
Setelah kurang lebih tujuh belas jam berada di udara, akhirnya Nancy dan Arthur tiba di bandara di negaranya.
"Duuh Thur, gue jetlag parah nih. Melayang banget nih." Ucap Nancy.
Kini mereka sedang berada di bagasi bandara untuk mengambil barang mereka.
"Loe duduk aja disitu, biar gue ambil barang loe." Balas Arthur yang tak tega dengan keadaan Nancy.
Nancy pun duduk di kursi panjang yang ada di bagian bagasi bandara.
Tak lama Arthur pun datang dengan dua troli.
"Banyak banget sih barang loe!! Loe abis pulang dari luar negri apa abis pulang kampung?!" Dumel Arthur karena barang Nancy yang sangat banyak.
"Perasaan waktu loe datang ke London loe cuma bawa satu koper doang. Lah ini tiga koper, belum lagi ini printilan-printilannya." Lanjut Arthur masih ngedumel.
"Aduuuuh brisik!! Bawel banget sih loe!! Udah tau gue lagi jetlag, malah ngoceh terus loe disitu!!" Balas Nancy tak kalah mengomel dari Arthur.
"Itu tuh oleh-oleh untuk keluarga gue. Mumpung Millie yang bayarin, yah gue beli aja oleh-oleh yang banyak buat keluarga gue." Ucap Nancy lagi.
"Ini semua Millie yang bayarin?" Tanya Arthur tak percaya.
"Kok si Esar gak bayarin gue yah beli oleh-oleh buat keluarga gue?" Lirih Arthur pelan tapi masih bisa di dengar Nancy.
"Liat aja nanti kalau gue nikah, gue minta hadiah rumah yang harga 10 M." Lirih Arthur lagi.
Mendengar ucapan Arthur, tiba-tiba saja hati Nancy menjadi panas.
Nancy berdiri dari tempat duduknya lalu mengambil troli yang berisi barang-barangnya dengan kasar.
"Udah ayo keluar dari sini." Ucap Nancy ketus lalu berjalan sambil mendorong trolinya.
"Kenapa dia?" Arthur bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Tadi katanya jetlag, lah kok tiba-tiba seger gitu. Apa ada orang spesial yang udah nungguin dia di luar?" Gumam Arthur lagi.
Arthur pun mengikuti Nancy dari belakang.
"Loe udah ada yang jemput?" Tanya Arthur penasaran.
Nancy menganggukkan kepalanya dengan wajah jutek.
"Siapa?" Jantung Arthur makin berdegup kencang. Takut jawaban Nancy sama seperti apa yang sedang ia pikirkan.
Deg. Nyes. Nyas. Nyos. Duaaar. Kira-kira begitulah bunyi jantung Arthur saat ini mendengar jawaban Nancy.
Sepanjang perjalanan dari bagasi bandara ke tempat penjemputan, Arthur pun menjadi diam. Sama seperti Arthur, Nancy yang masih kesal karena kata-kata Arthur tadi pun juga diam. Mereka berdua sama-sama diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Aci...." panggil seorang laki-laki sekitaran umur setengah abad memanggil Nancy dengan panggilan sayang.
"Ayah..." Balas Nancy kesenangan. Nancy pun berlari menghampiri sang Ayah.
Mendengar Nancy memanggil laki-laki itu dengan panggilan Ayah, Arthur menghela nafasnya lega.
"Bokapnya ternyata. Gue kira pacarnya..." gumam Arthur dalam hati.
Arthur pun ikut mendekati Ayah Nancy.
"Selamat siang Om. Kenalin Arthur, teman Nancy." Dengan penuh percaya dirinya Arthur memperkenalkan dirinya pada Ayah Nancy.
Ayah Nancy menyambut uluran tangan Arthur. Mereka pun berjabat tangan.
"Ayahnya Nancy." Balas Ayah Nancy.
"Papa mana Yah?" Tanya Nancy pada sang Ayah.
Sontak pertanyaan Nancy membuat Arthur menoleh ke arah Nancy dengan kening yang berkerut.
"Papa? Terus yang didepan ini siapa?" Gumam Arthur dalam hati.
"Papa kamu sibuk, jadi dia gak bisa jemput. Katanya anaknya juga mau datang dari luar negri." Jawab Ayah Nancy.
Arthur kembali menghela nafasnya setelah mendengar jawaban Ayah Nancy.
"Oh... gue kirain." Gumam Arthur lagi dalam hati.
"Ya udah yuk Yah, kita pulang. Acy kangen sama Bunda dan adek-adek." Ucap Nancy.
"Gue balik duluan yah, salam buat calon istri loe." Pamit Nancy dengan wajah ketusnya pada Arthur lalu menarik tangan sang ayah untuk pergi dari hadapan Arthur menuju mobil sang Ayah yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Arthur ternganga mendengar kata-kata terakhir Nancy.
"Calon istri? Siapa? Cewek yang di jodohin sama gue? Gue aja gak kenal. Lagian kapan gue bilang mau nerima perjodohan gue?" Gumam Arthur dalam hati.
Bersambung...