Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 50



Ketika ruangan sudah gelap gulita, Aki Edwin pun mengangkat bokongnya untuk pergi ke meja Millie.


"Mau kemana kamu? Duduk!!" Tau suaminya ingin pergi ke meja Millie, Nini Madam pun langsung menarik tangan Aki Edwin sampai suaminya itu duduk kembali.


Aki Edwin hanya bisa pasrah padahal dalam hatinya ia sangat tidak suka dengan acara lamaran malam ini. Bukan karena tema romantis yang Esar usung, tapi memang pada dasarnya Aki Edwin masih belum bisa melepas cucu pertamanya itu menjadi istri orang.


Tak lama Esar pun keluar dengan lampu sorot yang menyoroti langkahnya. Dengan sebuket bunga mawar merah di tangan kanannya serta microphone di tangan kirinya, Esar berjalan mendekati meja Millie.


"Mau ngapain dia?" Gumam Millie dalam hati saat melihat Esar berjalan mendekatinya dengan membawa sebuket bunga.


"Youselyne Millionaire Adiguna, nikah yuk." Ucap Esar to the point tanpa ada kalimat romantis sebagai pembuka.


Mendengar itu, Arthur dan Nancy sampai tepuk jidat. Padahal Arthur sudah susah payah mencari kalimat romantis untuk di jadikan kalimat pembuka. Dan sebelum Esar keluar dengan membawa bunga, Arthur terlebih dulu menguji Esar apakah Esar sudah hapal rangkaian kata romantis itu dan hasilnya Esar hapal. Tapi kenapa begitu berhadapan dengan Millie, Esar malah langsung ke intinya?


Apalagi alasannya kalau bukan gugup.


Sama seperti Arthur dan Nancy, semua keluarga yang datang pada malam itu kecuali Aki Edwin ikut geleng-geleng kepala mendengar Esar yang langsung meminta Millie menikah dengannya.


"Dasar anak itu, sok-sok an mau romantis!!! Kalau cuma bawa bunga aja, anak-anak di lampu merah juga bisa!!!" Dumel Aki Edwin.


"Mas, bunganya mas, beli mas. Ayo mas beli buat pacarnya, biar pacarnya makin sayang." Dumel lanjutan Aki Edwin sambil mengikuti gaya anak-anak di lampu merah yang menjual bunga saat malam minggu dan valentine tiba.


"Hush!!! Diem kamu!! Ini momen sakral!!" Omel Nini Madam.


"Kayak kamu dulu ngelamar aku romantis aja!!! Masih mending Esar bawa bunga, lah kamu!!" Lanjut Nini Madam mengomel.


Mendapat sindiran yang menohok sampai usus dua belas jarinya, Aki Edwin hanya bisa diam saja.


Kembali ke Millie dan Esar.


Millie ternganga mendengar lamaran Esar. Bukan karena terkejut atau senang melainkan karena merasa aneh. Aneh kenapa Esar melamar tidak seperti film-film romantis yang ia tonton.


Jangankan Millie dan semua keluarga, Esar sendiri pun merutuki kebodohannya karena lupa mengucapkan kata pembukaan.


"Loe kok diem? Mau gak?" Tanya Esar dengan nada paksaan.


"Apaan sih loe!! Loe ngajak nikah apa ngajak ribut? Kok nyolot gitu?" Omel Millie.


Eh... malah berdebat sekarang.


Melihat api emosi sudah mulai memercik dalam diri Millie, cepat-cepat Mama Nia dan Maca berjalan mendekati pasangan itu.


"Nyalakan lampunya... Nyalakan lampunya!" Perintah Arthur pada pelayan yang mengurus sekring lampu. Karena acara romantis yang sudah di rencanakan dengan matang ambyar seketika dan berganti acara adu mulut.


"Eeeh... kok jadi pada berantem sih?!" Ucap Mama Nia.


"Habis si Esar Aunty gak ada romantis-romantisnya. Masa iya ngajak nikah kayak orang ngajak pergi kekampus aja!!! Udah malah nyolot lagi!!" Jawab Millie.


"Kamu juga gimana sih? Bukannya kamu udah latihan? Masa ngomongnya kayak gitu?!" Bisik Maca.


"Esar juga gak tau Aunty, tiba-tiba aja ngebleng." Jawab Esar.


"Ya udah ulang. Tarik nafas, buang perlahan. Ayo kamu bisa." Ucap Maca menyemangati Esar.


