
Mendengar suara orang ambruk, Millie dan Nancy pun berdiri dari tempat duduknya.
"Siapa Thur?" Tanya Millie sambil berjalan menuju pintu.
Belum juga sampai di depan pintu, tiga orang bertopeng itu sudah masuk ke dalam apartemen.
"Siapa kalian?!" Teriak Millie.
"Ikut kami!!" Perintah salah satu orang bertopeng itu.
"Jangan mimpi!!" Dengan berani Millie menolak perintah orang itu.
"Jangan menolak!! Satu teman kalian sudah ada di tangan kami. Jadi ikut lah saja dengan kami."
"Siapa yang dia maksud? Apa jangan-jangan Esar?!" Bisik Nancy.
"Teman kami yang mana yang kau maksud, hah!!" Tanya Millie.
Salah satu dari ketiga orang itu pun mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan video dengan temannya yang lain yang sedang menyandera Esar.
Mata Millie dan Nancy membelalak sempurna saat melihat Esar sudah duduk di kursi dalam keadaan terikat, mata dan mulutnya juga sudah di tutup. Dari yang Millie lihat, Esar seperti sedang pingsan.
"Kok bisa sih Mill? Bukannya kalian punya bodyguard bayangan?" Bisik Nancy terheran-heran.
"Gue juga gak ngerti. Tapi yang jelas kalau mereka sampai berhasil nyulik Esar, itu tandanya mereka udah ngerencanain ini lama dan tau kapan titik lengah bodyguard bayangan kami." Jawab Millie.
"Hei, ayo cepat!!!" Bentak salah satu orang itu karena tidak sabar menunggu Millie dan Nancy untuk ikut dengan mereka.
"Ayo Cy, kita ikutin dulu mau mereka." Kata Millie.
"Kalau mereka mau bunuh kita gimana?"
"Gue rasa mereka gak akan berani. Karena kalau mereka mau bunuh kita, kenapa kita disuruh ngikutin mereka dulu. Kan bisa aja mereka langsung bunuh kita disini." Jawab Millie.
"Udah ayo. Percaya sama gue!!" Kata Millie lagi.
Millie dan Nancy pun mengikuti kemauan tiga orang bertopeng itu. Sedangkan Arthur, terpaksa di bopong oleh dua orang bertopeng.
Sebelum keluar dari apartemen Millie, tiga orang bertopeng itu menukar topeng mereka dengan kacamata hitam dan masker hitam serta topi kupluk hitam, setelah itu baru lah mereka keluar dari unit apartemen Millie.
Kini mereka berenam termasuk Arthur yang sedang pingsan sudah berada di dalam lift. Sebenarnya sih bisa saja Millie langsung menghajar tiga orang itu, apalagi setelah Millie perhatikan tiga orang itu sepertinya tidak membawa senjata tajam. Tapi Millie tidak melakukan itu, karena ia takut langkahnya yang gegabah akan membahayakan nyawa Esar.
Ting. Pintu lift terbuka.
Dengan sikap sebiasa mungkin, Millie, Nancy dan ketiga orang itu berjalan keluar dari lobi menuju parkiran.
Saat sedang berjalan menuju parkiran, dari kejauhan Millie melihat bodyguard bayangannya dan bodyguard bayangan itu juga melihat Millie.
Millie pun pura-pura menyelipkan anak rambutnya, tapi jari telunjuknya memberi kode yang hanya bisa di mengerti oleh para bodyguard bayangannya saja. Kode tanda kalau dirinya sedang dalam bahaya, tapi para bodyguard itu tidak boleh menyerang.
Melihat kode yang di berikan Millie, bodyguard yang melihat itu langsung memberi sinyal pada para bodyguard bayangan yang lainnya agar mengikuti Millie.
💋💋💋
Kini mereka sedang berada dalam perjalanan dimana Esar di sekap.
Tak ada tangan yang terikat dan mulut yang tersumpal kaos kaki busuk.
Millie dan Nancy di biarkan duduk tenang di jok belakang, sedangkan Arthur masih pingsan dan disandarkan ke pundak Nancy.
"Ini kita mau di bawa kemana?" Bisik Millie.
"Gak tau juga. Kita ikutin aja mau nya."
"Menurut loe, siapa yang udah buat gini ke Esar?" Tanya Nancy.
