
Malam harinya.
Dirumah keluarga Nancy.
"Cy, kita keruang tengah yuk, ada yang mau Ayah bicarain." Ucap Ayah Nancy.
Nancy menoleh sejenak ke arah sang Bunda lalu ke arah dua adiknya kemudian ke arah Xena yang memutuskan menginap di rumah keluarga Nancy malam itu.
"Iya Yah." Jawab Nancy. Ayah dan Nancy pun berdiri dari kursinya lalu keluar dari ruang makan menuju ruang tengah.
Melihat Om dan sepupunya keluar dari ruang makan, si kepo Xena pun ikut keluar dari ruang makan menyusul Om dan sepupunya itu ke ruang tengah.
Sesampainya di ruang tengah Nancy dan sang Ayah pun duduk berhadapan di sofa sederhana. Tak lama Xena pun ikut duduk di sebelah Nancy.
"Ngapain ikutan ke sini? Cuci piring sana!" Omel Nancy.
"Jiwa kepo ku meronta-ronta." Jawab Xena berbisik.
"Cih." Decih Nancy sambil memutar bola matanya malas.
"Ada apa Yah?" Tanya Nancy.
"Langsung aja Cy. Sama seperti permintaan Ayah sebelum kamu ke London, Ayah mau kamu menikah dengan anak temen Ayah." Ucap Ayah Nancy.
Nancy menghela nafasnya kasar.
"Ayah nih apa-apaan sih, emang sekarang masih jaman apa jodoh-jodohin anak. Udah gak jaman lagi Yah." Balas Nancy.
"Kalau Ayah mau Nancy menikah, Nancy akan cari sendiri pasangan Nancy. Nancy gak mau di jodoh-jodohin sama anak temen Ayah." Tolak Nancy.
"Nunggu kamu nyari sendiri pasangan kamu lama dong Cy. Ayah pengen cepet-cepet nimang cucu."
"Oh.. jadi Ayah pengen cepet-cepet nimang cucu? Nanti Nancy bikin bayi tabung aja kalau gitu."
"Hush.. ngawur kamu!!! Bukan gitu juga maksud Ayah. Ayah mau kamu nikah, ngeliat ada laki-laki yang mengucapkan janji sucinya untuk mu di depan Ayah dan Bunda, menghadiri resepsi pernikahan mu dengan laki-laki yang akan menggantikan Ayah untuk menjaga mu."
"Kamu kenal kok sama temen Ayah itu. Atau gak gini aja, kalian kenalan dulu, pendekatan dulu. Anaknya baik kok, sopan, pinter juga." Ucap Ayah Nancy masih berusaha meruntuhkan pertahanan Nancy.
"Udah kak, kenalan aja dulu. Manatau ganteng dan cocok sama selera kakak." Bisik Xena.
Nancy pun menghela nafasnya.
"Ya udah, Nancy kenalan dulu sama dia. Tapi kalau Nancy gak cocok, jangan paksa Nancy ya Yah. Biar Nancy cari sendiri laki-laki pilihan Nancy." Jawab Nancy.
"Oke. Tapi kalau kamu emang gak cocok sama anak temen Ayah, Ayah mau pertengahan tahun depan kamu harus udah nikah dengan laki-laki pilihan kamu sendiri."
"Hah? Ya gak gitu juga lah Yah. Masa pertengahan tahun depan harus udah nikah?"
"Ayah gak mau tau. Titik." Jawab Ayah Nancy.
Ayah Nancy pun berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkan Nancy dan Xena di ruang tengah.
"Mampus gue!! Mau cari dimana laki-laki dalam waktu sedekat itu? Belum lagi perkenalannya." Lirih Nancy sambil menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
"Terima aja sih perjodohannya kak, gak mungkin lah Om ngasih laki-laki yang bibirnya sumbing, matanya juling, yang suka gonta-ganti pasangan, yang pengangguran. Pasti laki-laki terbaik yang Om kasih buat Kak Nancy." Ucap Xena.
"Tau apa kamu soal laki-laki? Laki-laki jaman sekarang itu biar jelek tapi belagu, apalagi yang ganteng, makin belagu. Dari luar alim, dalamnya zalim. Kita gak boleh percaya sama laki-laki yang kelihatan baik di luar. Kalau aku lebih milih laki-laki yang kelihatannya playboy tapi pas udah nikah dia tau cara menghargai istrinya dan meratukan istrinya. Dari pada laki-laki yang kelihatan baik di luar, tapi malah menelantarkan kita pas nikah." Balas Nancy.
"Ya udah, cari aja anak punk di mampang sana kalau gitu." Balas Xena.
"Ya gak gitu juga Xen!!!!" Geram Nancy sambil menoyor kepala Xena.
Nancy pun terdiam sesaat memikirkan cara untuk menguji laki-laki yang akan di jodohkan dengannya.
"Xen, aku ada ide." Ucap Nancy tiba-tiba sambil tersenyum penuh arti pada Xena.
Bersambung...