Esar pun melakukan apa yang Maca arahkan. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya, tapi....


Pyuuuuut. Bukan dari mulut melainkan dari knalpot belakang.


"Iiikh... kok malah di buang dari situ!!!" Omel Maca sambil menutup hidungnya.


"Jo•rok kamu iiikh!!!" Dumel Millie saat mendengar bunyi kentut Esar.


"Sorry, kelepasan." Jawab Esar.


"Malu-maluin kamu ikh!!! Masa di momen kayak gini kelepasan!!" Timpal Mama Nia mendumel sambil memukul lengan Esar pelan.


Sedangkan di meja lain, ada kaum bapak-bapak yang menggelengkan kepalanya melihat acara lamaran yang berubah menjadi acara debat.


"Loe gak nurunin ilmu loe ke si Esar apa? Bisa-bisanya acara lamaran yang udah di rencanakan seromantis mungkin malah jadi acara debat." Tanya Payo.


"Tau gue juga bingung. Mungkin gara-gara ngadon kebanyakan pake helikopter kali makanya jadi oleng kanan otaknya tuh anak." Balas Papa Irlan.


Kembali ke Esar, Millie, Mama Nia dan Maca.


"Ekhem... ekhem.." dehem Esar sebelum membuka suara. Di banding harus kembali menarik nafas dan membuangnya lagi. Takut nafasnya salah jalan keluar untuk yang kedua kalinya.


"Mill..."


"Apa?!" Balas Millie ketus.


"Hish!!! Yang lembut dong jawabnya Mill!!" Omel Maca.


Sebenarnya ini sedang lamaran apa sedang latihan drama sih???


Millie memutar bola matanya malas.


"Iya Sar." Ulang Millie dengan suara lembut.


"Kita nikah yuk." Lagi dan lagi tak ada kalimat romantis mengawali lamarannya.


Mama Nia dan Maca serta Payo dan Papa Irlan pun kembali menghela nafasnya. Sepertinya tak ada harapan untuk acara lamaran romantis seperti yang sudah Esar rencanakan.


"Cih... sama aja!!" Decih Millie sambil memutar bola matanya malas.


Melihat itu, Nini Madam pun turun tangan. Ia berjalan mendekati Millie dan Esar.


"Berlutut!!" Perintah Nini Madam pada Esar.


Esar pun berlutut menuruti perintah Nini Madam.


"Arahkan bunganya pada Millie!!" Perintah Nini Madam lagi.


Esar pun mengarahkan bunganya pada Millie.


Nini Madam pun mengeluarkan ponselnya dan meminta petunjuk Si Embah GolGol.


"Nih baca!!" Kata Nini Madam sambil menunjukkan untaian kata yang di keluarkan Si Embah GolGol.


Esar pun mulai membaca.


Ada nama yang tertulis dalam hati, tapi belum tentu nama itu tertulis di atas buku nikah. Dan aku mau nama mu tertulis di keduanya.


Tahu kah kamu? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istri ku adalah Kamu. Karena syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Will you marry me?


Esar pun selesai membaca.


"Jawab!!!" Perintah Nini Madam dengan tatapan mengintimidasi.


"Masa kayak gitu!!" Protes Millie.


"Udah lah Mill, cepetan jawab." Timpal Maca.


"Mmmm..." Millie tampak berpikir.


"Yeaaay.. di terima!!" Teriak Nini Madam tiba-tiba padahal Millie belum menjawab apa-apa.


Mata Millie membelalak.


"Millie belum ngomong apa-apa Nini!!!" Protes Millie.


"Udah Nini tau kok apa yang mau kamu jawab." Balas Nini Madam.


"Selamat yah sayang." Ucap Nini Madam sambil memeluk Esar.


Nini Madam melototkan matanya pada Maca, Mama Nia, Payo dan Papa Irlan, kode pada para orangtua untuk memberi selamat pada Millie dan Esar sebelum Millie kembali ngoceh-ngoceh.


Mengerti akan kode yang di berikan Nini Madam, para orangtua pun memberi selamat pada Millie dan Esar lalu di susul Arthur dan Nancy.


Hanya ada satu orang yang tidak beranjak. Siapa lagi kalau bukan Aki Edwin. Aki Edwin memijat pangkal hidungnya melihat kelakuan istrinya yang ekstrim.


"Pemaksaan!!!" Lirih Aki Edwin.


Bersambung...