Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 51



"Saudara Gryson dan Saudari Millie, dengan ini saya nyatakan kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri." Ucap pemuka agama yang menikahkan mereka.


Ya, hari ini adalah hari pernikahan Millie dan Esar. Pernikahan yang di adakan sebulan sesudah acara lamaran.


Siapa lagi yang mengusulkan agar pernikahan Millie dan Esar segera di percepat kalau bukan Nini Madam. Dan karena Nini Madam yang menginginkan pernikahan Millie dan Esar di selenggarakan sebulan lagi, jadi Nini Madam lah yang mengurus semua persiapannya. Bagi Nini Madam itu tidak masalah, lebih baik repot dalam sebulan demi kembali merebut tahta tertinggi dalam hati Aki Edwin.


"Saudara Gryson, sekarang anda sudah boleh mencium istri anda." Ucap pemuka agama yang menikahkan Esar dan Millie.


Mendengar kata-kata sang pemuka agama, Millie langsung memberi tatapan tajam pada Esar sebagai kode larangan keras Esar mencium bibir Millie.


Bukan Esar namanya kalau ia memperdulikan tatapan tajam Millie. Esar pun langsung menyosor bibir Millie dan mengunyah bibir itu dengan lembut beberapa saat.


Meski Millie tak membalas kunyahan bibir Esar, tapi ia juga tak menolak. Bagaimana mau menolak kalau sekarang mereka menjadi pusat perhatian di tempat itu.


Setelah pengucapan janji suci yang sakral, mereka pun pindah ke outdoor dimana tempat resepsi segera di langsungkan setelah selesai pengucapan janji suci.


Setelah hampir tiga jam, resepsi pernikahan yang di adakan di outdoor dengan mengusung tema rustic itu pun selesai. Tamu-tamu yang kebanyakan kolega bisnis orangtua mereka dan para karyawan IYG Archie & Properteam akhirnya berpulangan.


Sebelum Esar dan Millie kembali ke apartemen dan para orangtua kembali ke hotel, Payo berjalan mendekati Esar yang sudah bersiap untuk pulang.


"Sar." Payo menepuk pundak menantunya itu dari belakang.


Esar pun menoleh.


"Ya Uncle."


"Kok manggilnya Uncle sih? Panggil Payo juga dong."


"Eh... iya Payo." Balas Esar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Melihat Payo menghampiri anaknya, Papa Irlan yang kepo pun berjalan menghampiri Payo dan Esar.


"Mau kemana loe?" Tanya Papa Igo.


"Mau ke Yordan. Nanti otak anak gue di cuci lagi sama si bule kampret itu!" Jawab Papa Irlan.


Papa Igo yang tidak mau ketinggalan pun mengikuti Papa Irlan.


"Ada apa ini?" Tanya Papa Irlan begitu sampai di tengah-tengah Payo dan Esar.


"Gak ada apa-apa. Gue cuma mau ngasih wejangan aja ke menantu gue ini." Jawab Payo sangat berwibawa.


"Sok ngasih wejangan loe!!!" Celetuk Igo.


"Diem loe!! Nanti loe juga ngerasain hal yang sama kalau anak gadis loe menikah." Balas Payo.


"Jadi Esar, kalau suatu saat nanti kamu udah bosen sama Millie, tolong bilang sama saya, pulangkan dia baik-baik pada saya, jangan pada Aki nya, karena kalau kamu bilang sama Akinya, itu sama aja kamu cari mati." Ucap Yordan. Diawal sok bijak tapi begitu di akhir, minta diinjak.


"Kalau itu gue juga tau." Gumam Esar dalam hati.


"Ya elah, gue kirain wejangan apa!!" Celetuk Papa Igo.


Payo menghela nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya, persis seperti orangtua yang sangat bijaksana.


"Karena kamu sudah menikah dengan Millie. Dan sebagai jaminan kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan Millie, ada baiknya kalau semua aset atas nama mu kamu alihkan menjadi atas nama Millie." Ucap Payo.


"Hey!!!! Apa gue bilang, pasti nih orang mau cuci otak anak gue!!" Protes Papa Irlan sambil memiting kepala Payo.


"Aaaa... lepas Lan!!" Payo memukul-mukul lengan Papa Irlan yang sedang memiting lehernya.


Papa Irlan pun melepaskan pitingannya.


"Gue kan cuma ngelakuin apa yang kita lakuin ke istri-istri kita. Dan itu berhasil kan buat kita bertahan dengan istri-istri kita." Ucap Payo.


