Partner In . . .

Partner In . . .
Na Thur 13



Setelah melewati perdebatan yang sangat sengit hanya karena perkara Arthur yang ingin mengantar Nancy pulang, akhirnya Nancy pun mengalah dan mau diantar pulang oleh Arthur.


"Sini gue aja yang nyetir!" Pinta Nancy.


"Masa loe yang nyetir sih!!! Kan ceritanya gue yang nganter loe pulang!!!" Balas Arthur.


"Loe kan gak tau rumah gue dimana. Gue juga males nunjuk-nunjukin arah terus." Balas Nancy.


"Ish!!! Loe tuh bisa diem gak sih!! Perasaan waktu di London loe gak sebawel ini!!!" Dumel Arthur.


"Kalau loe males, yah tinggal pasang GPS lah oneng!!!" Lanjut Arthur.


Nancy pun memasang memasukkan alamatnya ke GPS lalu menempelkan ponselnya ke stand holder yang ada di dashboard mobil.


Sambil menyalakan mesin mobilnya, Arthur melirik sesaat alamat yang ada di GPS. Karena hanya melirik sesaat, Arthur tidak sadar kalau alamat yang Nancy masukkan sama dengan alamat yang Dewa datangi.


Arthur pun melajukan mobilnya keluar dari area mall.


Saat mobilnya sudah beberapa meter meninggalkan gedung mall, Arthur baru membaca jelas alamat yang Nancy masukkan.


"Loh ini kan daerah yang di datengin si Dewa." Gumam Arthur dalam hati.


"Bagus deh, biar sekalian gue cari tuh anak!!" Gumam Arthur lagi.


💋💋💋


Tak sampai setengah jam, akhirnya mobil yang Arthur kendarai sampai di gapura kompleks. Arthur pun menghentikan mobilnya karena bingung harus mengambil arah yang mana. Sedangkan yang punya alamat sedang tertidur pulas.


"Cy.. Cy!!!" Arthur menepuk pelan lengan Nancy.


"Eugh..." lenguh Nancy sambil mengerjapkan matanya.


Mata Nancy celingak-celinguk melihat sekelilingnya.


"Kita dimana ini?" Tanya Nancy yang masih belum sadar seratus persen.


"Udah sampe depan gapura komplek rumah loe. Rumah loe yang mana? Gue ngambil kiro atau kanan nih?" Tanya Arthur.


"Lurus aja, nanti di blok C baru belok kanan." Jawab Nancy.


Arthur pun kembali menjalankan mobilnya seperti petunjuk yang Nancy berikan.


"Nah, itu tuh rumah gue." Tunjuk Nancy.


Arthur pun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Nancy.


"Kecil kan?" Tanya Nancy meminta pendapat Arthur tentang rumah orangtuanya.


"Gak akh. Gede kok. Yang lebih kecil dari rumah loe kan masih ada!" Balas Arthur.


Nancy pun melepas seatbeltnya.


"Makasih doang?" Tanya Arthur yang berharap Nancy mengajaknya untuk singgah.


"Terus mau loe apa? Minta ongkos?!" Balas Nancy.


"Sialan loe!! Emang gue taksi online apa!!!" Protes Arthur.


"Loe gak mau ngajak gue singgah gitu?" Kata Arthur lagi.


"Gak!! Udah malem!!" Tolak Nancy mentah-mentah.


"Cih!!! Gak tahu terimakasih loe!!" Balas Arthur tak suka.


Nancy tak membalas dan tetap turun dari dalam mobil tanpa menawarkan Arthur untuk singgah di rumahnya.


Tapi bukan Arthur namanya kalau langsung menyerah. Begitu Nancy keluar dari dalam mobil, Arthur pun juga ikut turun dari dalam mobil.


"Loe mau ngapain?" Tanya Nancy ketus saat Arthur ikut turun.


"Gue kebelet Cy. Numpang toilet yah." Jawab Arthur beralasan.


"Tuh disitu ada pohon mangga, sembur aja disitu!!" Balas Nancy sambil menunjukkan pohon mangga milik tetangga Nancy.


"Masalahnya gue bukan mau ken•cing Cy, gue mau bo•ker!" Balas Arthur.


"Haish!!! Ngerepotin aja loe yah!!!" Gerutu Nancy.


"Ya udah ayo!!" Akhirnya Nancy mengijinkan Arthur untuk ikut dengannya masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di teras rumah, Nancy mengernyitkan keningnya saat melihat ada dua pasang sepatu selop pria dan sendal wanita. Kalau dilihat dari model sepatu selop dan sendalnya, orang yang memakai itu pasti bukan anak muda. Dan sepasang sendal gunung pria, yang bisa ditebak pasti yang memakai sendal gunung itu pria semuran Nancy dan Arthur.


"Lagi ada tamu dirumah loe?" Tanya Arthur yang juga melihat tiga pasang alas kaki di teras rumah.


Nancy menggedikkan bahunya.


"Ya udah yuk masuk." Ajak Nancy.


Dan mereka pun memasuki rumah Nancy.


"Kak!! Gawat Kak!!" Ucap Nanda yang memang sedang menunggu kedatangan Nancy diruang tamu.


"Gawat kenapa?" Tanya Nancy. Tak bisa di pungkiri jantungnya kini sudah berdegup sangat kencang. Ia takut terjadi apa-apa pada Xena dan tiga pasang alas kaki itu adalah milik orangtua Xena.


"Mending Kakak ke ruang tengah aja deh langsung." Balas Nanda.


"Ada apa Cy?" Tanya Arthur penasaran.


Nancy menggedikkan bahunya tanda kalau ia juga tidak tahu. Nancy pun berjalan menuju ruang tengah. Dan Arthur yang kepo mengekori Nancy dari belakang.


Bersambung...