
Dan akhirnya pakaian untuk Millie pun dapat setelah masa pencocokkan hampir setengah jam. Padahal hanya satu set pakaian kantor yang Millie beli, tapi memakan waktu hampir setengah jam.
"Mill, beliin gue yah." Ucap Nancy yang tak mau melewatkan kesempatan emas ini. Makanya dari tadi ia bersabar menemani Millie memilah milih pakaian yang cocok untuk Millie.
"Ya udah cepetan." Jawab Millie.
Dan Millie pun duduk di kursi yang sama dengan Arthur.
"Udah?" Tanya Arthur.
"Belum. Tuh si Nancy masih mau nyari baju." Jawab Millie.
"Astaga... bukannya sekalian kek tadi." Gerutu Arthur.
"Enak aja, kalau tadi dia sekalian nyari baju untuk dirinya, yah gak bakalan fokus nyariin baju buat gue lah!!! Gimana sih loe!!!" Balas Millie.
"Loe kalau mau beli juga boleh. Nanti gue yang bayar." Ucap Millie.
"Serius?" Tanya Arthur kaget bercampur senang.
"Iya serius bawel. Emangnya selama loe berteman sama si Mr. Bloon itu, loe gak pernah di traktir barang branded apa?" Tanya Millie.
"Pernah sih, tapi masih bisa dihitung jari." Jawab Arthur.
"Kasihan banget loe. Ya udah sana pilih deh. Jangan lama-lama, gue udah laper soalnya."
"Dih.. giliran dia aja boleh lama-lama." Dumel Arthur dalam hati.
Arthur dengan cepat berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat pakaian laki-laki.
Setelah lima belas menit, Nancy dan Arthur pun telah mendapatkan pakaian untuknya. Mereka pun berjalan menuju kasir untuk membayar pakaian mereka.
"Total belanjanya tujuh puluh delapan juta." Ucap kasir wanita. ( Sudah di rupiahkan yah ceritanya.)
Millie pun mengeluarkan kartu hitam yang diberikan Aki Edwin padanya.
Kasir wanita itu pun mengambil kartu hitam itu dari tangan Millie dan menggesek kartu itu.
Pembayaran pun selesai.
Disaat Millie, Nancy dan Arthur keluar dari toko Herpes itu dengan hati yang gembira, di tempat lain ada yang sedang kebakaran jenglot karena melihat notifikasi m-banking di ponsel suaminya.
Siapa lagi orang yang kebakaran jenglot itu kalau bukan Nini Madam.
Jika saat ini di London sudah pukul setengah satu siang, berarti di negara tempat Aki dan Nini Madam berada sudah pukul setengah delapan malam. Saat ini Aki dan Nini sedang berada di ruang keluarga di rumah utama keluarga Adiguna bersama dengan Payo dan Maca serta Shine dan Fighter.
Aki yang sedang mengobrol dengan Shine dan Fight, serta Nini Madam yang sedang mengobrol dengan Maca sambil membuka lembaran majalah produk kecantikan, sedangkan Payo hanya menjadi kambing congek diantara keseruan dua kubu.
Tring. Bunyi notifikasi m-banking di ponsel Aki Edwin.
Aki Edwin yang sedang asyik bersenda gurau dengan Shine dan Fight tidak mendengar bunyi notifikasi m-banking di ponselnya. Justru Nini Madam lah yang mendengar. Karena penasaran dengan bunyi notifikasi ponsel suaminya, Nini Madam pun mengeluarkan jurus kang copetnya dan ponsel Aki Edwin pun berpindah tangan seketika.
Belum juga ponsel itu di buka, Nini Madam sudah melihat pesan dari m-banking yang tertera di layar ponsel suaminya.
"Astaga, tujuh puluh delapan juta!!!!!" Teriak Nini Madam.
Sontak, semua orang yang ada di ruang keluarga itu menoleh ke arah Nini Madam.
"Kenapa Mom?" Tanya Payo.
