
"Kamu salah!!! Yang mau Papa jodohkan dengan kamu itu, perempuan yang ada disebelah kamu." Jawab Papa Arthur.
Mata Arthur dan Nancy pun membulat sempurna mendengar kata-kata Papa Arthur.
Mendengar itu jelas saja hati Arthur jadi berbunga-bunga.
Tapi itu hanya sesaat, karena setelah itu kata-kata lanjutan sang Papa membuat dirinya menjadi lemas seketika.
"Tapi karena kalian menolak dan menyuruh para sepupu kalian yang pergi ke pertemuan malam ini, jadi para sepupu kalian saja yang Papa jodohkan." Kata Papa Arthur lagi.
Mendengar kata-kata lanjutan Papa Arthur gantian, kini Dewa dan Xena yang kaget. Mata mereka membulat dan mulut mereka menganga karena kaget.
"Kok jadi Dewa Om?" Tanya Dewa.
"Ya kan kamu yang datang ke acara pertemuan." Jawab Papa Arthur dengan entengnya.
"Tapi di pertemuan tadi Dewa sama Xena udah sepakat nolak juga Om." Ucap Dewa.
"Tuh Pah, mereka nolak kok." Timpal Arthur yang tak terima perjodohannya dengan Nancy dialihkan pada Dewa dan Xena.
"Mereka nolak kan mewakili kamu. Tapi setelah itu kan Dewa nganter nak Xena pulang. Berarti sebagai diri Dewa sendiri, Dewa nerima dengan perjodohan ini."
"Kapan Dewa ngomong gitu Om?" Tanya Dewa heran.
"Tadi kamu ngomong gitu kok, orangtua Nancy jadi saksi kok." Jawab Papa Arlan.
Ayah Nancy hanya menggelembungkan pipinya karena tahu kalau calon besannya itu sedang mengerjai Dewa dan Arthur.
Melihat wajah panik Dewa, ide jahil pun muncul di kepala Xena. Ia pun berniat untuk membalas dendam pada Dewa karena sudah menciumnya dan membiarkan dia membayar ongkos taksi.
"Iya. Tadi kamu juga bilang mau tanggung jawab sama aku." Tiba-tiba saja Xena membuka suaranya.
Sontak semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Xena.
"Tanggung jawab apa?! Emang gue ngapain loe? Jangan ngada-ngada loe!!" Protes Dewa.
"Kamu gak inget waktu kita di toilet mall tadi. Kamu nyium aku, terus kamu bilang mau tanggung jawab nikahin aku." Balas Xena tak mau kalah.
Xena tak menanggapi kegeraman Dewa dan malah meneruskan ide jahilnya.
"Malah rencananya besok atau lusa, kami mau ke Bandung, mau ngelamar Xena." Lanjut Xena.
Mata Dewa, Arthur dan Nancy membulat mendengar pengakuan Xena.
"Wa..." lirih Arthur sambil memberi tatapan penuh tanda tanya pada Dewa.
Dewa hanya membalas dengan menggelengkan kepalanya seolah ingin menjawab tanda tanya Arthur.
"Woah... Om gak nyangka sama kamu Wa. Kamu lebih dewasa dari Arthur." Ucap Papa Arthur.
"Om.. jangan dengerin kata-kata jelmaan Tante Lala ini Om. Dewa gak pernah ngomong gitu." Sanggah Dewa.
"Kok Kak Dewa gitu sih?! Kak Dewa jahat!!! Padahal Kak Dewa udah cium Xena, udah pegang ini, pegang ini, bahkan Kak Dewa juga udah...." Ucap Xena sambil pura-pura menangis dan menunjuk bagian dada dan area intimnya.
Mendengar Xena semakin ngawur berbicara, cepat-cepat Dewa membungkam mulut Xena dengan tangannya.
"Misi Om, kayaknya kita berdua perlu bicara empat mata deh." Izin Dewa. Dewa pun menarik Xena keluar dari ruang tengah.
Setelah Dewa dan Xena keluar, suasana ruang tengah menghening. Semua orang yang ada disana syok dengan pengakuan Xena.
💋💋💋
Dewa membawa Xena ke teras depan.
"Loe kok ngomong gitu sih di depan mereka? Loe tau gak kalau kata-kata loe beresiko tinggi!! Kita bakal di nikahin, tau gak!!" Omel Dewa.
"Tau." Balas Xena dengan entengnya.
Dewa menganga melihat Xena menjawab dengan entengnya dan raut wajah tanpa dosanya.
CLETAK. Dewa menyentil kening Xena, manatau saja Xena sekarang sedang kesurupan hantu perawan yang ngebet mau nikah.
Bersambung...