
Setelah meninggalkan Millie dan Alpha, Esar pun pulang ke apartemennya. Tapi begitu sampai di lobi, kakinya terasa berat melangkah menuju lift untuk naik ke unitnya.
Apalagi alasan yang membuat kakinya berat melangkah kalau bukan galau memikirkan Millie.
"Gue gak bisa gini, gue harus bilang ke Millie." Kata Esar pelan. Dan Esar pun memilih menunggu Millie di pintu lobi.
Dua puluh menit sudah Esar mondar-mandir di depan lobi, akhirnya orang yang membuatnya gusar pun muncul juga.
Melihat Esar ada di depan pintu lobi dari kejauhan, Millie langsung memasang wajah juteknya.
"Cih... ngapain dia disitu?" Decih Millie.
Millie terus berjalan, dan saat melewati Esar, ia pura-pura tidak melihatnya.
"Mill, gue mau ngomong." Esar menarik tangan Millie yang sudah beberapa langkah melewatinya.
"Lepas. Kalau mau ngomongin kerjaan, di kantor aja!! Selain dari urusan kerjaan, gue gak punya waktu ngomong sama loe!!" Jawab Millie sambil menyentakkan tangan Esar dari tangannya lalu pergi meninggalkan Esar.
Esar yang sudah habis kesabaran dan tidak bisa lagi memendam perasaannya pun langsung menarik tangan Millie dan membawa Millie keluar dari lobi menuju tempat parkir.
"Lepas!!! Loe apa-apaan sih, lepas gak!! Gue teriak nih!!" Teriak Millie.
"Loe kan udah teriak, terus loe mau teriak gimana lagi Nyai!!!" Balas Esar.
"Iish!!!" Geram Millie.
Sangking geramnya Millie pun menendang kaki Esar.
"Aaakh.." ringis Esar kesakitan lalu melepaskan tangannya dari tangan Millie.
Dan kesempatan itu Millie gunakan untuk kabur.
Melihat Millie sudah kabur, Esar pun mengejar Millie yang sudah sampai di lobi.
Hap. Millie pun tertangkap oleh Esar.
"Aaargh... lepas!!! Gue tonjok loe yah!!!" Ancam Millie sambil terus meronta.
Karena Millie terus berteriak dan meronta, sekarang mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang lalu lalang di lobi.
Esar yang sudah hilang akal karena malu, langsung memeluk Millie dan mencium bibir Millie.
Mata Millie membulat begitu bibir Esar menempel di bibirnya.
Millie pun mendorong tubuh Esar.
"Kau!!" Tangan Millie sudah melayang di udara dan siap mendarat di pipi Esar dengan sangat kencang, tapi belum sempat tangan itu mendarat di pipi Esar, Esar sudah lebih dulu menangkap tangan Millie.
Dengan wajah seriusnya, Esar kembali menarik tangan Millie dan membawa Millie keluar dari lobi.
Langkah kaki Esar terus berjalan keluar dari gedung apartemen tapi bukan ke parkiran melainkan ke halte bus.
"Esar, lepas!! Loe gak takut kalau suruhan Aki gue ngasih laporan kalau loe ngasarin gue kayak gini!!!" Teriak Millie.
"Gak!!! Jangan kan Aki loe, buyut loe aja gue hadepin!!" Balas Esar songong.
"Iikh nih orang bener-bener minta di tonjok yah!!!" Teriak Millie lagi.
"Tonjok aja kalau bisa!!! Sebelum tangan loe itu nonjok gue, bibir gue udah nyampe duluan ke bibir loe!!! Mau loe, gue cium lagi?! Lebih rame nih disini!!" Ancam Esar.
Millie pun melihat ke sekelilingnya dan benar saja kondisi halte bus sangat lah ramai, karena ini masih jam orang pulang bekerja.
Bus pun datang, tanpa tau kemana tujuan bus itu, Esar kembali menarik tangan Millie dan masuk ke dalam bus.
"Loh... loh... kok kita naik, kita mau kemana?" Tanya Millie.
"Udah diem, pokoknya kita ikut aja kemana bus nya pergi!!!" Jawab Esar santai. Hati dan pikirannya yang sedang kacau balau karena Millie membuat ia tak berpikiran jernih. Yang ada di pikiran Esar saat ini hanya ingin membawa Millie sejauh mungkin hingga Millie tak bisa lagi kabur.
Di dalam bus, mereka harus berdiri karena semua tempat duduk sudah penuh.
Baru beberapa detik di dalam bus, ada pria dengan tubuh tinggi besar berkepala botak berjalan ke arah mereka.
"Mill, loe ada uang tunai gak? Kernetnya udah mau minta ongkos tuh." Bisik Esar sambil matanya terus menatap pria itu.
"Kernet?" Tanya Millie bingung. Karena setaunya hanya bus yang di negaranya yang memiliki kernet. Dan cara pembayaran ongkos bus yang mereka naiki juga melalui uang digital.
Millie mengikuti arah pandang Esar.
"Bodoh!!" Lirih Millie pelan, namun masih bisa di dengar oleh Esar.
"Itu bukan kernet bodoh!! Di London mana ada kernet sih!!" Kata Millie lagi pada Esar.
"Oh.. kupikir kernet. Habis tampangnya nyeremin." Kata Esar.
Seketika rasa kesal Millie pada Esar menguar entah kemana karena kebodohan Esar.
"Begini nih kalau main nya kurang jauh!!!" Dumel Millie.
