
Pelayan pun memberikan menu makanan pada Xena dan Dewa.
Mereka pun membuka buku menu dan membaca satu persatu menu yang ada di dalam buku menu.
"Saya pesen nasi goreng gila sama es teh manis." Ucap Xena sambil mengembalikan buku menu pada pelayan.
Dewa ternganga mendengar pesanan Xena.
"Maaf Nona, restoran ini tidak menyediakan makanan Indonesia. Restoran ini hanya menyediakan makanan western." Jawab si pelayan masih sopan.
"Loh, di Amerika sana juga ada kok yang jual nasi goreng gi*la!! Masa iya, di negara sendiri restorannya gak ada yang jual nasi goreng gi*la!!" Protes Xena.
Dewa menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Tenderloinnya saja dua." Potong Dewa sambil mengembalikan buku menu pada si pelayan. Daripada Xena mengajak berdebat si pelayan, lebih baik Dewa segera memotong.
"Apa tidak sekalian anggur merahnya Tuan?" Tanya si pelayan.
"Tidak usah, itu saja." Jawab Dewa.
Pelayan pun keluar dari room itu untuk menyiapkan pesanan Dewa.
"Ngapain juga pesan anggur merah buat cewek model kayak gini. Nanti dia pikir sirup rasa anggur, terus sekali tenggak. Yang ada mabok dia nanti, gue juga yang repot!!" Gumam Dewa dalam hati.
"Kok kamu pesanin punya aku sih? Aku kan mau makan nasi!!" Protes Xena.
"Kalau kamu mau makan nasi, ya di rumah aja." Balas Dewa.
Xena memutar bola matanya malas mendengar jawaban Dewa.
💋💋💋
Setengah jam kemudian.
Tenderloin yang ada di piring Xena pun tandas, dengan kasar Xena pun meletakkan garpu dan pisau untuk memotong daging.
PRAAANG. Sampai menghasilkan bunyi yang sangat kencang seperti itu.
Sontak Dewa yang sedang menikmati makanannya kaget.
"Kamu kenapa?" Tanya Dewa.
"Gak pa-pa. Emang kenapa?"
"Iya aku marah. Tapi bukan karena kamu pesenin tenderloin, tapi gara-gara dagingnya kurang banyak!! Udah bayar mahal, dagingnya cuma seiprit. Coba kita makan sate tadi, udah sama gerobak-gerobaknya kebeli!!" Dumel Xena.
Dewa hanya bisa menghela nafasnya sambil geleng-geleng kepala. Lalu cepat-cepat melanjutkan makannya. Ia ingin cepat-cepat masuk ke pembicaraan inti dengan Xena. Satu jam lagi saja ia bersama dengan Xena, bisa-bisa ia terkena penyakit darah tinggi.
Kini makanan yang ada di piring Dewa telah tandas. Dewa pun menyilangkan pisau dan garpu diatas piring dengan sangat elegan.
"Gaya urakan begini, tau juga table menner." Gumam Xena dalam hati yang sedari tadi memperhatikan Dewa.
"Jadi kita langsung aja ke inti pertemuan ini." Ucap Dewa setelah selesai menyeka mulutnya.
Xena pun menganggukkan kepalanya setuju.
"Aku gak bisa menerima perjodohan kita." Ucap Dewa.
"Tunggu.. tunggu!!!" Balas Xena.
"Kenapa?" Tanya Dewa heran.
"Gak gitu konsepnya!!! Harusnya aku yang ngomong gitu duluan!!" Jawab Xena.
"Jadi kamu juga gak mau nerima perjodohan ini?" Tanya Dewa lagi.
"Ya iyalah. Siapa juga yang mau di jodoh-jodohin!! Tapi aku gak mau kalau kamu yang ngomong duluan!!! Harus aku yang ngomong duluan!! Masa iya cewek secantik aku di tolak sama cowok kayak kamu. Turun dong harga diri aku!! Harga minyak aja naik, masa harga diri aku turun!!" Jawab Xena seperti penyanyi rap.
"Cih.. gak ngaca nih cewek!!" Gumam Dewa dalam hati. Cukup dalam hati, karena kalau ia mengungkapkan hal itu, yang ada hanyalah perdebatan dengan Xena.
"Ya udah, cepetan ngomong!!" Kata Dewa mengalah.
Xena pun menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
"Aku gak mau nerima perjodohan ini." Ucap Xena.
"Oke deal." Balas Dewa dengan santainya lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Xena untuk saling berjabat tangan.
Xena pun menyambut uluran tangan Dewa dan mereka pun saling bersalaman.
"Deal." Ucap mereka bersamaan.
Bersambung...