Nini Madam yang tidak tau kalau itu hasil transaksi Millie mengira kalau kartu debit suaminya itu dipakai wanita lain. Nini Madam pun memberikan tatapan tajam pada Aki Edwin.
"Kayaknya bakal mau ada perang deh Fight. Kabur yuk." Bisik Shine pada adik bungsunya.
"Gak akh. Seru kak, tontonan gratis." Balas Fighter.
Shine menutup mata, menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban adiknya.
"Kenapa bisa ada pemberitahuan transaksi tujuh puluh delapan juta? Siapa yang udah make kartu debit mu?!" Tanya Nini Madam.
"Oh... itu..." belum juga Aki Edwin selesai bicara, si provokator Payo langsung menyela kata-kata Aki Edwin.
"Paling juga simpenannya Daddy, Mom." Sela Payo.
Makin membelalak saja mata Nini Madam.
"Kamu punya simpanan?" Tanya Nini Madam dengan tatapan mengintimidasi.
Kesal karena Payo mengompori Nini Madam, Aki Edwin mengambil majalah yang ada di tangan istrinya dan menggulungnya.
PLAK. Aki Edwin pun memukul punggung Payo tidak terlalu keras.
"Hahahaha." Bukannya merasa bersalah Payo malah tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Nini Madam makin kebakaran jenglot dan Aki Edwin ketakutan.
"Simpanan apa dulu Mom, emangnya cuma perempuan aja yang bisa di kategorikan simpanan. Kan bisa aja, mobil, motor, kapal pesiar, helikopter, jet pribadi." Kata Payo.
"Kayak Payo dong, simpenannya mobil sama motor sport." Celetuk Fighter membalas kelakuan Payo nya karena sudah membuat sang Nini kebakaran semua bulu yang tumbuh di tubuhnya.
Mendengar celetukan Fighter, jelas saja Payo langsung memberi tatapan tajam pada anak bungsunya itu.
Melihat Payo nya melotot kepadanya, Fighter pun menyengir kuda sambil mengangkat dua jari membentuk huruf V kepada sang Payo.
"Jadi tujuh puluh delapan juta ini apa?" Tanya Nini Madam lagi.
"Sini ponselnya biar Daddy lihat." Ucap Aki Edwin.
Nini Madam pun memberikan ponselnya pada sang suami.
Begitu ponsel berada di tangan Aki Edwin, Aki Edwin pun langsung membuka password ponselnya dan melihat detail transaksi.
"Ini mah Millie yang belanja Mom." Jawab Aki Edwin setelah melihat detail transaksi.
"Nih lihat, ini tuh dari toko Herpes yang ada di London." Kata Aki Edwin lagi.
"Yakin itu kerjaannya Millie? Bukan kerjaan wanita simpanan kamu?" Tanya Nini Madam menyelidik.
"Ngomong apa sih kamu!! Kalau gak percaya, biar aku telpon Millie."
Tau suaminya ingin menelpon cucu tertengilnya, cepat-cepat Nini Madam memeluk tubuh Aki Edwin. Karena Nini Madam tau kalau suaminya sudah berkomunikasi dengan Millie pasti suaminya itu akan melupakan dirinya. Padahal hari ini rencananya Nini Madam ingin mengajak sang suami untuk tidur di apartemen mereka, dan mengajak sang suami melakukan ritual pengencokkan pinggang.
"Gak usah Dad, gak usah. Mommy percaya kok sama Daddy. Maaf yah Mommy udah ngeraguin kesetiaan Daddy." Rayu Nini Madam.
Melihat drama yang sedang dimainkan Nini Madam, semua yang ada di ruang keluarga itu kompak menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Drama apalagi ini..." gumam Shine dalam hati.
"Cih.. dasar ratu drama!!! Bilang aja takut tuh aki-aki nelpon si Millie, makanya langsung berubah 360°." Decih Payo dalam hati.
