
Setengah jam kemudian.
"Eugh..." Nancy melenguh sambil mengerjapkan matanya.
"Jam berapa ini?" Lirih Nancy.
"Jam tujuh." Jawab Arthur dari sofa yang ada di depan ranjang.
Sontak Nancy menoleh ke arah Arthur lalu mendudukkan dirinya.
"Ngapain loe disitu? Gue kirain udah pergi sama selingkuhan loe!" Balas Nancy.
"Selingkuh apaan sih Cy! Orang mandi di bilang selingkuh!" Balas Arthur membela dirinya.
"Udah sana loe mandi, Mama sama Papa udah nungguin kita di bawah!"
"Mama sama Papa ada disini? Kapan datengnya?"
"Tadi pas loe tidur!"
Nancy pun turun dari tempat tidur dan berlari keluar dari dalam kamar dan turun kelantai bawah.
"Eh... mandi dulu!!" Teriak Arthur sambil mengejar Nancy. Tapi Nancy tidak memperdulikan Arthur dan tetap berlari menuruni anak tangga.
Sesampainya di lantai bawah, Nancy langsung ke ruang tengah dimana mertuanya sedang menunggu mereka.
"Mama..." teriak Nancy.
Sontak Mama Arthur yang sedang memainkan ponselnya menoleh kearah Nancy.
PLUG. Nancy langsung menghamburkan dirinya kedalam pelukan Mama mertuanya itu.
"Ma, Arthut jahat! Dia udah berani masukin selingkuhannya ke dalam kamar mandi Ma." Adu Nancy sambil menangis.
Mendengar itu Mama dan Papa Arthur langsung memberi tatapan tajam pada Arthur.
"Bohong!! Masa perkara Arthur ngunci kamar mandi Arthur dibilang selingkuh?!" Teriak Arthur membela dirinya.
Mama Arthur menghela nafasnya.
"Cup.. cup.. cup. Udah diem. Sini duduk dulu, jelasin sama Mama apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Mama Arthur sambil menggiring Nancy duduk di sofa.
Nancy dan Mama Arthur pun duduk di sofa, begitupun dengan Arthur.
"Sekarang jelasin sama Mama, kok bisa kamu punya pikiran Arthur selingkuh dan bawa selingkuhannya di kamar mandi? Memangnya kamu nemuin tanda-tanda Arthur selingkuh?" Tanya Mama Arthur.
"Arthur udah gak mau lagi deket-deket sama aku Ma, setiap aku mau deket sama Arthur, dia marah-marah. Bahkan tadi pagi yang biasanya Arthur gak pernah bangun duluan dari aku, pagi ini dia bangun duluan dari aku!"
"Terus kenapa loe tadi bangunnya cepet!! Kan biasanya gue yang bangun duluan!!" Balas Nancy.
"Ya karena loe gak bangun-bangun lah makanya gue jadi bangun gara-gara bunyi alarm!!" Balas Arthur tak mau kalah.
Dan perdebatan Arthur-Nancy pun terjadi.
"Stop! Stop! Stop!" Teriak Papa Arthur yang sudah tidak tahan dengan perdebatan Arthur-Nancy.
Arthur dan Nancy pun diam.
"Arthur, pergi beli testpack!" Perintah Papa Arhur.
Sontak Mama Arthur, Arthur dan Nancy pun menatap kaget Papa Arthur.
"Ngapain kamu nyuruh Arthur beli testpack?" Tanya Mama Arthur.
"Mama gak ngerasa de javu dengan keadaan ini?" Tanya Papa Arthur.
"Maksudnya?"
"Mama gak inget dulu waktu Mama hamil Arthur juga kayak gini? Suka ngintilin Papa kemana-mana, maunya nempel mulu, Papa tinggal ke kamar mandi aja langsung ngamuk-ngamuk?!"
"Masa sih Mama kayak gitu waktu hamil Arthur?" Balas Mama Arthur.
"Jadi maksud Papa, Nancy hamil gitu?" Tanya Arthur.
"Sepertinya. Kalau Papa gak salah tebak! Karena waktu Mama kamu hamil kamu, dramanya persis kayak Nancy." Jawab Papa Arthur.
"Cepetan Thur beli testpack! Mama jadi gak sabar!" Ucap Mama Arthur.
Arthur menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari tempat duduknya dan hendak ke lantai atas untuk mengambil dompet serta kunci mobilnya.
"Mau kemana kamu?" Tanya Papa Arthur.
"Mau ambil dompet sama kunci mobil."
"Gak usah! Ini pake uang Papa aja sama pake motor Papa!" Ucap Papa Arthur sambil mengeluarkan uang dari dompetnya lalu memberikan uang dan kunci motor pada Arthur.
"Beli-nya jangan cuma satu Thur, beli lima aja langsung." Kata Mama Arthur.
Arthur menganggukkan kepalanya sambil menerima uang dan kunci dari tangan Papa-nya lalu beranjak dari ruang tengah dan keluar dari dalam rumah. Sedangkan Nancy, ia masih menganga belum sadarkan diri dari rasa kagetnya saat Papa mertuanya menyuruh Arthur membelikan testpack untuknya.
Bersambung...