
Acara pengucapan janji suci dan resepsi pun usai.
Para sanak saudara dan tamu undangan pun juga sudah berpulangan.
"Ini." Papa Dewa memberikan amplop putih yang berisi dua tiket bulan madu ke Bali selama satu minggu pada Dewa.
"Ini apa Pah?" Tanya Dewa sambil mengambil amplop putih itu dari tangan Papa-nya.
"Tiket bulan madu untuk kalian." Jawab Papa Dewa.
"Engg.." Tahu Dewa akan menolak tiket bulan madu itu, cepat-cepat Xena merampas tiket itu dari tangan Dewa.
"Makasih Papa mertua." Ucap Xena dengan senyum sumringah yang mengembang di bibirnya.
Dewa membulatkan matanya dan mengeraskan rahangnya menatap Xena.
Tahu Dewa sedang marah, bukannya takut Xena malah menjulurkan lidahnya kecil pada Dewa.
"Ya sudah ayo kita pulang dulu. Kalian kan harus mempersiapkan barang-barang kalian." Ucap Papa Dewa.
Papa Dewa pun berjalan lebih dulu keluar dari gedung resepsi.
"Bisa giβ’la gue nih satu minggu sama titisan Tante Lala. Jangan-jangan tengah malem nih cewek berubah jadi palasik!!" Gumam Dewa dalam hati.
Tak ingin pergi ke Bali hanya berduaan, Dewa pun berniat mengajak Arthur dan Nancy.
Mata Dewa pun berkeliling mencari keberadaan Arthur dan Nancy.
Tidak ada. Dewa tidak menemukan sepasang pengantin baru yang nikahnya nebeng di pernikahannya.
Lalu kemana sepasang pengantin baru itu?
πππ
Ternyata Arthur dan Nancy sudah ada di bandara sekarang.
Saat acara resepsi berlangsung, dimana para tamu sedang asyik bercengkrama dengan satu sama lain, disitulah Arthur dan Nancy mengendap-endap kabur. Ah.. lebih tepatnya Arthur mengajak Nancy untuk kabur dari tempat resepsi.
Dan gerak-gerik Arthur itu ternyata sudah di perhatikan Papa Arthur, Papa Arthur pun menghampiri Arthur, tapi siapa sangka bukannya mencegah anaknya kabur dari acara resepsi, Papa Arthur malah memberikan tiket bulan madu ke Bali pada Arthur. Tiket yang memang sudah Papa Arthur siapkan jauh-jauh hari untuk bulan madu Arthur dan Nancy.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Arthur pun menerima tiket itu dan langsung tancap gas ke bandara dengan pakaian yang menempel ditubuh mereka saat itu dan pastinya tidak membawa pakaian ganti apapun. Padahal niat awal Arthur hanya ingin membawa Nancy pulang ke apartemennya, tapi siapa sangka Arthur malah mendapat tiket bulan madu ke Bali, sepertinya ini adalah rejeki-nya Abang Jago milik Arthur.
"Gak usah. Loe lupa udah jadi istri gue sekarang? Pasti Bunda gak bakal nyariin loe lah. Udah yuk!" Balas Arthur sambil menarik tangan Nancy dan mereka pun berjalan menuju pesawat.
Sepertinya Arthur sudah tidak sabar untuk memperkenalkan Abang jago-nya pada Nancy.
πππ
Meninggalkan Arthur dan Nancy yang sudah berada dalam pesawat dan bahkan sekarang sudah mengudara. Dirumah orangtua Dewa, lebih tepatnya di kamar Dewa, ada Dewa dan Xena yang tak henti-hentinya berdebat perihal bulan madu.
"Kalau kamu gak mau pergi, ya udah aku sendiri aja!! Kamu cukup nganter aku kebandara terus kamu pergi deh entah kemana suka-suka kamu!" Ucap Xena.
"Ya gak bisa gitu lah!! Kalau ketahuan gimana!! Kalau gue gak pergi, loe juga jangan pergi!!" Balas Dewa.
"Cieee... gak bisa jauh dari aku yah?! Udah bucin yah sekarang?!" Ledek Xena.
"Naβ’jis!!!" Balas Dewa.
"Gue cuma gak mau ketahuan aja sama orang tua gue!! Kan bisa aja kalau orangtua gue ngirim mata-mata untuk ngintilin kita. Kalau mata-mata bokap gue laporan kalau gue gak ikut ke Bali kan berabe!!"
Kata Dewa.
"Terus apa bedanya kalau kita gak pergi ke Bali?!"
"Kalau kita berdua gak pergi kan gue bisa bilang kalau gue sibuk di showroom dan bengkel terus kita lebih nyaman honeymoon di apartemen gue!" Balas Dewa.
"Cih bukan honeymoon dong kalau cuma di apartemen! Gak mau!! Pokoknya aku mau ke Bali, titik!" Tegas Xena menolak usul Dewa.
"Bener-bener keras kepala loe yah!!" Geram Dewa.
"Iya. Emang kenapa? Blweeee." Balas Xena sambil menjulurkan lidahnya.
Dan itu membuat emosi Dewa semakin tersulut. Karena jarak mereka sangat dekat Dewa langsung menarik tengkuk Xena dan menggigit lidah Xena yang masih menjulur mengejeknya.
Xena tidak tinggal diam saat Dewa menggigit bibirnya, Xena juga membalas dengan menggigit bibir bawah Dewa.
Ceklek. Siapa sangka tiba-tiba pintu kamar Dewa terbuka.
Bersambung...