"Kok gue dejavu yah ngeliat adegan ini." Gumam Fight dalam hati. Karena ia sangat sering melihat adegan kakak pertamanya bermanja-manja dengan sang Aki membuat Fight lupa kalau adegan yang sedang ia lihat sekarang ini juga biasa dilakukan Millie, memeluk sang Aki sambil memberi rayuan maut dengan nada manjanya.
"Gak Mommy, gak Millie sama aja." Gumam Maca dalam hati.
💋💋💋
Meninggalkan keluarga Cemar Lah yang sedang sibuk bergumam dalam hati mereka masing-masing, di London tepatnya di perusahaan IYG Archie & Properteam, ada Esar yang sedang mondar-mandir di dalam ruangannya sambil memegang ponselnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang waktu setempat, Arthur yang keluar ruangan dari pukul setengah dua belas siang karena ingin membuang sisa-sisa sari makanan, sampai sekarang tidak kembali-kembali keruang kerjanya.
Esar pun menghubungi Arthur dan ternyata, Arthur sedang bersama Millie dan Nancy di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari toko Herpes tadi.
Tau sang sahabat sedang bersama Millie, Esar pun gusar. Bukan gusar karena cemburu melainkan gusar karena takut mulut Arthur keceplosan memberitahu pada Millie tentang mereka yang semalam berkonspirasi membohongi Millie agar bisa makan malam bersama Jasmine.
Esar pun berulang kali menghubungi Arthur agar Arthur cepat kembali ke kantor dan mengancam akan memotong gaji Arthur dan menambah masa training Arthur yang seharusnya tiga bulan, menjadi sembilan bulan. Tapi sayangnya Arthur lebih takut dengan Millie ketimbang dengan Esar. Tak ingin jam makannya di ganggu dengan suara ponsel karena panggilan dari Esar, Arthur pun langsung menonaktifkan ponselnya.
"Jadi Thur, sekarang si Mr. Bloon itu udah jadian sama si Jas Ujan?" Tanya Millie sambil menyantap makanannya.
"Gak tau. Kayaknya hampir." Jawab Arthur sambil menyantap makan siangnya.
"Menurut loe si Jas Ujan gimana?" Tanya Millie lagi.
"Astaga. Gak Esar, gak Millie, sama aja!!! Sama-sama gak bisa ngebiarin gue makan dengan tenang. Gue nonaktifin ponsel gue biar makan siang gue gak di ganggu Esar, eh... malah sekarang gue di ganggu si Nyai Kompeni dengan pertanyaannya." Gerutu Arthur dalam hati.
"Gimana apanya?" Arthur malah balik bertanya pada Millie.
"Yah orangnya lah. Menurut loe, dia itu perempuan baik-baik gak?"
"Kok loe tanya sama gue? Bukannya intuisi loe lebih tajem dari pada jarum pentul yang dipake buat nyantet?"
"Loe kan cowok. Yah, walaupun loe sebelas dua belas sama si Mr. Bloon, setidaknya kalau soal ngeliat cewek bener atau gak, kan loe lebih pinter dari si Mr. Bloon, yah... itupun kalau loe mandangnya gak sambil horny."
"Sialan loe!!! Loe pikir gue cowok apaan yang ngeliat cewek langsung horny!! Predator kali gue!!" Dumel Arthur.
"Kalau menurut gue sih, Jasmine itu perempuan gak beres. Kelihatan banget waktu semalem kita makan malam bareng sama dia, gue ngeliat dia polosnya tuh kayak di buat-buat." Jawab Arthur dengan santainya. Ia tidak sadar kalau dirinya sudah membongkar rahasia konspirasinya sendiri.
"Astaga. Yang sana Mr. Bloon, yang ini Mr. Be•Go!!! Cocok emang mereka berdua!!" Gerutu Nancy dalam hati karena mendengar jawaban Arthur.
"Apa loe bilang? Semalem kalian makan malam bareng sama si Jas Ujan?" Tanya Millie dengan tatapan horornya.
DUAAAAAR. Otak Arthur langsung kejang bagai tersambar petir mendengar pertanyaan Millie.
Bersambung...