
Tiga bulan kemudian.
London.
Hoeeek.. Hoeeeek..
Pagi ini Millie memuntahkan isi perutnya karena mencium aroma Esar. Padahal mereka sudah bersiap untuk berangkat ke kampus untuk konsultasi tesis.
"Stoooop!!" Teriak Millie saat Esar hendak mendekati Millie di wastafel kamar mandi. Sontak Esar pun berhenti ditempatnya.
Hoeeek.. Hoeeek. Millie kembali memuntahkan isi perutnya.
"Loe pake parfume apa sih? Kok bau banget?" Tanya Millie setelah merasa puas memuntahkan isi perutnya.
"Pake parfume yang biasa kok." Balas Esar.
"Masa sih? Kok beda banget bau-nya?!"
Esar mencium kemejanya.
"Gak akh, sama aja. Cium deh!" Suruh Esar dan hendak mendekati Millie.
Hoeeek... Hoeeek. Baru Esar melangkah satu langkah, Millie kembali muntah.
"Kayaknya loe musti ke dokter deh Mill!!" Ucap Esar.
"Gak akh, gue sehat kok!!"
"Sehat apaan muntah-muntah kayak gitu!"
"Gue muntah karena nyium parfume loe! Parfume loe bau banget!"
"Nah itu dia makanya kita harus ke dokter, dokter THT. Manatau aja di hidung loe ada polip yang membusuk."
"Sialan loe!!" Balas Millie sambil menciprat air ke arah Esar.
"Minggir loe!! Gue mau keluar!!" Ucap Millie agar Esar memberinya jalan.
Esar pun menjauh dari depan pintu kamar mandi, setelah Esar menjauh, baru lah Millie keluar lalu berjalan menuju meja riasnya untuk mentouch-up wajahnya dengan bedak padat.
"Ke rumah sakit yah?!" Bujuk Esar sambil berjalan mendekati Milie.
"Stooop!! Jangan mendekat!! Nanti gue mual lagi!!" Teriak Millie.
"Ya masa kita mau jauh-jauhan sih Mill?" Protes Esar.
"Ya mau gimana lagi!! Parfume loe bau!!" Balas Millie tak mau kalah.
"Ini pake parfume gue!!" Millie melempar parfumenya ke ranjang agar Esar mengambilnya disana.
"Bau cewek dong gue!!" Protes Esar.
"Biarin aja!! Kan bau istri loe sendiri!!" Balas Millie.
"Untung gue sayang!! Kalau gak udah pulangin loe ke emak-bapak loe!!" Gerutu Esar dalam hati. Ingat, hanya dalam hati!
"Yang banyak!!!" Perintah Millie saat Esar hanya menyemprotkan tiga kali.
"Udah akh segitu aja!!"
"Yang banyak gue bilang!! Sampe bau parfume loe gak terdeteksi lagi sama hidung gue!!"
"Ish!!" Geram Esar sambil memutar bola matanya malas. Mau tak mau Esar pun menyemprotkan parfume Millie berkali-kali ketubuhnya.
"Udah nih, coba cium!" Kata Esar.
Millie pun mendekati Esar sambil mengendus.
"Udah ilang kan bau parfume gue?" Tanya Esar.
Millie menganggukkan kepalanya.
"Ya udah yuk, telat nih kita!!" Ucap Esar.
Mereka pun mengambil tas mereka lalu keluar dari dalam apartemen.
πππ
Kini mereka sudah sampai di kampus.
Karena dosen pembimbing mereka berbeda, jadi sesampainya di kampus, Millie mencari dosen pembimbingnya dan Esar mencari dosen pembimbingnya.
Semua mahasiswa dan mahasiswi yang Esar lewati langsung menutup hidung mereka begitu Esar melintas. Karena apalagi kalau bukan karena bau parfume Esar yang sangat menyengat.
Bahkan ada beberapa mahasiswi yang mengejek Esar karena bau parfume Esar yang bau parfume perempuan.
Esar hanya bisa menghela nafasnya untuk memasok stok sabar mendengar ejekan yang memang tak langsung diajukan padanya tapi Esar dapat mendengar suara para mahasiswi itu berbisik-bisik mengejeknya.
Lain Esar, lain Millie.
Jika Esar bisa sabar, tidak dengan Millie. Melihat beberapa mahasiswi menggosipi suaminya hanya karena bau parfume Esar bau parfume perempuan.
Setelah melihat Esar masuk ke ruang dosen, Millie mendekati para mahasiswi yang sedang bergosip tentang suaminya.
"Apa yang kalian bicarakan?!" Tanya Millie dengan nada dan tatapan mata yang mengintimidasi serta tangan yang ia lipat di depan dada.
(Ceritanya pake bahasa inggris yah)
"Apa? Kami tidak membicaraka apa-apa!" Balas salah satu mahasiswi itu dengan raut wajah ketakutan.
Millie sudah sangat terkenal dikampus itu sebagai mahasiswi yang garang.
"Kalian tahu kan, laki-laki yang sedang kalian gosipi itu suami ku!! Berani sekali kalian menggosipinya!! Meliriknya saja tidak boleh, apalagi menggosipinya!! Mau ku roβ’bek mulut kalian, hah?!" Bentak Millie.
Para mahasiswi itu pun diam sambil menundukkan wajah mereka. Untung saja wajah Millie bule, kalau seandainya wajah Millie wajah Asia, pasti tidak akan ada yang takut dengan Millie.
Setelah puas memarahi para mahasiswi yang sedang menggosipi suaminya, Millie pun melanjutkan langkahnya mencari dosen pembimbingnya yang ada di gedung barat.
Bersambung...