💋💋💋
Setelah lima belas menit dalam perjalanan, bus yang Millie dan Esar tumpangi sampai juga di pemberhentian terakhir.
"Kita dimana ini?" Tanya Esar.
Millie memutar bola matanya malas.
"Makanya kalau gak tau kemana tujuannya, gak usah sok-sok naik bus!!!" Geram Millie.
"Habisnya loe bikin gue kesel sih!! Bikin gue gak bisa mikir jernih!!!" Balas Esar.
"Udah sana tanya sama orang, biar kita bisa pulang, badan gue udah lengket banget ini!!" Perintah Millie.
Mereka pun berjalan mencari orang yang bisa membantu mereka untuk pulang. Tapi baru beberapa langkah tiba-tiba saja langit London menurunkan hujan.
Millie dan Esar pun berlari mencari tempat untuk berteduh.
Mereka berteduh di halte bus, dimana hanya ada mereka berdua yang berteduh disana.
Karena hujan sangat deras, Millie pun menarik paksa long coat yang Esar pakai.
"Iikh apaan sih loe!!" Protes Esar.
"Gue kedinginan be•go!!! Pinjem long coat loe!!" Balas Millie.
"Siapa suruh loe gak pake long coat!!" Omel Esar.
PLAAAK. Millie memukul lengan Esar karena si Mr. Bloon benar-benar tidak peka.
"Biasanya tuh kalau lagi hujan begini, cowok tuh langsung inisiatif kasih jaket atau apalah yang bisa menghangatkan tubuh cewek!! Ini malah di omel-omelin!!" Omel Millie.
"Itu kan mereka bukan gue, kalau gue kasih long coat gue ke loe, terus gua dong yang kedinginan!!" Balas Esar.
"Dasar Mr. Bloon!! Udah be•go, gak peka, gak mau berkorban!! Beda banget sama Alpha!! Makan tuh long coat loe!!" Omel Millie.
Millie pun ngambek, ia berjalan menjauhi Esar dan duduk di pojok tempat duduk halte itu.
Tau Millie ngambek, Esar pun mendekati Millie, lalu menarik Millie dalam pelukannya dan menutupi tubuh Millie yang kedinginan dengan long coat yang masih menempel di tubuhnya.
"Maksud gue tuh gini Mil. Jadi kita berdua bisa sama-sama hangat." Ucap Esar.
"Awas akh, gue ngambek!!!" Balas Millie.
"Ngambeknya pending dulu sampe hujannya berhenti. Nanti kalau loe sakit, gue juga yang repot." Balas Esar.
Mau tak mau Millie pun harus mau berada dalam pelukan Esar.
Satu menit... Dua menit... Tiga menit, mereka terdiam, tak ada yang berani membuka pembicaraan, dan suasana ini benar-benar membuat Millie dan Esar sama-sama gugup. Sangking gugupnya, jantung Esar sampai berdegup kencang dan detak jantung Esar itu bisa Millie dengar.
Tak ingin Millie tau kegugupannya, Esar pun membuka pembicaraan.
"Mill..."
"Hemh.."
"Hubungan loe sama Alpha gimana?" Tanya Esar.
"Duuh... nih mulut kenapa nanya gitu sih!! Harus nya kan loe minta maaf dulu, mumpung momennya lagi bagus!" Dumel Esar dalam hati.
"Urusannya sama loe apa?" Millie malah balik bertanya dengan nada ketus.
"Gue kan cuma nanya aja. Gue lihat hubungan kalian makin deket." Jawab Esar.
"Hubungan kita baik. Dia juga baik. Walaupun dia orangnya nyeleneh, tapi gue suka." Balas Millie.
Mendengar Millie memuji Alpha dan mengatakan kata suka, api kecemburan di hati Esar pun memercik. Tapi ia mencoba untuk menahannya.
"Kalian udah pacaran?" Tanya Esar penasaran. Meski sedang cemburu, tapi tetap saja ia penasaran dengan hubungan Millie dan Alpha yang sebenarnya.
"Kenapa sih loe nanya-nanya terus? Bukannya kita udah saling sepakat untuk gak ikut campur urusan pribadi?" Tanya Millie kesal. Ia pun keluar dari pelukan Esar.
"Gue minta maaf Mill, gue tau, gue salah. Gue nyesel gak mau dengerin omongan loe dan gue juga nyesel bentak loe waktu itu. Please Mill, maafin gue." Mohon Esar.
Millie tak menjawab, ia malah membuang pandangannya dari Esar.
"Mill.." Esar menarik wajah Millie agar Millie kembali memandangnya.
"Maafin gue, gue janji mulai sekarang akan nurut sama kata-kata loe. Gue akan percaya dengan semua yang loe bilang. Gue gak bisa jauh dari loe Mill, gue gak mau kehilangan loe." Kata Esar lagi.
"Oke gue maafin loe, tapi untuk sedekat kayak dulu lagi, kayaknya gue gak bisa." Jawab Millie.
"Kenapa? Apa gara-gara Alpha? Apa loe lebih milih Alpha di banding gue?" Tanya Esar emosi.
"Kok loe emosi sih!! Baru di maafin, udah ngajak ribut lagi!! Sana loe!! Nyesel gue maafin loe!!" Bentak Millie kesal.
"Maaf, bukan maksud gue ngajak ribut. Gue hanya gak bisa terima kalau loe lebih milih deket sama laki-laki lain daripada gue."
"Kenapa, loe cemburu? Loe suka sama gue?" Tanya Millie to the point.
Esar menatap dalam bola mata biru kehijauan itu.
Bersambung...