai Aki nya si Millie tau, siap-siap aja tuh si Esar kena ospek, kalau udah kayak gitu, gue angkat tangan." Balas Yordan.


"Paling juga nanti Nia dan Ica yang maju. Udah lah tenang aja, selagi istri-istri kita ngerestuin hubungan Millie dan Esar, Daddy Edwin mah gak bisa berkutik." Balas Irlan lagi.


"Iya juga sih." Gumam Yordan dalam hati.


💋💋💋


Di saat para orang tua sedang ribut karena hubungan Esar dan Millie.


Di London, Millie dan Esar malah terus berduaan. Lebih tepatnya Esar lah yang terus menempel pada Millie seperti debu di kulit yang berkeringat, lengket dan gatal.


Esar takut jika dia tidak menempeli Millie, nanti Millie akan sadar dari khilafnya lalu mengakhiri hubungan mereka yang baru sehari itu.


"Iiikh.... minggir gak!! Gue mau kerja!!" Teriak Millie kesal. Kini mereka sudah ada di kantor dan ada di ruang kerja Millie.


Bagaimana tidak kesal kalau Esar terus menempelinya, bahkan sampai Millie duduk di kursi kebesarannya pun Esar ikut-ikutan mengambil kursi dan menaruhnya di samping kursi kebesaran Millie.


Ceklek. Tiba-tiba saja pintu ruang kerja Millie terbuka.


Bersambung...