"Oh... jadi kalian bertahan dengan kami gara-gara takut miskin, gitu?" Tiba-tiba saja suara Maca menggelegar dari belakang mereka.


Sontak ketiga bapak-bapak itu pun menoleh kebelakang. Ternyata Maca tidak sendirian. Maca berjalan bersama Mama Nia dan Mama Tia.


"Aku gak gitu sayang. Suer!! Yordan aja nih yang begitu." Ucap Papa Irlan ketakutan karena Mama Nia sudah memberi tatapan tajam.


"Aku juga gak gitu kok sayang. Aku malah kan yang ngasih semua aset aku ke kamu." Papa Igo yang juga diberi tatapan tajam pun cepat-cepat membela dirinya.


Sekarang giliran Payo.


"Maksud aku tadi tuh bukan...aaakh.." Belum selesai Payo melakukan pembelaan, Maca sudah menjewer telinga Payo.


"Ayo pulang!!" Teriak Maca sambil menarik telinga Payo.


"Aaakh... lepas sayang. Lepasin bentar!!! Aku belum selesai sama Esar."


Maca pun melepaskan jeweran telinga Payo.


Setelah Maca melepaskan jewerannya, cepat-cepat Payo mengeluarkan ponselnya dari kantong dalam sakunya.


"Berdiri yang bagus." Perintah Payo pada Esar.


"Payo mau ngapain?" Tanya Esar bingung.


"Udah lakuin aja!!"


Esar pun berdiri dengan tegak dan gagah.


Cekrek. Payo pun mengambil foto Esar.


"Sekarang keluarin ktp kamu, terus foto sama ktp kamu." Perintah Payo lagi.


Dan Esar pun menurutinya.


Cekrek. Payo kembali mengambil foto Esar yang sedang memegang ktp.


"Udah selesai." Ucap Payo.


"Untuk apa sih Dan?" Tanya Papa Irlan penasaran.


"Untuk jaminan aja." Jawab Payo.


"Jaminan apa?"


"Jaminan, kalau sampai anak loe macem-macem sama anak gue, gue langsung masukin foto sama data-data anak loe ke pinjaman online ilegal!!!" Jawab Payo.


Setelah mengatakan itu, Payo pun menarik tangan istrinya untuk pulang.


Payo dan Maca pun meninggalkan lima orang yang masih tercengang dengan kata-kata Payo.


💋💋💋


Kini Esar dan Millie sudah berada di apartemen Esar. Sedangkan Arthur, untuk sementara harus mengungsi di apartemen Millie. Sebenarnya pihak perusahaan ingin memberikan Arthur tempat tinggal, tapi Arthur menolak karena rencananya, ia ingin resign menjadi asisten Esar dan pulang ke negaranya.


Bukan karena Arthur iri dengan Esar yang sudah menikah, tapi karena waktu Arthur hanya tinggal seminggu lagi berada di London karena Arthur harus memenuhi permintaan orangtuanya yang ingin dirinya menikah dengan wanita pilihan mereka.


Kembali ke Millie dan Esar.


Waktu sudah masih menunjukkan pukul tujuh malam. Kini Millie dan Esar berada dalam kamar yang ada di lantai atas.


"Sar..."


"Hemh.."


"Kita suruh Nancy disini aja yah. Gue gak tenang ngebiarin mereka cuma berdua di apartemen."


"Biarin aja sih Mill, udah pada gede ini. Lagian kalau Nancy disini, emang kamu gak kasihan gitu sama Nancy yang telinganya harus ternoda dengan suara-suara kita?"


Millie paham apa yang Esar katakan, meski belum pernah melakukannya, tapi Millie bukanlah wanita polos yang tidak mengerti apa yang Esar katakan.


"Kamar ini kan pake peredam." Jawab Millie. Karena mereka sekarang memakai kamar yang ada di atas.


"Lagian gue lagi dateng bulan. Jadi gak akan ada suara goib yang keluar dari mulut kita." Jawab Millie ketus.


Tubuh Esar lemas seketika mendengar Millie yang sedang datang bulan.


"Ini Nini Madam ngatur tanggalnya gimana sih!!! Maunya di atur seminggu setelah Millie selesai datang bulan." Dumel Esar dalam hati.


"Kita kesebelah yuk!!!" Millie tiba-tiba menarik tangan Esar.


Mau tak mau Esar pun pasrah mengikuti kemauan Millie. Berada di kamar pun tidak akan membuat Casper bisa bergentayangan.


Bersambung...