"Feeling gue bilang sih, ini kerjaannya Tuan Charles. Tapi gue gak tau juga, apa mungkin ada kompetitor lain yang dendam sama Uncle Irlan dan malah balas dendam ke Esar." Jawab Millie.
"Terus nasib kita gimana?"
"Loe bisa santai, gue gak bisa Mill. Gue tulang punggung keluarga, nasib keluarga gue gimana kalau gue kenapa-kenapa?." Jawab Nancy.
"Tenang aja, kalau loe kenapa-kenapa, perusahaan Aki dan Nini gue, pasti kebutuhan keluarga loe bakal di tanggung seumur hidup sama Aki, Nini, Payo dan Maca." Jawab Millie santai.
Nancy ternganga mendengar jawaban savage Millie.
Setelah berputar-putar hampir satu jam, akhirnya mobil yang membawa Millie, Nancy dan Arthur sampai juga di sebuah gudang tua di tengah hutan.
"Eugh...." Arthur melenguh sambil mengerjapkan matanya.
"Kita dimana ini?" Tanya Arthur.
"Loe tidur apa pingsan? Tau aja mobil udah nyampe!!" Dumel Nancy.
"Turun!!" Perintah salah satu orang bertopeng itu.
"Kita dimana sih ini?" Tanya Arthur masih bingung.
"Udah diem. Ayo turun!!" Jawab Nancy ketus. Sedangkan Millie hanya diam sambil menghitung orang-orang yang ada di gudang itu, agar dia bisa menyusun strategi untuk menyelamatkan Esar.
Mereka bertiga pun turun dari dalam mobil dan berjalan perlahan menuju gudang dengan pengawalan tiga orang bertopeng di belakang dan tiga orang bertopeng di depan.
KREEEEK. Bunyi pintu tua gudang yang tergeser.
"Esar!!" Teriak Arthur saat melihat sahabatnya sudah dalam keadaan memprihatinkan.
Perlahan mata Esar terbuka, lalu mendongakkan wajahnya untuk melihat Arthur, Millie dan Nancy.
Millie mengeraskan rahangnya saat melihat sahabat, partner sekaligus pria yang baru beberapa jam resmi menjadi pacarnya dalam keadaan kacau balau, di sudut bibir Esar juga terlihat ada darah kering, tanda kalau Esar sudah kena bogem oleh orang bertopeng itu.
"Apa mau kalian? Dan pada siapa kalian bekerja? Cepat katakan!!" Tanya Millie dengan tatapan membunuhnya.
Tak Tak Tak. Suara langkah sepatu pantofel pria yang berjalan ke arah mereka dari arah belakang mereka.
Sontak Millie, Arthur dan Nancy memutar tubuh mereka untuk melihat siapa orang yang berjalan ke arah mereka.
"Siapa dia?" Tanya Nancy pada Millie dengan suara pelan.
"Entah." Jawab Millie.
"Hai nona-nona, senang bertemu dengan kalian." Sapa laki-laki yang di lihat dari wajahnya, umurnya tidak jauh berbeda dari Millie, Esar, Nancy dan Arthur.
"Siapa kau!!!" Tanya Millie dengan tatapan membunuhnya.
"Kenalkan aku Clive, anak Tuan Charles. Yang perusahaannya kalian hancurkan!!!" Teriak Clive emosi.
"Cih.." decih Millie sambil tersenyum menghina.
"Hei Nona. Kenapa kau tersenyum begitu? Apa kau sedang menghina ku, hah!!!" Teriak Clive tidak suka pada Millie.
"Aku pikir mafia mana yang menyandera Esar, ternyata bocah ingusan yang melakukan ini!!" Ejek Millie lagi.
"Apa kau bilang, bocah ingusan!!" Teriak Clive semakin emosi. Dengan nafas yang memburu, Clive berjalan mendekati Millie dan hendak memberi pelajaran pada Millie.
Tapi Clive tidak tau, Millie bukan lah orang yang mudah di beri pelajaran. Malah Millie lah yang akan memberi pelajaran pada Clive.
Bersambung...
💋💋💋 Hai para kaum istri solehot, ayo mampir yuk di kamarnya Belva-Bams di alamat Ketika Aku Sudah Glow Up.
Nih, yang begini nih covernya..
Mampir yah..
Dan jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan kasih Like, Komen, Hadiah dan Vote. Terimakasih 🙏🙏🙏 💋💋💋